SELASA , 19 DESEMBER 2017

Diktator

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 11 Agustus 2017 10:16
Diktator

Arifuddin Saeni

INI kalimat yang diungkapkan Presiden kita, Joko Widodo, kurang lebih begini. “Apa muka ini seperti diktator,” ujarnya dengan nada canda.

Ini mungkin sebuah candaan politik yang lazim terjadi di negeri ini, untuk menyindir secara halus lawan-lawan politik, tapi pesan yang sesungguhnya terjadi, untuk melihat realitas yang ada, apakah kata diktator itu interpretasi dari ketidakpuasan ataukah kekalahan dalam menggalang kekuatan rakyat.

Kita memang tidak tahu pasti, sebab hari ini adalah kawan, tapi esok lusa mungkin dia adalah lawan. Karena itu, kita tak bisa menyalahkan para lakon politik yang seakan-akan bicara tanpa beban, menuduh orang secara serampangan. Tapi siapa yang peduli itu semua, toh rakyat telah banyak berubah, mana pepesan kosong dan mana kata bermakna.

Memang, kata-kata diktator bukanlah sesuatu yang baru. Seperti yang dikatakan, Karl Marx, sejarah selalu berulang, entah sebagai tragedi atau lelocon. Bagaimana sebuah pemerintahan memerintah dengan tangan besinya.

Sederetan nama pernah ada dalam panggung sejarah dunia, mulai dari Lenin, Idi Amin, Hitler hingga Saddam Husain. Dan memang betul yang dikatakan, Karl Marx, mereka kadang tertawa puas ketika bisa menumpas lawan-lawan politiknya. Bukan hanya penjara, tapi juga kematian.

Tapi kita, bukanlah mereka. Indonesia yang dibangun dengan susah payah itu, bukanlah pemerintahan yang absolut yang dikuasi penuh oleh eksekutif. Di sana ada balans, keseimbangan. Kalau pun pembubaran Ormas, sebagai “pintu” untuk mengatakan sebagai diktator, apakah bukan sebagai keterburu-buruan! Bukankah pemerintah punya kewajiban untuk mengontrol rakyatnya untuk tidak keluar dari kitha yang kita sepakati sejak awal membangun negeri ini?.

Kita tak tahu jelas, apakah kata diktator lahir karena kebencian ataukah terbangunnya demokrasi. Tapi belakangan ini, memang kata-kata itu menjadi magnet untuk disikapi, agar tidak menjadi sembilu. Bukankah, pemerintah dipilih secara demokrasi, lalu mengapa harus menjadi diktator.

Entahlah. Tapi kita bukanlah Socrates, seorang pemikir Yunani kuno yang dihukum mati pada tahun 339  sebelum masehi. Ia tak berada pada dunia demokrasi kala itu. Ia memang bukanlah orang suka mengumbar kata-kata. Sebagai pemikir, rakyat disebutnya sebagai suara gombal.

Tapi negeri ini bukanlah perahu yang harus memimpin berdasarkan penunjukan karena berpengetahuan. Tapi negeri ini adalah oase, yang di sekelilingnya harus terpuaskan dahaganya. Pemimpin harus pandai membagi, karena ia lahir dari sebuah pilihan, bukan karena ia menarik. Tapi ia adalah orang yang bijak. (*)


div>