MINGGU , 21 JANUARI 2018

Diskes Parepare Akan Bentuk Rabies Centre

Reporter:

Editor:

niar

Minggu , 07 Mei 2017 17:23
Diskes Parepare Akan Bentuk Rabies Centre

Salah seorang coach dari Balai Diklat BKPSDM Sulsel, Muhammad Yamin (kiri), dan Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Parepare, Sriyanti Ambar (kanan).

PAREPARE, RAKYATSULSEL.COM – Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Parepare, Sriyanti Ambar, mengatakan, penyakit rabies telah tersebar di seluruh dunia, kecuali Australia yang masih dalam status bebas rabies.

Hal tersebut, diungkapkan dalam Pameran Rancangan Proyek Perubahan Diklat PIM TK. IV angkatan XV dan XVI Pemerintah Kota Parepare, bekerjasama dengan Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Provinsi Sulawesi Selatan.

Dia menjelaskan, khusus di Indonesia, upaya pencegahan dan pengendalian rabies pada dasarnya telah dilakukan sejak lama oleh pemerintah, melalui kegiatan terpadu secara lintas sektoral. Menyusul, lanjut dia, dengan keluarnya Surat Keputusan Bersama (SKB) dari tiga Menteri yakni, Menteri Kesehatan, Menteri Pertanian, dan Menteri Dalam Negeri.

Dia mengemukakan, penerapan aturan tersebut perlu ditegakkan lebih efektif, dan secara tegas untuk memberikan otoritas kepada pelaksana,. Selain, tambah dia, pelaksana dapat melaksanakan tanggungjawabnya secara maksimal, dalam hal ini khususnya di Parepare yakni, Dinas Kesehatan dan Dinas Peternakan Parepare.

“Kondisi saat ini, meski otoritas tersebut dilaksanakan sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing, tetapi berdasarkan sumber dan data informasi dari Dinas Kesehatan menunjukkan bahwa, belum terdapatnya informasi yang jelas tentang rabies dan alur penanganannya. Selain itu, minimnya ketersediaan Vaksin Anti Rabies (VAR) yang mengakibatkan beberapa kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR), tidak mendapatkan VAR,” katanya, Minggu (07/05/2017).

Dia mengungkapkan, hingga saat ini pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang bahaya rabies, masih sangat rendah, dan berimplikasi pada acara pencegahan, pengendalian dan alur penanganan yang dilakukan masyarakat.

“Rabies Centre diharapkan menjadi solusi bagi strategi pencegahan, dan pengendalian kasus gigitan hewan penular rabies. Selain itu, juga sebagai sumber informasi dan komunikasi, serta layanan kasus gigitan hewan penular rabies. Paling utama, hal itu merupakan bentuk inovasi dan terobosan menuju Parepare Eliminasi Rabies 2020,” jelasnya.

Dia menerangkan, adapun manfaat Rabies Centre nantinya yaitu, sebagai pusat informasi dan layanan yang berkaitan dengan GHPR. Selain itu, katanya, sebagai kontrol kendali gigitan HPR, dan efektifnya pencegahan dan pengendalian rabies di Parepare melalui CEKAL (Cegah Tangkal).

Sementara, salah seorang coach dari Balai Diklat BKPSDM Sulsel, Muhammad Yamin, menuturkan, sejauh ini masyarakat bingung jika ada kasus rabies, dan lebih memilih pengobatan secara tradisional. Padahal, kata dia, rabies harus ditangani secara medis karena virus yang ditimbulkan sangat berbahaya.

“Penyebab kematian juga bisa saja disebabkan oleh virus rabies. Hanya saja identifikasinya tidak diketahui karena ketidak tahuan masyarakat. Jadi, dengan adanya Rabies Centre, itu sebagai langkah awal yang cepat dan tepat. Perlu diketahui juga bahwa hewan bisa divaksin. Sehingga, meski ada interaksi dengan hewan tersebut, tidak dikhawatirkan akan terdeteksi,” pungkasnya. (luk)


Tag
div>