SENIN , 10 DESEMBER 2018

Demi IYL, Rela Mengayuh Becak ke Makassar

Reporter:

Editor:

faisalpalapa

Minggu , 02 April 2017 12:55
Demi IYL, Rela Mengayuh Becak ke Makassar

int

Usianya boleh usur. 68 tahun. Tapi semangatnya tak lekang oleh zaman. Ia seolah tak mengenal istilah “masa tua adalah waktu untuk beristirahat”. Baginya, selama fisik masih memungkinkan, maka tidak ada alasan untuk mengeluh dan berdiam diri.

Prinsip itulah yang dijadikan pegangan Abd Hamid, warga Kampung Maricaya, Kelurahan Letta, Bantaeng. Di usianya yang mendekati 70 tahun, ia masih terlihat bugar dalam menjalankan beragam aktivitas kesehariannya demi mengepulkan asap dapur keluarganya.

Setiap hari, kakek ini rela mengayuh becaknya di wilayah perkotaan Bantaeng. Selain memuat penumpang yang menggunakan jasa becaknya, terutama mengantar dan menjemput langganan anak sekolah, ia juga membagi waktunya untuk mengumpulkan barang bekas yang diambil dari tempat pembuangan sampah.

Rutinitas itu dijalani selama puluhan tahun. Dari jerih payahnya itu pula, ia bisa menafkahi kehidupan keluarganya sehari-hari, sekaligus menyisipkan sebagian penghasilannya untuk ditabung sebagai bekal keluarganya jika kelak kondisi fisiknya tidak memungkinkan lagi mengayuh becak.

Kesehariannya, kakek ini nyaris tidak ada yang beda dengan pengayuh becak lainnya yang masih bertahan di Bantaeng. Apalagi, ia juga setiap saat mangkal bareng dengan sesama pengayuh becak dikisaran perkotaan di kabupaten yang jumlahnya penduduknya itu tergolong sedikit dibanding daerah lain.

Tapi dua bulan terakhir, Sang Kakek “mendadak” jadi perhatian dan buah bibir sebagian masyarakat. Penyebabnya, becak yang digunakan mengais rejeki sangat mencolok dibanding becak lainnya. Sehingga seringkali menjadi pusat perhatian.

Yah, becak Abd Hamid memang unik dibanding moda transportasi tradisional lainnya di daerah Butta Toa itu. Betapa tidak, becak yang bisa memuat penumpang hingga dua orang itu, diwarnai sedemikian rupa, lengkap dengan tulisan dan angka.

Pesan yang tertulis di becak tua itu juga bukan tulisan sembarangan. Melainkan, memuat nama mantan Bupati Gowa dua periode Ichsan Yasin Limpo yang kini berniat maju di Pilgub Sulsel 2018 mendatang.

Di bagian depan becak Sang Kakek ini, terdapat enam tulisan berbeda lengkap dengan latar belakang warna yang diambil dari sisa-sisa cat yang tak lagi digunakan pemiliknya. Di sandaran penumpang bagian atas, tertulis Ichsan YL. Lalu dibagian tengah ditulis agak besar “Untuk Sulsel”.

Di bagian depan, atau yang sering difungsikan pintu becak, juga dituliskan kata “Relawan” yang dibawahnya lengkap nama Ichsan YL dengan latar belakang warna hitam. Sementara tulisan paling bawah, dibuat menyerupai plat kendaraan. Masing-masing DD 1 YL dan Sulsel 1.

Khusus dibagian belakang atau pas dibawah tempatnya meletakkan tangan saat mengayuh becak, ditulis tagline “Pungawa” atau tagline yang dipopulerkan Ichsan dalam menatap pilgub.

“Saya masih ingat Nak, sejak 27 Februari saya cat ki dan buat kata-kata itu di becak saya,” kata Abd Hamid saat melayani penulis ketika berbincang di Bantaeng, Sabtu (01/04/17).

Kakek yang saat ditemui mengenakan kemeja batik, mengaku jika langkahnya “membranding” becak pribadinya murni inisiatifnya sendiri, tanpa ada orang yang menyuruh atau memintanya.

“Saya sendiri ji itu Nak yang cat ki. Karena memang saya suka Pak Ichsan. Makanya saya ikhlas dan rela, biar tidak dibayar. Hitung-hitung juga bukti dukungan saya sama beliau,” urainya yang begitu antiusias menceritakan kenapa memilih menonjolkan nama IYL di becaknya.

Ia mengaku, inisiatifnya membranding becak pribadinya dengan nama dan tagline IYL dilakukan setelah mengetahui jika pelaku pertama perda pendidikan gratis di Indonesia itu berniat maju menjadi gubernur.

“Waktu saya tahu beliau (IYL) mau maju di pilgub, disitu saya langsung mencari cat untuk menulis nama beliau di becak saya. Dan memang saya suka orangnya. Bersahaja, tegas, komitmen dan tidak suka pencitraan berlebihan,” jelas kakek ini.

Tak hanya itu, kakek ini bahkan sempat berinisiatif ingin naik becak dari Bantaeng ke Makassar untuk bertemu langsung dengan Punggawa saat mendengar kabar jika putra almarhum Yasin Limpo tersebut menggelar dzikir dan doa di Celebes Convention Centre (CCC) belum lama ini.

“Sempatka Nak berpikir ajak beberapa teman naik becak ke Makassar waktu acara dzikir dan doanya beliau. Tapi karena waktu sudah mepet saat itu, akhirnya tidak jadi. Saya mau melakukan itu sebagai bukti saya mengidolakan beliau dan Pak Syahrul Yasin Limpo,” paparnya.

Meski niatnya naik becak ke Makassar ketemu Punggawa belum terwujud. Namun kakek ini mendambakan suatu saat bisa bertemu langsung dengan Ichsan, sambil berfoto dan bersalaman.

Di samping itu, ia juga berkomitmen untuk menyosialisasikan Ichsan di keluarga, kerabat dan masyarakat di Bantaeng agar bisa bersama-sama memberikan kepercayaan melanjutkan torehan keberhasilan yang dicapai Syahrul selama dua periode memimpin Sulsel.

“Insha Allah, doa dan dukungan kami untuk beliau. Semoga selalu diberi kesehatan melimpah dan bisa terpilih memimpin Sulsel,” pungkasnya.#


Tag
div>