SELASA , 24 APRIL 2018

Dihuni Suku Bugis, 70 Mil dari Jakarta, Warga Tetap Sabar dan Gembira

Reporter:

Editor:

faisalpalapa

Minggu , 21 Mei 2017 10:04
Dihuni Suku Bugis, 70 Mil dari Jakarta, Warga Tetap Sabar dan Gembira

Pulau Sebira, pulau terluar itu masuk teritori Provinsi DKI Jakarta. Jaraknya mencapai 70 mil dari Jakarta atau delapan jam perjalanan dengan menggunakan perahu nelayan. (Haritsah Almudatsir/Jawa Pos)

Menerawang jauh ke belakang, 109 tahun silam atau 20 Mei 1908, ada momen besar. Bangsa ini bangkit dan lepas dari belenggu penjajah. Semangat yang dikobarkan Soetomo lewat Budi Utomo kala itu seakan belum luntur hingga kini. Masih berkobar di dada para nelayan Pulau Sebira. Pulau paling luar Jakarta yang terlupakan. Namun, warganya tetap sabar dan gembira.

SIAPA yang menyangka Pulau Sebira adalah bagian Jakarta, ibu kota negara yang ingar-bingar. Namun, faktanya demikian. Pulau terluar itu masuk teritori Provinsi DKI Jakarta. Jaraknya mencapai 70 mil dari Jakarta atau delapan jam perjalanan dengan menggunakan perahu nelayan.

Meski jauh dari modernisasi dan perhatian pemerintah, peradaban di pulau yang dihuni suku Bugis tersebut tidak lantas tertinggal. Mereka justru mengajari kita cara memaknai kata kebangkitan yang sesungguhnya. Perekonomian penduduk di sana tumbuh pesat meski hidup mandiri, jauh dari uluran tangan pemerintah. Mereka mengandalkan sumber daya laut yang berlimpah.

Jika ditelisik dari letak geografisnya, Pulau Sebira tidak ada dalam peta gugusan pulau di Kabupaten Pulau Seribu. Di peta, pulau tersebut bernama Pulau Jaga Utara. Nama Sebira baru muncul pada 1973 saat seorang nelayan kali pertama menjejakkan kaki di pulau yang berjarak empat jam dari Lampung itu. Sebira merupakan akronim sabar dan gembira. Nama tersebut diberikan Joharmansyah, tokoh nelayan Pulau Genteng. Dia merupakan orang pertama yang mendiami pulau itu pada 1973.

“Saat itu, beliau bersama ABK-nya berlayar pakai perahu tanpa mesin ke sini, nyari ikan di sini. Hasilnya melimpah. Beliau (Joharmansyah, Red) yang menamai Sebira,” jelas Ketua RW 3 Pulau Sebira Hj Hartuti saat diwawancarai pada Selasa (16/5).

Nama Sebira merupakan gambaran perasaan para nelayan pertama yang singgah dan menetap di pulau tersebut. Mereka tentu bukan orang pertama. Sebab, sebelumnya, ada penjaga mercusuar peninggalan Belanda di sana. Menurut Hartuti, kelompok nelayan pimpinan suaminya, yakni Joharmansyah, harus berjuang keras untuk melempar sauh di pulau tersebut. “Butuh kesabaran ekstra untuk menaklukkan laut. Tetapi, mereka sangat gembira setelah lihat hasil tangkapan di area pulau ini melimpah,” ucapnya.

Lambat laun, nama Sebira lebih populer daripada nama resminya, yakni Pulau Jaga Utara. Sebira juga merupakan nama ketiga setelah zaman penjajahan Belanda. Pada zaman kolonial, pulau itu diberi nama Pulau Nort Watcher. Lalu, namanya berubah lagi menjadi Pulau Jaga Utara saat diambil alih oleh pemerintah Indonesia. “Penduduk sini dulunya 100 persen suku Bugis. Karena kawin-mawin, akhirnya mulai bervariasi. Tapi, mayoritas tetap Bugis,” terang Hartuti.

