SENIN , 11 DESEMBER 2017

DIAmi Ditinggalkan Parpol Pendukung

Reporter:

Suryadi - Iskanto - Armansyah

Editor:

asharabdullah

Selasa , 05 Desember 2017 16:06
DIAmi Ditinggalkan Parpol Pendukung

Dok. RakyatSulsel

– Melejit Bersama Koalisi Rakyat

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Partai Politik (Parpol) yang sejak awal menyatakan dukungannya kepada petahana Moh Ramdhan “Danny” Pomanto, satu persatu mulai berpaling ke kandidat lain. Namun, hal tersebut rupanya tidak terlalu berpengaruh. Ditinggalkan parpol pendukung, Danny yang berpasangan dengan politisi NasDem Indira Mulyasari Paramastuti ini justru melejit bersama koalisi rakyat.

Diketahui, Danny – Indira yang dikenal dengan tagline DIAmi, telah mendaftar di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Makassar melalui jalur independen. Pilihan tersebut dianggap tidak menghargai parpol yang sejak awal memberikan dukungan. Seperti PAN, PKS, PKPI, PBB dan Hanura.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, hasil survei simulasi pasangan yang dilakukan tim internal Danny, menunjukkan hasil yang menggembirakan. Termasuk jika DIAmi head to head melawan Munafri Arifuddin – Rachmatika Dewi (Appi – Cicu), atau jika Pilwalkot Makassar juga diikuti paket Syamsu Rizal – Iqbal Djalil. Hasilnya, kemenangan DIAmi di atas 80 persen.

Saat dikonfirmasi, Danny mengakui, untuk saat ini survei yang dilakukan oleh pihaknya mengindikasikan mengalami peningkatan dukungan. Namun, masih dibutuhkan kerja keras, mengingat angka tersebut bisa berubah sewaktu-waktu.

“Alhamdulillah, sepertinya masyarakat makin cinta dan makin sayang dengan saya. Tapi, kita tidak boleh takabbur, Insyaallah dukungan masyarakat kepada kami di Pilwalkot nanti,” kata Danny, Senin (4/12) kemarin.

Sementara, Bendahara DPW PKS Sulsel, Ariady Arsal, mengungkapkan, salah satu poin kesepakatan antara PKS dan Danny jika ingin diusung PKS, adalah tidak maju di jalur independen. Danny telah melanggar kesepakatan dengan PKS, dengan mendaftar di jalur independen. Hal itu tidak pernah disepakati sejak awal dengan dirinya selaku penanggung jawab Pilkada Zona 1 Sulsel.

“Saya yang berbicara langsung dengan beliau (Danny), sudah meyakinkan beliau agar maju melalui jalur partai. Tapi ya maju non partai, jadi PKS akan alihkan dukungan,” kata Ariady Arsal.

Anggota DPRD Sulsel itu mengungkapkan, dalam buku pedoman PKS terkait pilkada, sama sekali tidak ada mekanisme yang membolehkan untuk mendukung kandidat independen. Untuk itu, pihaknya bersama tim pemenangan pemilu dan pilkada serta DPP telah menggelar rapat evaluasi, dan mengambil sikap terkait Pilwalkot Makassar.

“Sejak awal kita ingin mengusung kandidat, bukan hanya penggembira. Kalau awal jujur, Presiden PKS tidak akan mengeluarkan SK untuk Danny – Indira,” ungkapnya.

Politisi PKS, Sri Rahmi, menambahkan, partainya tidak mendukung pasangan bakal calon yang maju melalui jalur perseorangan atau independen. Dirinya memiliki kapasitas untuk menyampaikan sikap partainya terkait pilkada, posisinya sebagai Ketua Badan Pemenangan Pemilu dan Pilkada di PKS. “Saat ini PKS tengah berkomunikasi dengan kandidat lain,” bebernya.

Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Bulan Bintang (PBB) Sulsel, Badaruddin P Sabang, juga mengatakan, setelah menimbang beberapa kandidat di Pilwalkot Makassar, PBB saat ini memilih mendukung paket Munafri Arifuddin – Rachmatika Dewi (Appi – Cicu).

“Setelah menimbang beberapa figur, PBB memilih Appi-Cicu, rencana rekomnedasi akan diberikan secepatnya,” katanya.

Ketua DPC PBB Makassar, Muh Said, membeberkan hasil rapat pleno terkait bakal calon Wali Kota Makassar yang akan diusung PBB di Pilwalkot Makassar 2018 mendatang. Menurut Muh Said, partainya akan mengusung Appi – Cicu, yang telah mengikuti mekanisme penjaringan.

“Setelah kami melakukan rapat pleno tadi siang, DPC PBB menyepakati akan mengusulkan pasangan Appi – Cicu sebagai satu-satunya calon yang akan diusung PBB di Pilwalkot Makassar mendatang. Kita tidak memilih lagi Pak Danny, karena beliau telah memutuskan menempuh jalur independen,” ungkapnya.

Terpisah, Juru Bicara PAN Sulsel, Irfan Abdul, mengungkapkan, PAN belum mengambil keputusan setelah Danny – Indira maju di jalur independen. Apakah akan diberikan rekomendasi atau dialihkan. “Rekomendasi hingga kini masih di DPW Sulsel,” ungkapnya.

Menanggapi hal ini, Pakar Politik Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Arief Wicaksono, menyebutkan, dalam praktik politik, tidak ada yang namanya komitmen dan konsistensi. Elite pengurus parpol semua serba rasional, diukur dari seberapa besar kepentingan-kepentingan dalam tubuh partai bersesuaian dengan kepentingan-kepentingan eksternal partai.

“Tarik-menarik diantara kepentingan itulah yang kemudian dirasionalisasi, apakah saling menguntungkan, atau menguntungkan satu pihak saja. Kalau yang untung satu pihak, berarti pihak lain dirugikan,” terangnya.

Dosen Ilmu Politik ini menambahkan, fenomena partai politik yang menarik dukungan dari paslon yang didukungnya, tentu juga punya alasan rasional. Dia mencontohkan, dalam frame Danny – Indira yang maju lewat independen, tentu parpol yang menarik dukungan memiliki pertimbangan, apakah paslon DIAmi itu masih layak didukung atau tidak.

“Apalagi jika dukungan tersebut sifatnya longgar dan menggunakan alas hukum internal partai, bukan PKS saja, tapi PBB, PKPI, Hanura lainnya, melihat ada potensi kerugian jika Danny – Indira maju independen,” pungkasnya.

Pakar Politik UIN Alaudin Makassar, Syarifudin Jurdi, menilai, penarikan dukungan parpol yang telah menyatakan dukungan ke Danny – Indira sebelum dan menjelang pilwalkot adalah suatu kewajaran. Bahkan mungkin suatu keharusan, karena dukungan parpol tidak menjadi dasar utama Danny – Indira maju di pilwalkot.

“Meskipun Danny masih relatif kuat berdasarkan survei, waktu setengah tahun ke depan bisa mengubah peta dukungan calon,” pungkasnya. (*)


div>