• Senin, 22 Desember 2014
Iklan | Epaper | Redaksi | Citizen Report

Demontrasi Anarkis Justru Dapat Makian Dari Masyarakat

Kamis , 25 April 2013 12:49
Total Pembaca : 956 Views
Sosiolog UNM, Dr Ahyar Anwar

Baca juga

Demontrasi mahasiswa di Makassar dikenal sebagai yang paling anarkis di seluruh Indonesia. Salah satu yang masih teringat jelas adalah demonstrasi penolakan kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) 2012 lalu. Bentrok antara pihak kepolisian dan mahasiswa di Makassar berlangsung hingga 2 hari 2 malam. Tak tanggung-tanggung, pihak TNI pun diturunkan untuk membantu pengamanan.

Meski berhasil mempresure DPR RI untuk menunda kenaikan BBM, namun anarkisme tersebut masih terpampang jelas dan dikhawatirkan berulang, menyusul rencana pemerintah menaikkan harga BBM per 1 Mei mendatang, bertepatan dengan hari buruh.

Bagaimana tanggapan sosiolog mengenai aksi demontrasi anarkis mahasiswa di Makassar?

Berikut petikan wawancara Rakyat Sulsel dengan S’osiolog UNM, Dr Ahyar Anwar.

 

+ Apa pandangan bapak tentang demontrasi mahasiswa yang akhir-akhir ini yang kerap berujung bentrok dan menutup akses transportasi masyarakat?

*Sebenarnya demontrasi itu elemen dari demokrasi tapi tentu saja yang jadi persoalan sekarang, bagaimana tujuan demo itu terjadi tanpa merusak hal lain yang tidak menjadi relevansinya. Menurut saya demontrasi yang anarkis itu sangat destruktif karena orientasinya adalah bagaimana menghalangi orang, menggangu orang, dan pada akhirnya melakukan tindakan kriminal.

 

+Bapak sendiri saat masih mahasiswa apa pernah melakukan demontrasi? Seperti apa demontrasi di jaman itu?

*Saya aktivis mahasiswa pada tahun 1989, itu adalah kali pertama saya menjadi senat di UGM. Saya pernah melakukan demontrasi bersama dengan MH Ainun Najib dan Rizal Mallarangeng. Kami melakukan long march dan dihadang tentara orde baru, tapi kami hanya gantian-gantian orasi bertema “kalau saya jadi presiden?” di lingkaran kampus UGM mulai pagi sampai sore. Saat itu demontrasi kami dibubarkan paksa oleh militer, tapi bukan karena kami melakukan tindakan anarkis dan brutal, tapi karena isi orasi kita dinilai keras tajam dan mengeritik pemerintahan orde baru. Sebab kami mengungkap hal-hal yang salah mengenai pemerintahan orde baru. Dan kami mengajak masyarakat untuk tidak memilih kembali Soeharto.

 

+ Apa metode demontrasi yang berujung bentrok bisa menarik simpati masyarakat?

*Oh sama sekali tidak. Kalau demontrasi digelar secara brutal justru para pendemo dimaki-maki masyarakat.

 

+ Menurut anda apa penyebab utama terjadinya bentrok dalam demontrasi di era ini?

*Anarkisme dalam demontrasi mahasiswa terjadi sebagai luapan merapi dari pengekangan demokrasi yang panjang di jaman orde baru. Sehingga ketika kebebasan menyuarakan pendapat muncul saat reformasi, para mahasiswa kita mengangap demontrasi dengan kekuatan massa sebagai sebuah kekuatan penekan yang efektif. Gejala-gejala anarkisme mulai muncul saat awal reformasi. Dan itu menjadi budaya yang dianggap efektif untuk menjadi penekan. Padahal harusnya setelah reformasi demontrasi kita jadi lebih berseni, lebih artistik, lebih cerdas. Saya pernah melihat langsung demonstrasi di beberapa negara, demonstrasi mahasiswa di negara-negara maju apapun bentuknya selalu berupa presure politis. Bukan presure massa dengan metode anarkisme.

 

+ Seperti apa seharusnya demonstasi mahasiswa saat ini?

*Mahasiswa sebetulnya tidak perlu lagi melakukan tindakan anarkis, sebab sudah tidak ada presure militer atau pengekangan seperti pada jaman orde baru dan awal reformasi. Sekarang semua orang bebas menyuarakan pendapat, sehingga tidak perlu lagi menggalang kuatan massa secara berlebihan untuk menekan pemerintah. Sangat disesali akibat demontrasi brutal mahasiswa kita di Makassar, penduduk pulau-pulau lain mengidentikkan kita sebagai orang Makassar sebagai orang-orang dengan temperamen brutal. Mendekati tahun 2014, dimana ada pilpres dan pileg, mahasiswa seharusnya melakukan aksi presure politis tanpa terjun ke dunia politik. Seperti mengimbau masyarakat untuk tidak memilih parpol yang korup dan calon pemimpin yang tidak kompeten. Itu jauh lebih intelek.

 

+ Bagaimana dengan rencana pemerintah menaikkan harga BBM pada hari buruh 1 Mei mendatang?

*Sebenarnya bukan persoalan apa kita setuju atau tidak setuju. Tapi apakah itu adil atau tidak adil. Kebijakan kenaikan harga BBM sebenarnya untuk mensejahterahkan masyarakat. Tapi masalahnya, masyarakat sudah duluan memiliki stigma tidak percaya dengan apapun kebijakan pemerintah, karena banyaknya kasus korupsi di pemerintahan kita. Meskipun demikian, jika harus memilih saya sebagai masyarakat menganggap lebih baik BBM naik, dibanding rusuh pada hari itu. Yang kita khawatirkan mahasiswa-mahasiswa terprokasi oleh sejarah bahwa tink-tank demonstrasi BBM terbesar adalah di Makassar dan berhasil mencegah pemerintah menaikkan BBM. Mahasiswa kita harus memikirkan baik-baik, jangan sampai cost sosial dari demontrasi tolak kenaikan BBM itu jauh lebih berat akibat anarkisme dibanding beban masyarakat karena kenaikan BBM. (M2/eui)