JUMAT , 16 NOVEMBER 2018

Dianggap Berjasa Angkat Budaya, Danny Dianugerahi ‘Patonro’

Reporter:

Editor:

doelbeckz

Rabu , 19 April 2017 14:11
Dianggap Berjasa Angkat Budaya, Danny Dianugerahi ‘Patonro’

Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto, dianugerahi 'Patonra' pada kegiatan Mappasili Lompoa yang dirangkaikan dengan peringatan 50 tahun wafatnya pahlawan nasional Paduka Yang Mulia (PYM) Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim, Raja Bone ke-32 Jl Kumala, Makassar, Selasa (18/4) malam. foto: muh alief/rakyatsulsel.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Sedikitnya 50-an raja-raja se-nusantara hadir pada kegiatan Mappasili Lompoa yang dirangkaikan dengan peringatan 50 tahun wafatnya pahlawan nasional Paduka Yang Mulia (PYM) Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim, Raja Bone ke-32.

Pada kegiatan itu, Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto, mendapatkan penganugerahan dari keluarga besar kerajaan se-nusantara. Penganugerahan diberikan atas jasanya yang dianggap telah mengangkat kebudayaan hingga kancah internasional, salah satunya yakni memperkenalkan kata ‘Sombere’.

“Penganugerahan ini diberikan berkat jasa dan kepedulian beliau (Danny Pomanto) mengangkat salah satu kebudayaan kita hingga ke dunia ke internasional khususnya kata Sombere,” ujar salah satu keturunan langsung almarhum Andi Mappanyuki di kegiatan yang digelar di istana sekaligus kediaman almarhum, Jl Kumala, Makassar, Selasa (18/4) malam.

Danny dianugerahi ‘Patonro’ atau ikat kepala khas (destar) kerajaan Bugis- Makassar. Patonro sebagai busana adat Makassar adalah suatu warisan leluhur yang tak ternilai dengan materi, sebab menyimpulkan martabat pemakainya.

Patonro merupakan ikat kepala yang dipakai dalam pergaulan sehari -hari oleh anak karaeng dan para tubaranina butta mangkasara’/makassar dijaman kerajaan masa lalu.

Patonro diserahkan dan dipasangkan langsung di kepala wali kota oleh Raja Gowa Andi Maddusila Sultan Alauddin II Karaeng Katangka, disaksikan raja-raja se-nusantara yang hadir.

Sementara, Danny mengaku, sangat terhormat bisa berada di tempat itu dan menerima penganugerahan istimewa tersebut. Menurutnya, kebudayaan memiliki nilai yang begitu penting dalam kemajuan suatu bangsa.

[NEXT-RASUL]

“Ibaratnya negara atau kota adalah tubuh manusia maka suatu bangsa atau kota adalah jasad atau wujud kasarnya sedangkan kebudayaan itulah rohnya,” ucap Danny.

Berdasarkan pandangan itu, saat Danny pertama memegang amanah sebagai wali kota Makassar, maka hal pertama yang ada dalam benaknya adalah bagaimana mampu mensinergikan antara budaya sebagai warisan masa lalu dan pemerintahan untuk keberlangsungan masa yang akan datang. Saat itulah ditemukan kata ‘Sombere’.

“Saat saya memulai memimpin Makassar, saya agak bingung dari kata apa saya memulai. Maka di situlah saya mengenal satu warisan budaya begitu tinggi maknanya yakni kata sombere,” pungkasnya.

Bagi Danny Sombere adalah kata yang sangat susah dipadankan dengan bahasa apapun. Dalam bahasa Inggris bisa saja ia bermakna ‘great hospitality, great humble, dan great brotherhood’ meski itu belum cukup.

Selain diambil dari kearifal lokal Danny juga mengemukakan hal tersebut disandarkan pada Al Qur’an surat Al Fatihah. Dalam surat itu terdapat kata kunci yakni petunjuk jalan yang lurus ke depan dengan mengikuti orang- orang beriman sebelumnya yang bermakna sejarah masa lalu.

Dari kata kunci itulah wali kota berlatar belakang arsitek ini selalu memadukan pemerintahan yang akan dilakukannya di masa yang akan datang dengan tetap berpedoman pada sejarah warisan budaya masa lalu.

Tak heran hampir seluruh program pemerintahan dibawa nahkodanya selalu dipadankan dengan istilah- istilah lokal yang digaungkanbya hingga ke luar negeri. (***)


div>