MINGGU , 20 JANUARI 2019

Demokrat Dapil Sulsel 1, Hanya Bisa Satu Kursi

Reporter:

Iskanto

Editor:

Jumat , 14 Desember 2018 09:45
Demokrat Dapil Sulsel 1, Hanya Bisa Satu Kursi

Bendera Demokrat. (ist)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Caleg Partai Demokrat untuk DPR RI diprediksi hanya akan meraih satu kursi di Dapil Sulsel 1 pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 mendatang.

Dapil Sulsel 1 sendiri meliputi Kota Makassar, Kabupaten Gowa, Kabupaten Takalar, Kabupaten Jeneponto, Kabpaten Bantaeng dan Selayar.

Direktur IPI, Suwadi Idris mengatakan jika partai berlambang mercy itu berpotensi hanya mengamankan satu kursi di DPR RI. “Demokrat hanya bisa satu kursi. Sebab rata-rata calegnya bisa sumbang suara,” ujarnya.

Ia menilai, figur seperti Bahar Ngitung, Aliyah dan Jamal Rustam memiliki peluang besar untuk duduk di kursi Senayan mewakili Partai Demokrat. “Salah satu dari mereka itu memiliki kans besar untuk terpilih. Namun figur lain juga masih terbuka,” tuturnya.

Kendati demikian, pihaknya memastikan jika caleg-caleg Partai Demokrat akan menghadapi banyak tantangan. Baik itu dari caleg internal maupun caleg eksternal. “Banyak tantangan yang akan dihadapi oleh caleg Demokrat di Dapil Sulsel 1. Persaingan internal cukup berimbang,” jelasnya.

Sementara Pakar Politik Unismuh Makassar, Andi Luhur Prianto mengatakan, peluang caleg Demokrat di Dapil Sulsel 1, tergantung kesiapan masing-masing caleg dan partai politik.

“Semua Dapil punya karakter dan level persaingan yang berbeda. Caleg senior petahana yang merawat infrastuktur organisasi dan melayani konstituen dengan baik, tentu punya peluang lebih besar,” katanya.

Ia berpendapat, jika caleg-caleg lama itu juga stagnan dalam interaksi dengan konstituen, dalam arti membantu konstituen secara sporadis dan tanpa persiapan yang memadai. Atau baru muncul menjelang momen politik tertentu. Bisa saja kursi yang selama ini di miliki, akan direbut caleg baru yang lebih siap dan menawarkan model hubungan dan interaksi yang lebih baik.

“Kehadiran caleg baru memang menggembirakan sekaligus mencemaskan. Disinilah peluang dan tantangan teruji di dapil tersebut,” tuturnya.

Dikatakan, hal menggembirakan karena telah merefleksikan berhasilnya pendidikan politik dan terjadi mobilitas serta sirkulasi elit politik baru. Tetapi juga cukup mencemaskan karena di beberapa situasi mereka hadir karena patronase elit lama.

“Mereka cenderung di hadirkan untuk menjadi pelengkap dari kepentingan elit lama ataupun karena tuntutan regulasi pemilu,” pungkasnya. (yad)


div>