KAMIS , 22 NOVEMBER 2018

Deng Ical Belum Buang Handuk

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Kamis , 31 Agustus 2017 11:57
Deng Ical Belum Buang Handuk

int

– Berusaha Yakinkan Parpol Pengusung
– JSI : Pergerakan Masih Melempem di Akar Rumput

MAKASSAR, RAKSUL – Wakil Wali Kota Makassar, Syamsu Rizal, harus bekerja keras jika masih ingin bertarung di Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Makassar, 2018 mendatang. Ia harus berusaha meyakinkan parpol pengusung, termasuk partainya sendiri, Demokrat.

Meskipun sejumlah partai telah menyatakan arah dukungannya, namun Deng Ical, sapaan akrab Syamsu Rizal, tidak menyerah. Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) misalnya, telah menyerahkan rekomendasinya ke Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan ‘Danny’ Pomanto. Sedangkan Gerindra, meskipun belum menyerahkan rekomendasi secara resmi, namun Ketua Gerindra Sulsel Idris Manggabarani telah memastikan akan mendukung Danny. Sementara Partai Golkar dan NasDem, memutuskan berkoalisi dan mendorong kadernya masing-masing.

Harapan terbesar Deng Ical saat ini hanyalah partainya sendiri, Partai Demokrat. Tetapi, ia tetap harus bersaing dengan Danny dan kader Demokrat lainnya, Adi Rasyid Ali, yang juga menyatakan diri siap maju di pilwalkot, dan menargetkan posisi 02 mendampingi Danny.

Konsultan Politik Jaringan Suara Indonesia (JSI), Nursandy, mengungkapkan, intensitas pergerakan Deng Ical cenderung melempem di akar rumput. Energi dan konsentrasi sepertinya lebih diporsir untuk meyakinkan dukungan parpol.

“Peluang Deng Ical masih terbuka untuk berkontestasi. Namun di posisi 01, situasinya memang cukup pelik. Arah dukungan sebagian parpol sudah terlihat terang ke kandidat tertentu. Harus ada upaya ekstra yang dilakukan oleh Deng Ical untuk meyakinkan parpol incarannya,” kata Nursandy, Rabu (30/8).

Nursandy menjelaskan, simulasi pasangan tentu dijalankan oleh Deng Ical untuk menemukan format yang pas. Bukan hanya untuk meraih dukungan parpol, tetapi bertujuan mencapai kemenangan.

“Jika Daeng Ical maju, bisa memecah basis dukungan Danny terutama di birokrasi pemerintahan. Tantangan bagi Deng Ical, bagaimana menemukan pendamping yang bisa menguatkan dukungan elektoral,” ujarnya.

Terkait arah dukungan Partai Demokrat sendiri, Ketua DPD Demokrat Sulsel, Ni’matullah, menegaskan, saat ini belum bisa memastikan Demokrat akan mengusung siapa di Pilwalkot Makassar mendatang. Alasannya, ada proses dan mekanisme yang harus dilaksanakan dan dikoordinasikan dengan DPP Demokrat, dalam menentukan usungan di pilkada.

“Masih banyak waktu untuk menentukan siapa usungan Demokrat. Tapi yang jelas, kita di Demokrat itu terbuka bagi setiap kandidat. Tapi kalau bisa, pasti kader kita yang akan kita dorong,” ujar Ni’matullah, yang ditemui terpisah.

Ni’matullah mengaku, Demokrat tetap memprioritaskan kader-kadernya. Ada tiga figur internal yang layak didorong untuk maju sebagai calon 01 di Pilwalkot Makassar. Namun, kader tersebut harus memperlihatkan kelayakannya untuk diusung.

“Saya ini tetap memberi kesempatan kader-kader Demokrat untuk meyakinkan saya bahwa ia layak diusung. Apalagi indikatornya kan mudah, yakni hasil survei dan hasil fit and proper test kemarin,” terangnya.

Kepada seluruh kader yang akan didorong maju sebagai bakal calon wali kota, lanjutnya, wajib memiliki karakter yang bisa dipercaya dan mempunyai leadership yang baik.

“Buat saya tahap pertama di Pilwali Makassar, posisi kosong satu itu adalah memprioritaskan kader Demokrat. Ada tidak kader saya yang bisa kosong satu. Setelah itu, kalau kemungkinannya kecil, barulah kita bicara ke calon petahana, yakni Danny,” paparnya.

Ia mengatakan, Danny sampai saat ini masih usungan Demokrat hingga masa jabatannya berakhir. Sehingga, jika Danny ingin kembali diusung oleh Demokrat, maka Danny-lah yang seharusnya mengkomunikasikan dengan partai.

