MINGGU , 21 OKTOBER 2018

Digulung Kolonial, Begini Gerakan Bawah Tanah PKI

Reporter:

Editor:

Azis Kuba

Kamis , 01 Oktober 2015 02:05
Digulung Kolonial, Begini Gerakan Bawah Tanah PKI

Suasana kantor PKI cabang Jakarta, sesaat setelah diserbu. Foto: Koleksi arsip Geheugen Belanda. (JPNN)

RAKYATSULSEL.COM – Setelah digulung pemerintah kolonial Belanda, begini gerakan bawah tanah kader-kader Partai Komunis Indonesia…

Meski berhasil ditumpas penjajah, pemberontakan nasional 1926-1927 menuntut kemerdekaan Indonesia yang dipimpin PKI sedikit banyak menggoncang sendi-sendi kekuasaan kolonial Belanda. Gubernur Jenderal de Graaf seketika menambah reserse, polisi dan tentaranya.

Semangat revolusioner tetap menyala. Kehendak merdeka menjalar ke kaum pelajar.

Algemene Studieclub di Bandung, yang dipimpin anak muda bernama Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia. Di dalamnya ada pula seorang tokoh kenamaan Tjipto Mangunkusumo.

PNI partai kedua setelah PKI yang menggunakan nama Indonesia. Ia lahir 1927, sesaat setelah PKI digulung kumpeni.

baca Juga:
PKI Lahir dari Dua Organisasi Ini
Begini Cerita Awal Mula Nama PKI

Tentang berdirinya PNI, dalam buku Sarinah, Soekarno menulis;

Imperialisme Belanda pada waktu itu baru saja mengamuk tabularasa di kalangan kaum komunis. Kaum komunis Indonesia dan Sarekat Rakyat dipukulnya dengan hebatnya, ribuan pemimpinnya dilemparkan dalam penjara dan dalam pembuangan di Boven Digul. Untuk meneruskan perjuangan revolusioner, saya mendirikan Partai Nasional Indonesia.

[NEXT-RASUL]

Di Tanah Buangan
Pukulan pemerintah Hindia Belanda membuat PKI tak bisa tampil lagi secara terbuka di gelanggang perjuangan dalam negeri. Kader-kader di luar negeri membuat grup bernama Biro Luar Negeri PKI.

Pada 1932, biro yang berpusat di Belanda ini mengeluarkan program 18 pasal perjuangan.

Panjang bila diuraikan satu persatu isi pasal tersebut. Paling tidak dua pasal pertama sudah mencermikan keseluruhan isi. Berikut cuplikannya:

1. Kemerdekaan Indonesia yang bulat. Indonesia selekas-lekasnya lepas dari Nederland. Setuju dengan pemerintahan kaum buruh dan tani.

2. Semua orang yang ditahan dan dibuang supaya segera dilepaskan. Tempat pembuangan Digul supaya segera dihapuskan. Semua pembuangan, penahanan, dan penangkapan, supaya segera dihentikan. Penjagaan polisi sekitar Indonesia harus dihilangkan.

[NEXT-RASUL]

Biro Luar Negeri PKI juga menerbitkan surat kabar Warta, Bedak Purol, De Zanier, Tielman eb Dres Conserven dan majalah mingguan Inpressa, singkatan dari Indonesia Press Agency.

Sebagian pengurus Biro Luar Negeri PKI, tulis Busjarie Latif dalam Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI (1920-1965) merupakan anggota Perhimpunan Indonesia (PI), organisasi mahasiswa Indonesia di negeri Belanda yang pernah dipimpin oleh Bung Hatta dan Ahmad Soebardjo–dua di antara perumus naskah proklamasi 17 Agustus 1945.

Bawah Tanah
Memasuki 1935, situasi dunia bergolak ke arah perang dunia kedua. Tahun itu Musso menyamar kembali ke tanah air. “Musso memilih Surabaya sebagai tempat tinggalnya, karena di kota itu Musso telah mempunyai banyak kenalan lamanya,” tulis Busjarie.

Dengan menggunakan nama samaran Ganda, Musso memulai aksinya menulis di koran harian Indonesia Berdjuang milik Partai Indonesia (Partindo) yang dipimpin Pamudji. Setelah berkenalan baik dengan Musso, Pamudji memberinya tempat tinggal di Desa Kedurus, bagian selatan kota Surabaya.

Musso dan jaringan Pamudji mulai bergerak hati-hati menjaring kembali kekuatan PKI di tanah air. Namun, apa hendak dikata, Pamudji tertangkap.

Setahun di Surabaya, Musso membentuk kembali Central Comite Partai Komunis Indonesia yang terdiri dari Djokosudjono, Achmad Sumadi dan Ruskak. Pamudji yang sedang mendekam di penjara tidak masuk dalam formasi bawah tanah ini.

[NEXT-RASUL]

Formasi ini tak bertahan lama, Desember 1936, saat Musso berada di luar negeri, tiga pimpinan CC PKI ditangkap Belanda. Selain ketiganya, banyak kader PKI bawah tanah yang juga ditangkap dan ditahan di penjara Kalisosok, Surabaya. Gerakan mereka rupanya tercium intelijen kolonial.

baca Juga:
Pemberontakn PKI Terhadap Penjajah Belanda)

Selalu saja ada pelanjut angkatan. 24 Februari 1937 berdiri Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) yang didalam ada AK Gani, Moh. Yamin dan Amir Sjarifuddin. Di dalam kelompok ini bergabung pula seorang anak muda bernama DN Aidit. Di zaman pendudukan Jepang, kelompok ini keras menentang fasisme.

Di sisi lain, Pamudji yang baru saja bebas dari penjara Sukamiskin, Bandung kembali ke Surabaya. Tanpa buang-buang waktu, dia langsung kumpulkan kader-kader PKI bawah tanah yang tidak tertangkap dan 1938 kembali membentuk CC PKI, “di rumah Azis di kampung Pacarkeling, Surabaya,” ungkap Busjarie.

Tak hanya di zaman Belanda, di zaman Jepang (1942-1945), PKI kembali menjadi musuh penguasa. Nah, bagaimana gerakan PKI bawah tanah semasa pendudukan Jepang hingga meletusnya revolusi kemerdekaan Indonesia? Ikuti kisah selanjutnya… (Wenri Wanhar/wow/jpnn)


div>