RABU , 13 DESEMBER 2017

Di Titik Nadir

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 13 Oktober 2017 13:33
Di Titik Nadir

Arifuddin Saeni

TAK ada yang membayangkan, atau mungkin mengira bahwa reformasi di tahun 1998, akan membawa kita pada keadaan seperti ini, di mana segala sesuatu begitu bebasnya, termasuk memaki orang. Dulu, kita tak pernah punya keberanian untuk memfitnah seorang kepala negara, juga ibu kepala negara. Jabatan yang ada di bawahnya, menjadi hal yang biasa. Apakah ini sebuah konsekwensi, dari yang namanya kebebasan mengeluarkan pendapat.

Gerak dinamis yang begitu cepat, seakan tak bisa dicerna dengan berbagai teori sosiologi. Gerak linier dari berbagai kejadian, seakan muncul begitu saja, yang entah dari ‘negeri’ antabarantah mana. Ia menyodok dari berbagai sudut dan kepentingan. Akibatnya, pemerintah menghabiskan sebagian waktunya, hanya untuk menangkis dan berdebat soal salah dan benar, atau jujur dan kebohongan, itu soal lain. Tapi, apakah kita harus menghabiskan waktu untuk berdebat. Kita tidak tahu.

Tapi itulah yang terjadi. Kebenaran kadang menjadi keterasingan sendiri. Sebab, kita tak bisa memaknainya. Ia menjadi begitu terasing. Dan entah, dengan apa ia menjadi sesuatu yang bisa kita percayai. Karena di ujung sana, orang-orang merasa benar, dan yang lain salah. Lalu apakah kita harus menjelma menjadi matahari, untuk menjadikan semua terang menderang.

Andai bernegara hanya urusan salah dan benar, maka kita hanya membutuhkan kata-kata dan media—-maka, semua akan selesai. Tapi bukan itu, di luar sana, tumpukan persoalan begitu besar, anak-anak yang mengalami busung lapar, ibu-ibu yang luntang lantang mengais di tempat sampah. Dan negara sibuk dengan angka-angkanya sendiri. Rakyat menamai negeri ini, negeri yang damai. Tapi apa mungkin.

Kita tentu tak ingin putus asa, untuk mengatakan jalan masih begitu panjang, untuk menandai yang namanya membangun negara demokrasi. Kita juga percaya, bahwa syak wasangka, justa dan saling telikung, hanya bagian kecil dari namanya Indonesia. Negeri ini, adalah sosok yang mengayomi segala kemarahan dan kelicikan. Toh, ia tetap tegar—-karena kita tahu, ada fase di mana semuanya akan berada pada titik nadir, bahwa ada suatu yang harus kita bangun. Tidak seperti yang dikatakan, Mao, revolusi bukanlah sebuah jamuan makan.

Tentu saja, begitu banyak faktor lain yang memengaruhi, sehingga suara-suara lantang terus menggema hingga ke ujung negeri. Tapi di sana harapan terus terbangun di antara deretan pidato-pidato yang menjemukan. Ada janji, tapi itulah bernegara—bahwa ada saat, dimana suara serak, akan kehabisan kata-katanya sendiri, dan rakyat akan memalingkan wajahnya. (*****)


div>