RABU , 13 DESEMBER 2017

Dirjen Bimas Gelar Konsultasi Penanganan Faham Keagamaan

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Kamis , 16 November 2017 16:30
Dirjen Bimas Gelar Konsultasi Penanganan Faham Keagamaan

Kakanwil Kementerian Agama Sulsel Drs. H. Abd. Wahid Thahir, M.Ag saat melakukan sambutan di acara pembukaan Konsultasi Penanganan Faham Keagamaan yang Bermasalah di Sulsel, Rabu (15/11) malam. ist

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Direktorat Jendral (Dirjen) Bimas Islam Kemenag RI melalui Bidang Urusan Agama Islam dan Penyelenggara Syariah Kanwil Kemenag Sulsel melakukan kegiatan temu Konsultasi Penanganan Faham Keagamaan yang Bermasalah di Sulsel yang digelar di Novotel Hotel, 15 – 17 November.

Acara yang dilaksanakan ini diikuti oleh peserta yang berasal dari unsur Bidang Urais dan Pembinaan Syariah Kanwil Kemenag Sulsel, Pejabat Kemenag Kota Makassar, Penyelenggara Syariah, Kepala KUA, MUI, Penyuluh Agama dan Ormas Islam di Sulsel.

“Kegiatan ini bertujuan untuk menemukan formula atau design crisis centre dalam menangani para korban aliran atau gerakan keagamaan yang bermasalah, sehingga bisa tertangani secara serius, konprehensif dan berkesinambungan,” kata Ketua Panitia Penyelenggara Jamaluddin M. Marki saat melakukan sambutan, Rabu (15/11) malam.

Sementara itu, mewakili Dirjen Bimas Islam Kemenag RI, Ibu DR. Hj. Siti Nur Azizah M.Hum selaku Kasubdit Bina Faham Keagamaan Islam dan Penanganan Konflik dalam sambutannya mengingatkan bahwa umat Islam di indonesia saat ini sedang menghadapi masalah besar dengan munculnya kelompok kelompok yang melakukan distorsi dalam.memahami ajaran agama.

“Setidaknya ada empat kelompok yang melakukan hal tersebut yaitu kelompok radikalisme agama, kelompok tekstualisme, kelompok liberalisme agama serta sesatisme agama, yang keempatnya memiliki pemahaman keagamaan yang menyimpang terlalu jauh dari prinsip prinsip ajaran Agama,” kata puteri Ketua MUI KH. Ma’ruf Amin ini.

Sementara itu, Kakanwil Kementerian Agama Sulsel Drs. H. Abd. Wahid Thahir, M.Ag, dalam Arahannya saat membuka kegiatan tersebut, menegaskan, radikalisme agama dan faham keagamaan yang bermasalah di banyak kesempatan telah terbukti berdampak pada munculnya sikap ekstrimisme yang berpotensi memunculkan tindakan terorisme. Fakta menunjukkan bahwa akibat ulah oknum yang beragama Islam yang melakukan aktifitas kekerasan dengan menggunakan aimbol simbol Islam, justru kenyataannya merugikan umat islam pada umumnya.

“Dampaknya kemudian adalah Stigma Negatif dilekatkan kepada Umat Islam secara umum, padahal hakikatnya Agama Islam sama sekali tidak ada kaitannya dengan gerakan radikal apalagi terorisme. Tidak ada satupun pesan moral Islam yang menunjukkan adanya ajaran radikalisme dan terorisme, Tegas Katua Forum Kakanwil Kemenag se Indonesia ini,” ungkapnya.

Menurutnya, kondisi inilah kemudian yang menjadi tantangan bagi Kementerian Agama dan para tokoh agama dalam menghadapi interpretasi paham keagamaan yang tidak otoritatif atau bermasalah, yang jika dibiarkan akan melahirkan konflik horizontal yang berkepanjangan, dan ini buruk bagi bangsa kita kedepannya.

Selain Kakanwil Kemenag Sulsel, kegiatan temu konsultasi ini akan menghadirkan sejumlah narasumber penting diantaranya, Dirjen Bimas Islam Kemenag RI, Rektor UIN Alauddin Makassar, MUI Sulsel, Praktisi dan Aktivis Crisis Center (pusat penanganan Aliran dan Faham keagamaan bermasalah berbasis pendidikan), Direktur dan Kasubdit di lingkup Dirjen Bimas Islam Kemenag RI. (*)


div>