SENIN , 20 AGUSTUS 2018

Dibalik Viralnya Fenomena Pelakor di Medsos

Reporter:

Al Amin

Editor:

asharabdullah

Sabtu , 24 Februari 2018 11:00
Dibalik Viralnya Fenomena Pelakor di Medsos

Ilustrasi.

*Angka Gugat Cerai Meningkat di Dunia Nyata

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Fenomena Perebut Laki Orang disingkat “Pelakor” terdengar tak asing lagi sejak tiga bulan terakhir. Fenomena pelakor di media sosial, khususnya di aplikasi Youtube sangat banyak dijumpai. Fenomena ini akhirnya menjadi pembahasan menarik kalangan akademisi, khususnya Ilmu Komunikasi dan Sosial.

Dosen Komunikasi Pasca Sarjana Universitas Fajar, Dr Citra Rosalyn Anwar beranggapan, masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan mengikuti apa yang disajikan di media sosial dan menganggap itu telah nyata.

Video-video singkat aksi pelakor yang banyak tersaji akan cenderung diikuti dan menjadi daya tarik tersendiri oleh penonton. Bahkan mendorong banyak orang untuk melakukan hal yang sama.

“Fenomenanya biasanya sih karena ada triggernya, ada pemicunya. Diawali dari satu kasus kemudian bermunculan kasus lain. Selain itu kemudahan medsos juga mendukung,” kata Dr Citra, sapaan akrabnya, Jumat (23/2) kemarin.

Bahkan Citra menganggap istilah “benci tapi rindu” tepat disandangkan kepada pengguna media sosial di Indonesia. “Misalnya kita membenci atau menganggap sesuatu buruk atau salah, memalukan, tapi malah ikut membagikannya. Sehingga otomatis menjadi viral,” ulasnya.

“Mungkin maksudnya supaya jadi informasi buat orang lain, tapi salah satu kecerdasan bermediasisial sebelum membagikannya, sesuatu itu kan ‘is that necessary?’,” lanjut Citra.

Begitu juga dengan fenomena pelakor ini, kata Citra mungkin maksudnya baik, namun prinsip komunikasi harus jelas. Pasalnya tidak semua pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh pengguna gadget. “Itu karena pemahaman setiap orang berbeda-beda di dalamnya,” ujar Citra.

Namun, Citra juga mengakui jika fenomena sosial yang melibatkan dua perasaan wanita yang saling berperkara lantaran rebutan pasangan sudah terjadi sejak lama. Hanya saja munculnya fenomena pelakor ini banyak didukung masyarakat.

“Iya, pelakor pasti sudah eksis dari jaman dulu, yang mebuat menjadi fenomenal kan ada 2-3 kasus, yang satu menjadi pemicu, mereka yang berurusan dengan pelakor berani mempublish di medsos,” paparnya.

Percaya atau tidak, munculnya fenomena Pelakor ini ternyata berbanding lurus dengan jumlah kasus gugat cerai pada awal tahun 2018 di Pengadilan Agama Makassar.
Dari data yang dihimpun, sebanyak 306 gugatan cerai masuk pada bulan Januari. Data itu meningkat jika dilihat dari jumlah tahun lalu pada bulan yang sama, yakni sebanyak 115 laporan.

Panitera Hukum muda Pengadilan Agama Makassar, Safar mencatat jumlah gugatan cerai talak dan cerai gugat suami istri selama tahun 2017 di kota Makassar sangat membeludak yakni sebanyak 2.357 perkara.

“Secara estimasi, cerai gugat sepanjang tahun 2017 sebanyak 1.729 perkara. Sedangkan cerai talak yakni 628 perkara. Jumlah 2.357 kasus, diantaranya 1.279 status janda saat ini,” kata Safar.

Meski tidak disebutkan secara detail bahwa penyebab keretakan rumah tangga adalah adanya orang ke tiga, namun Safar mengatakan sebagian dari mereka masih dalam usia yang terbilang muda.

Sementara itu, Pakar Psikolog Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof Muhammad Jufri berpendapat fenomena pelakor telah jadi tranding topik belakangan ini. Guru besar UNM ini menilai salah satu penyebab utama adalah faktor ekonomi dan adanya pihak ketiga dalam rumah tangga suami istri.

“Fenomena ini dilihat banyak gugatan dari perempuan. Tentu ada alasannya. Kecenderungan umum ekonomi jadi salah satunya, tapi juga pihak ketiga masih mendominasi,” ujarnya.

Dekan Fakultas Psikologi UNM ini menuturkan faktor berikutnya adalah kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT. Ia juga menyebutkan penyebab lain seperti faktor biologis, tidak melayani suami atau istri dengan baik.

“Yang intinya, cerai terjadi karena perempuan diperlakukan kasar, dimarahi, melukai, menyakiti, hingga karena faktor biologis tidak terpenuhi, ini penyebab tidak harmonisnya sebuah hubungan dalam rumah tangga,” katanya. (*)


div>