“Sampai saat ini kan yang usung Danny itu Demokrat, jadi Danny itu milik Demokrat. Kalau Danny ingin kembali diusung, maka Danny yang harus bicara ke kita,” tegas Ni’matullah.

Wakil Ketua DPRD Sulsel ini juga menegaskan, kalaupun tidak ada kadernya yang bisa diusung menjadi 01, maka syarat wajib bagi Danny untuk mendapatkan rekomendasi Demokrat adalah menerima salah satu dari tiga figur internal di Demokrat, untuk menjadi pendamping Danny nanti.

“Kalau tidak ada kader Demokrat yang bisa melawan Danny, maka saya akan bicara ke Danny, ini tiga kader saya, yang mana bisa jadi 02. Kalau tidak diterima, maka kita tinggalkan. Itu wajib,” pungkasnya.

Sementara, Deng Ical yang juga Sekretaris Demokrat Sulsel, menegaskan, tugas DPD adalah mempresentasikan semua hasil kelayakan dan kepantasan kadernya untuk maju sebagai 01. Sejak awal dirinya ditugaskan untuk maju sebagai 01, namun dirinya tetap tunduk kepada aturan dan mekanisme yang dijalankan partainya.

“Intinya nanti akan disimulasikan dan dipresentasikan hasil ke DPP. Kemudian kalau saja kader tidak memungkinkan yang berdasarkan hasil survei, barulah kita bicara apakah didorong jadi 02 atau tidak. Soal peluang, itu adalah domainnya partai, jadi saya sepenuhnya menyerahkan kepada mekanisme di Partai Demokrat, termasuk menentukan siapa yang akan mendampingi,” terangnya.

“Yang jelas bisami saya, tapi tetap kembali ke partai. Kalau soal pendamping saya juga sudah usulkan beberapa nama, tapi intinya itu tetap partai yang menentukan. Dan itu juga harus dipahami oleh teman-teman calon yang lain,” lanjut Deng Ical.

Terkait kemungkinan Demokrat hanya bisa mengusung 02 di pilwalkot nanti, dirinya menyampaikan, hal tersebut akan dibicarakan kembali di internal partai, untuk mengakomodir kader sebagai 02. “Parameter di DPP itu kan ada yang memang untuk memenangkan daerah tersebut, ada juga yang hanya untuk kepentingan konsolidasi,” ujarnya.

Partai Demokrat, kata Deng Ical, akan menentukan daerah mana saja yang akan menjadi prioritas untuk mencapai target. Kemudian, daerah-daerah tersebut akan diurut yang mana daerah yang menjadi prioritas untuk dimenangkan, yang mana daerah hanya untuk konsolidasi.

“Nanti di rakor akan kita presentasikan, mana daerah yang menjadi prioritas untuk pemenangan, yang berarti mendorong kader untuk jadi kosong satu di daerah tersebut. Kemudian, ada daerah yang memang tidak ada kader kita, tapi tetap kita usulkan kader untuk kepentingan konsolidasi mendatang,” tandasnya.

Menanggapi hal itu, Pakar Politik Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Arief Wicaksono, menuturkan, dengan modal petahana, peluang Deng Ical untuk bertarung di Pilwalkot Makassar masih sangat terbuka lebar. Tidak seperti Danny, Deng Ical aktif dalam parpol dan memegang jabatan penting, sehingga bisa saja menjadi kendaraannya nanti.

“Deng Ical peluangnya cukup besar maju di pilwalkot. Karena saat ini beliau adalah wakil wali kota dan merupakan kader partai politik,” ungkapnya.

Ia menilai, dari segi kesiapan, Deng Ical sudah cukup matang. Ditambah dengan pengalamannya pada pilwalkot periode lalu. “Kalau Deng Ical, saya kira sudah lama bersiap diri, lobinya ke beberapa partai juga masih tetap jalan, saya cermati. Jadi tinggal cari saja kendaraan politiknya,” bebernya.

Bahkan, kata Arief, meskipun sejumlah parpol telah memiliki jagoannya sendiri, namun hal itu belum bisa dipastikan akan bertahan hingga tahapan pendaftaran bakal calon di Komisi Pemilihan Umum (KPU) nanti. Pasalnya, situasi politik jelang Pilwalkot Makassar masih sangat dinamis dan mudah untuk berubah-ubah.

“Adapun wacana dukungan parpol masih dinamis. Belum ada parpol yang secara terang benderang mengusung calonnya, bahkan bila calon itu adalah kadernya sendiri. Semua masih berpeluang maju. Apalagi sekarang saya perhatikan, koalisi politik memang sedang sementara dibangun,” terangnya. (E)


div>