JUMAT , 20 JULI 2018

Di Sulsel, Gafatar Berdiri Sejak 2011

Reporter:

Editor:

Azis Kuba

Kamis , 14 Januari 2016 20:53
Di Sulsel, Gafatar Berdiri Sejak 2011

int

MAKASSAR,RAKYATSULSEL.COM – Berdasarkan data Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sulawesi Selatan (Sulsel), Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) sudah hadir sejak Oktober 2011 silam.

Kepala Kesbangpol Sulsel Asmanto Baso Lewa mengungkapkan, saat mendaftar pada Oktober 2011, pihak Gafatar tidak menjelaskan jumlah anggotanya.

“Yang dijelaskan hanya ketua Muhammad Ihwan, sekretaris Abdul Jalil, dan bendahara Suhaedi,” tuturnya Asmanto yang juga Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Biro Pemerintahan Umum Sulsel.

Organisasi ini, lanjutnya, terdaftar sebagai organisasi sosial kemasyarakatan yang berasas Pancasila. Sekretariat yang terdaftar berada di Jalan Infeksi PAM nomor 50 Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala, Makassar. Selanjutnya, surat keterangan terdaftar (SKT) Gafatar diterbitkan pafa 27 oktober 2011.

Setelah dianggap organisasi yang harus diwaspadai lewat kawat sandi Kemendagri pada 12 April 2012, dianggap organisasi ini tidak terdaftar di Kemendagri.

Berdasarkan laporan di lapangan, kata Asmanto, Gafatar teridentidikasi terkait gerakan NII pada 2012.

“Sejak itu, kami di Sulsel sudah melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap seluruh aktivitas Gafatar. Sejak itu, kami tidak pernah lagi memberikan izin aktivitas Gafatar. Jadi, kalau ada aktivitas sejak itu, berarti ilegal,” tuturnya.

Setelah itu, terdapat susulan surat pada November 2012 tentang status pergerakan Gafatar. “Disitu juga DPP Gafatar telah melakukan audiensi sengan Dirjen Kesbangpol Kemendagri dan mengakui terlibat dalam gerakan Al Qiyadah Al Islamiyah,” ungkapnya.

Sejak 2012, Kemendagri pun mengimbau untuk tidak menerbitkan SKT kepada Gafatar.

Surat terakhir yang diterima Kesbangpol Sulsel pada 16 Januari 2015 memepertegas surat sebelumnya bahwa diminta dilakukan pemantauan yang melibatkan seluruh forum di bawah koordinasi Kesbangpol dan komunitas intelegen daerah agar Gafatar menjadi perhatian.

Sejauh ini, pihaknya tidak pernah menerima laporan terkait Gafatar. Sebab, sejak 2012, Gafatar tidak diberikan ruang di Sulsel secara resmi.

“Organisasi ini sudah dibubarkan 2015. Kalau kita di Sulsel, sejak awal sebelem mencuatnya persoalan ini, Gubernur Sulsel sudah menginbau melalui sambutan akhir tahun serta disampaikan pada khotbah Jumat minggu pertama Januari di seluruh Sulsel untuk berkomitmen menguatkan iman dan agama yang kita anut. Menghindari paham radikalisme atas nama agama,” ungkap Asmanto.


div>