SENIN , 17 DESEMBER 2018

Diskusi LMND, Anastasya : Kawal Pemilu Tanpa Politik Identitas

Reporter:

Iskanto

Editor:

Sabtu , 29 September 2018 17:11
Diskusi LMND, Anastasya : Kawal Pemilu Tanpa Politik Identitas

int

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah membunyikan lonceng sejak 23 September lalu sebagai pertanda pesta demokrasi 5 tahunan telah dimulai.

Dimana, dalam pesta demokrasi tersebut seluruh kalangan wajib mengawalnya agar Pemilu ini berlangsung aman, damai dan sejuk. Seperti halnya yang diingingan oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Begitupun kalangan pemuda atau mahasiswa yang juga tidak ingin ketinggalan demi memastikan Pemilu 2019 berjalan dengan baik.

Seperti yang dilakukan Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi (LMND) Makassar. Dimana LMND mengadakan diskusi dengan  tema “Mengawal Demokrasi dan Persatuan Nasional” di Warkop 115, Jl Toddopuli Makassar, Sabtu (29/9).

Hadir sebagai narasumber Ketua Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Cabang Makassar, Anastasya Rosalinda dan Kaprodi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Bosowa, Zulkhair Burhan.

Anastasya mengatakan jika sebagaian masyarakat Indonesia mulai memasukan Politik dalam bentuk identitas yang bisa memeca belah Indonesia. “Saat ini banyak masyarakat memasukkan politik sebagai identitas padahal di Indonesia begitu banyak suku dan ras,” kata dia saat diskusi.

Namun, kata dia, sesungguhnya politik adalah bagaimana menyatukan masyarakat Indonesia tanpa ada perpecahan. “Mengajak konstitusi politik agar tidak membelah rakyat,” terangnya.

Dengan demikian, pihaknya meminta kepada seluruh elemen termasuk LMND Makassar, agar bisa menciptakan Pileg dan Pilpres yang aman dan damai. “Warning generasi muda untuk menciptakan pemilu dengan mengedepankan persaudaraan dan ini tugas anak bangsa,” tuturnya.

Sementara itu, Zulkhair Burhan mengatakan jika pesta demokarsi masyarakat harus diberikan pendidikan yang lebih baik. Apalagi perbincangan politik saat ini bukan saja ada di kalangan politisi namun hampir semua kalangan. Baik itu muda hingga tua. “Pemilu harus dimaknai dengan pendidikan, transfer gagasan dalam makna harus menciptakan gagasan yang baik,” terangnya.

Namun saat ini, kata dia, banyak pilkada atau Pemilu yang berakhir dengan hal-hal negatif. Sehingga dibutuhkan pendidikan politik yang berkelanjutan. “Ini harus dijadikan tradisi berkelanjutan dengan akhiri yang baik,” tuturnya. (*)


Tag
div>