MINGGU , 21 OKTOBER 2018

Disdik Kembali Buka PPDB Online Tiga Hari

Reporter:

Al Amin

Editor:

asharabdullah

Jumat , 20 Juli 2018 13:35
Disdik Kembali Buka PPDB Online Tiga Hari

Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Irman Yasin Limpo. Dok. RakyatSulsel

– Kesempatan Calon Siswa SMA Isi Kuota Tersisa

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Memasuki tahun ajaran baru 2018/2019, sekira 8.000 siswa SMA/SMK mengikuti pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Rumah Jabatan (Rujab) Gubernur Sulsel, Kamis (19/7) kemarin.

MPLS ini dilakukan sebagai pengganti Masa Orientasi Sekolah (MOS) berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 18 Tahun 2016.

Meski telah dinyatakan tiga hari adalah masa MPLS, namun ternyata masih banyak sekolah yang memiliki kuota tak terisi karena siswa bersangkutan tidak melakukan pendaftaran ulang.

Dari kuota yang belum terisi itu, maka Dinas Pendidikan (Disdik) Sulsel memberikan kesempatan kepada nama yang belum lulus dan masih bertengger di daftar tunggu untuk mengisi kuota tersisa tersebut.

“Berarti kekosongan itu akan diisi nama yang ada di bawahnya. Tapi kalau tidak ada di bawahnya, maka akan dibuka online lagi,” kata Irman Yasin Limpo, Dinas Pendidikan Sulsel, kemarin.

Irman mengatakan, pihaknya membuka kembali PPDB online ini, hanya dikhususkan pada sekolah tertentu di daerah terpencil yang kurang pendaftarnya.

“Yang jelas itu bukan di Makassar, karena di sini sudah full, sekolah yang dimaksud di daerah tertentu yang memang kurang pendaftarannya, kuotanya sepuluh, yang mendaftar cuma tiga orang, dan ini kita akan buka lagi,” ujarnya.

Meski belum tidak dipaparkan berapa kuota yang akan dilakukan PPDB online, namun Irman mengatakan, pendaftarannya dibuka selama tiga hari terhitung per Kamis (19/7) kemarin hingga Sabtu (21/7) besok.

None, sapaan Irman Yasin Limpo sementara, mengulas mengapa terjadi kekosongan. Menurutnya, hal itu dikarenakan dua hal. Pertama, ada yang sudah lulus, tapi tidak mendaftar ulang. Kedua, karena namanya lulus di dua sekolah, sehingga hanya bisa pilih satu sekolah saja.

Pada acara MPLS ini, None menegaskan, tidak ada perbedaan berarti antara MPLS dengan MOS. Hanya saja MPLS ini lebih menekankan pada pengenalan sekolah mulai dari sumber belajar, karakteristik hingga kelebihan sekolah.

“Seumpama PMR (Palang Merah Remaja) yang memperlihatkan kemampuannya. Selama tiga hari ini diperlihatkan apa yang sekolah miliki. Jadi bukan anak-anak baru yang disuruh baris, tetapi seniornya yang menunjukkan bagaimana caranya,” kata None.

Sementara, Penjabata (Pj) Gubernur Sulsel, Soni Sumarsono, mengharap agar tim pengawas yang telah dibentuk Disdik Sulsel dapat aktif memantau aktivitas selama MPLS berlangsung.

Untuk pengawasan tindakan perpeloncoan itu, dilakukan secara berjenjang mulai dari pengawas sekolah, cabang Dinas Pendidikan hingga tim panitia PPDB. Jika memang terbukti ada pihak melakukan perpeloncoan, maka akan ditindak tegas.

“Sanksinya berat kalau ada perpeloncoan. Seniornya kena, kepala sekolahnya juga akan kena. Sanksinya mulai dari peringatan sampai dengan pencopotan dari jabatan, baik guru maupun kepala sekolah yang terbukti melakukan tindakan perpeloncoan atau mengada-ada seperti kucir-kucir rambut. Mudah-mudahan bisa tidak ada seperti itu,” tegasnya. (*)


div>