RABU , 17 OKTOBER 2018

Dua Warga Majene Disandera Kelompok Bersenjata di Malaysia

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Rabu , 07 Desember 2016 09:33
Dua Warga Majene Disandera Kelompok Bersenjata di Malaysia

int

DUA Tenaga Kerja Indonesia (TKI) asal Dusun Poniang Tengah, Desa Tallu Banua, Kecamatan Sendana, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat yang bekerja di Malaysia disendera kelompok bersenjata. Kelompok bersenjata itu diduga kelompok Abu Sayyaf asal Filipina.

Kabar tersebut pun sudah sampai keluarga dua TKI asal Majene itu. Adapun TKI yang disandera, Saparuddin dan Syawwal.

Informasi yang dihimpun FAJAR saat mendatangi rumah salah satu korban penyenderaan Saparuddin di Dusun Poniang Tengah, Majene.

Sekretaris Desa Desa Tallu Banua yang juga keluarga korban, Alwi, 31 tahun mengarahkan untuk bertemu istri Saparuddin, Asmira, 36 tahun, Minggu, 20 November.

Sore kemarin, Asmira banyak terdiam. Hanya Alwi yang banyak meladeni pertanyaan FAJAR (RakyatSulsel). Dia pun membeberkan jika keduanya bekerja menjadi TKI di Malaysia sebagai nelayan.

Alwi mendapatkan informasi dari dua rekannya Saparuddin di Malaysia, Iksan, dan Masran. “Kebetulan pak duanya juga orang di desa ini Majene. Kalau di sini ada 10 orang dari sini bekerja di sana,” tuturnya.

Alwi membeberkan jika Saparuddin adalah nahkoda kapal sedangkan Syawwal awak. Mereka menjalani pekerjaan di Kunak, Sabah, Malaysia.

Dia bersama dua puluh awak kapal lainnya tetap melakoni pekerjaan dengan mencari ikan di perairan Malaysia seperti biasanya. Namun, pada Sabtu, 19 November kapal yang dinakodai Saparuddin berangkat sore hari. Tapi, saat berada di tengah laut kapal dalam keadaan gelap.

Kapal itu dibajak oleh perompak. Kelompok bersenjata, dengan memakai penutup wajah. Tak ada satu pun mengenali mereka. Kelompok bersenjata itu hanya mencari pengemudi kapal juga awak yang teknisi kapal. “Dia Saparuddin sekelas kapten kapal lah. Dan satunya Syawwal teknisi mesin di kapal itu,” tutur lelaki saat itu memakai baju kaos hitam ini.

Alwi melanjutkan bila kabar awak lainnya dipersilahkan untuk pergi dengan selamat kembali ke pantai Malaysia. Lalu, kedua Saparuddin dan Syawwal di bawah kelompok bersenjata itu. “Mereka tidak tahu dibawah ke mana. Katanya saat kondisi gelap,” tuturnya.

Dia pun menduga jika kelompok yang menyandera adalah kelompok Abu Sayyaf. “Keluarga mendapatkan kabar pada malam hari sekitar jam sepuluh lewat telepon. Kabarnya kejadiannya sekitar jam delapan malam,” tuturnya.

Asmira sesekali bersuara. Ibu tujuh anak ini mengaku suaminya sejak puluhan tahun sudah menjadi TKI di Malaysia. Suaminya baru saja pulang ke Majene setahun yang lalu. “Setahun yang lalu dia ke sini, sekitar bulan Oktober,” tuturnya.

Dia mengaku menghubungi suaminya, namun telepon selulernya tak bisa tembus. Lalu tempat perusahaan tempatnya bekerja baik Asmira maupun Alwi tak mengetahui nama persis perusahaannya. “Bosnya saya dengar sama orang Cina (Tiongkok;red),” tuturnya.

Di pasword Sudiro Ari bekerja sebagai nelayan, di Kunak, Tawau, Sabah, berlakunya 23 Maret 2017. Bekerja di pengusaha, Tsan Kim Yuk di Kawasan Perairan Kunak, Tawau, Sabah. “Mungkin di situ mi bekerja,” tutur Alwi.

Keluarganya hanya berharap ada kepastian bisa selamat, juga ada perhatian dari pemerintah. “Kita hanya bisa menunggu informasi ini. Harapan kami keluarga cepat kembali,” ucap Alwi.

Bupati Majene, Fahmi Massiara, juga sudah mendengar kabar tersebut. Namun, masih kronologi dan ceritanya masih samar-samar. “Iya tapi masih samar-samar ceritanya,” urainya. Dia berkoordinasi kepada dinas terkait juga pihak keamanan untuk menindaklanjutinya. (fo/rso)


div>