Karunia laut di Pulau Sebira yang berlimpah membuat warga hidup sejahtera. Dulu, mayoritas warga di sana berumah panggung. Rumah panggung identik dengan tradisi masyarakat pesisir. Tak terkecuali masyarakat Bugis. Namun, rumah panggung kini bisa dihitung jari. Rumah warga di Pulau Sebira kini didominasi rumah tembok dengan lantai keramik. Bahkan, perahu berkapasitas angkut belasan ton sudah banyak. “Alhamdulillah ekonomi warga di sini sangat bagus. Kami kelimpahan hasil laut yang luar biasa banyak. Dulu, sehari bisa dua kali turun ke laut dengan hasil melimpah,” tutur Hartuti.

Orang Sebira tetap mempertahankan identitas sebagai keturunan Suku Bugis. Misalnya, melestarikan kue barongko, tarian penyambutan tamu, dan pesta syukuran laut yang biasanya diselenggarakan seminggu setelah Idul Fitri. “Sekaligus berharap hasil tangkapan pada hari-hari yang akan datang juga melimpah,” lanjut Hartuti.

Sayang, laju perkembangan ekonomi di Pulau Sebira tidak beriringan dengan pembangunan. Padahal, pulau tersebut sempat disebut sebagai Pulau Emas. Sebab, banyak ibu, anak gadis, hingga laki-laki yang menginvestasikan uang hasil jual beli ikan dalam bentuk emas. “Karena nggak kenal bank, orang dulu kalau ke Jakarta ya beli emas. Kalau udah musim paceklik, dijual lagi. Sekarang mereka nabung di bank,” ujar Hartuti.

Selain itu, laut di Pulau Sebira belum dikelola secara maksimal sebagai lokasi wisata. Karena itu, ikan dan hewan laut masih menjadi penopang utama perekonomian masyarakat. Padahal, potensi di sektor wisata di sana masih terbuka lebar. Masyarakat pulau lain mengakui bahwa laut di Pulau Seribu sangat bersih. “Kalau mau ke pasar, kami ke Pasar Cengkareng, Jakarta Barat. Biasanya, sekali seminggu,” lanjut Hartuti.

Nah, kendala utama di Pulau Sebira adalah transportasi. Jika orang Sebira ditanya tentang fasilitas yang dibutuhkan, jawabannya pasti sama. Yakni, transportasi publik. Menurut Hartuti, lancarnya akses Jakarta–Pulau Sebira akan berdampak luas bagi warga setempat. Bukan hanya mobilitas, sirkulasi barang, dagangan, hingga wisatawan pun semakin lancar. “Kalau di darat (Jakarta, Red) ada Transjakarta ke semua rute, seharusnya kami juga punya translaut yang sampai ke sini. Kami yakin itu bisa memengaruhi banyak hal di sini,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Kepulauan Seribu Budi Utomo menyatakan, secara ekonomi, pulau terluar di Jakarta tersebut jauh lebih baik daripada pulau lain yang berdekatan dengan Jakarta. Air tanah di Pulau Sebira merupakan yang paling bagus di Kepulauan Seribu. Namun, dia mengakui, di balik keistimewaan itu, ada kekurangan-kekurangan yang harus dilengkapi. “Butuh sentuhan pemerintah,” ucapnya.

Budi menerangkan, baru-baru ini, Pemprov DKI memperluas dan mengeruk area pelabuhan di Pulau Sebira. Tujuannya, kapal-kapal kecil dan sedang bisa berlabuh dan bermanuver di sana. Selain itu, ada kekurangan lain. Misalnya, ancaman ekologis dan pengolahan hasil laut yang masih tradisional. “Pola bisnisnya masih tradisional. Masih sekadar tangkap ikan dan jual ikan,” ungkapnya.

[NEXT-RASUL]

Karena itu, lanjut Budi, pihaknya berencana membangun sentra pengolahan dan pembinaan keterampilan level lanjutan. Menurut dia, sentra tersebut dibutuhkan agar pengolahan ikan selar tidak merusak air tanah di Pulau Sebira. “Di sana, ikan selar berlimpah. Tetapi, warganya masih buang air limbah hasil olahannya secara sembarang. Untuk jangka panjang, ini akan merusak,” ucapnya.

Camat Pulau Seribu Utara Toto Bondan menambahkan, pihaknya sedang mengusulkan rumah singgah bagi para pelancong yang berkunjung ke pulau tersebut. Rumah singgah itu bisa dijadikan base camp bagi para rombongan wisatawan yang tidak mendapat penginapan. (M. Subadri Jarawadu/co1/ilo/yuz/JPG)


div>