SABTU , 15 DESEMBER 2018

Dituduh Mark Up, Rekanan RTLH Akui Dirinya Malah Merugi

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Rabu , 08 Agustus 2018 18:00
Dituduh Mark Up, Rekanan RTLH Akui Dirinya Malah Merugi

Dirut PT. TBT, Saiful Sitaba. (Jejeth/RakyatSulsel)

JENEPONTO, RAKYATSULSEL.COM – Setelah beberapa kali didemo oleh sejumlah mahasiswa terkait kasus mark up proyek Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang menelan anggaran Rp3,6 miliar lebih, rekanan Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Pertanahan, PT. Trikas Bungeng Turatea (TBT) akhirnya angkat bicara.

Dirut PT. TBT, Saiful Sitaba, menuturkan, selama ini tuduhan yang dialamatkan kepada perusahaannya ternyata tidak benar. Dia juga mengaku telah menjalani pemeriksaan di Polda Sulsel terkait kasus mark up proyek RTLH karena adanya sejumlah laporan yang menuduh dirinya.

“Apa yang telah diminta oleh Polda Sulsel saat pemeriksaan kami telah berikan semua, satupun tidak ada yang terlewatkan. Mulai dari Rancangan Anggaran Biaya (RAB) sampai Nota penerimaan barang sesuai dengan surat panggilan Polda Sulsel,” ungkapnya, Rabu (8/8).

Dia juga mengakui bahwa dirinya dan semua pihak yang terlibat damal proyek RTLH telah diperiksa di Polda Sulsel. Pihaknya yang selama ini dituduh melakukan mark up ternyata berbanding terbalik.

“Kami terus terang sudah diperiksa termasuk Kadis Perumahan langsung dan semua pihak yang terlibat, tinggal kita menunggu bagaimana hasil selanjutnya. Kalau persoalan mark up, itu tidak ada. Terus terang tahun 2017 lalu malahan saya rugi. Salah satunya dari seng, karena bulan juli harga belum naik tapi setelah tanda tangan kontrak kurang lebih satu minggu harga seng dan bahan bangunan lainnya langsung naik,” jelasnya. (*)


div>