• Senin, 22 Desember 2014
Iklan | Epaper | Redaksi | Citizen Report

Duet Mega-JK Potensi Besar

Prabowo Dan Hatta Juga Dekati JK

Minggu , 25 November 2012 13:11
Total Pembaca : 498 Views
ilustrasi

Baca juga

MAKASSAR - Jelang Pilpres 2014, hubungan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan mantan Ketum Partai Golkar Jusuf Kalla (JK) makin mesra. Kondisi ini memunculkan wacana keduanya bakal bersanding pada pilpres mendatang.

Pengamat politik Unhas, Adi Suryadi Culla melihat ada potensi duet Mega-JK. Sebab, baginya Megawati memiliki partai politik yang cukup besar yakni PDIP, sementara JK belum memilki kendaraan politik yang jelas, meskipun beberapa partai sudah mewacanakan JK sudah menjadi figur, misalnya PPP. “Memungkinakan duet Mega-JK, peluangnya sangat terbuka,” ulasnya, malam tadi.

Culla melihat kombinasi keduanya akan sangat produktif dibandingakan dengan sejumlah pasangan lain. Namun dirinya melihat kemungkinan adanya kendala tetap terbuka. “Hanya persoalannya saya kira, apakah JK bersedia, sebab secara kefiguran JK punya posisi yang kuat sebagai 01. Berdasarkan lembaga survei selalu masuk di empat besar. Hal ini mengindikasikan nilai jual JK posisinya sangat tinggi sebagai 01 selain Prabowo, Mega, Surya Paloh,” bebernya.

Belum lagi, tambahnya, kombinasi ini akan sangat produktif, sebab banyaknya indikator konfigurasi yakni Jawa-luar Jawa, politisi dan penguasa, kalem dan pro aktif, perempuan-laki-laki.

Walau terdapat perbedaan tertentu, Culla melihatnya pada segi pandangan politik ekonomi yang mesti dipertemukan, sebab faktor ideologis, harus menciptakan keharmonisan duet ini. “Kita harap ada titik temu antara Mega dan JK, sebab dari segi ekonomi, Mega ke ekonomi kerakyatan atau Marhaen, sementara JK lebih ke pembangunan ekonomi produktif,” ungkapnya.

Dari semua kombinasi yang ada, bagi dosen Sospol Unhas ini menilai keduanya memilki elektabilitas yang tinggi. “Saya amati tampaknya elektabilitasnya akan sangat tinggi,” tuntasnya.

Wakil Presiden RI 2004-2009 ini pun mengungkapkan, dirinya berpeluang berduet dengan Megawati Soekarnoputri pada Pilpres 2014. Dia mengaku tidak keberatan maju menjadi calon wakil presiden.

“Selama tidak mengatasnamakan Golkar, saya tidak keberatan,” kata pria yang kerap di sapa JK ini di Kampus Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Serpong, Banten, Sabtu (24/11) kemarin.

Kalla mengatakan, dirinya tidak perlu minta izin Golkar untuk mendampingi Mega. Sebab, lanjutnya, hal itu tidak berhubungan dengan Golkar. Kalla mengakui akan maju meskipun tanpa Golkar. “(Menjadi pendamping Mega) itu masih mungkin. Dalam politik, semua hal masih mungkin terjadi,” terangnya.

Ia menambahkan, dirinya telah melakukan pembicaraan dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P). JK juga mengatakan, dirinya sudah sering bertemu PDI-P. Namun, ia menampik jika PDIP-P sudah meminangnya menjadi Cawapres. “Itu masih masalah ke depan lah,” pungkasnya.

Senada, Ketua FPDIP DPR Puan Maharani yang juga putri Megawati tak menampik adanya peluang keduanya berpasangan pada Pilpres 2014. Meski demikian, Puan menyatakan penentuan capres-cawapres yang diusung PDIP menjadi hak prerogatif Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.

Hal itu sesuai dengan keputusan Rakernas PDIP di Bandung, Jawa Barat. “Siapa yang bakal maju dari PDIP untuk Pilpres 2014, kami berpegang pada keputusan rakernas di Bandung. Keputusannya diserahkan kepada ketua umum DPP PDIP,” kata Puan.

Menyikapi wacana pasangan Megawati-JK yang mungkin diusung PDIP, Ketua DPP PDIP Maruarar Sirait menilai hal yang wajar. Alasannya, JK selama ini memiliki popularitas yang memadai.

“Dari sisi elektabilitas partai, PDIP bersaing dengan Partai Golkar. Kalau elektabilitas di Pilpres, pesaingnya Ibu Mega hanya Pak Prabowo. Sementara di luar pimpinan partai sampai saat ini yang paling populer Pak JK. Jadi, wajar mengapungnya wacana Mega-JK,” kata Maruarar.

Menurut dia, JK memang bukan pimpinan parpol lagi. Namun, kekuatan figurnya masih mumpuni dan dipandang sebagai salah satu tokoh potensial untuk Pilpres. “Popularitas Pak JK kan juga bersaing dengan Pak Ical. Saya kira, itu bisa dipahami  karena dia punya basis dukungan yang kuat di Indonesia Timur. Dia juga masih punya basis di Partai Golkar,” katanya.

Seperti dikabarkan sebelumnya, wacana duet Mega-JK pada Pilpres 2014 tak lantas membuat capres Partai Golkar Aburizal Bakrie (Ical) gentar.

“Ketika Aburizal Bakrie sudah dideklarasikan sebagai capres, konsekuensinya ya harus siap berkompetisi dengan siapa pun,” tegas Jubir Partai Golkar Tantowi Yahya.

Ical berulang kali mempersilakan JK maju Pilpres 2014 lewat kendaraan lain lantaran Partai Golkar sudah memutuskan pencapresannya. Masuknya JK dalam bursa cawapres pendamping ketua umum PDIP itu juga dimaknai positif.

“Tapi, kalau kader kita dilirik oleh capres lain menjadi Cawapres, ya kita bangga dong,” kata Tantowi.

Selain duet Mega-JK, Mahfud MD disebut-sebut masuk dalam bursa pendamping Aburizal Bakrie.

Tebak-tebak pasangan calon ini makin menguat pasca beredarnya kabar Mahfud MD mengenai surat pemberitahuan akhir masa jabatannya sebagai hakim konstitusi MK pada 1 April 2013. Dalam surat tersebut, Mahfud juga meminta DPR untuk menyiapkan penggantinya karena dirinya tidak mau memperpanjang masa tugasnya.

.”Cawapres ada Mahfud MD, ada juga Khofifah, ada Sultan. Namun keputusannya belum diambil. Kita lihat nanti,” kata Idrus Marham, Sekjen Golkar.

Ada juga kabar diam-diam, ternyata Gerindra juga mengincar JK untuk disandingkan dengan Prabowo.

“Gerindra juga sebenarnya mempertimbangkan Pak JK sebagai cawapres pasangan Prabowo 2014 yang akan datang,” lugas Martin Hutabarat, anggota Dewan Pembina Gerindra.

Selain PDIP dan Gerindra yang telah menetapkan Capres untuk Pilpres 2014, partai lain yang juga telah menetapkan Capresnya untuk 2014 adalah Partai Amanat Nasional (PAN). Partai ini telah memutuskan mengusung ketua umumnya Hatta Rajasa sebagai Capres di Pilpres 2014. Lantas, apakah PAN juga tertarik menduetkan JK dengan Hatta Rajasa?

“Soal siapa nanti yang mendampingi Bang HR (Hatta Rajasa) sebagai cawapres adalah kewenangan DPP PAN dan Bang HR sendiri,” ujar Ketua DPP PAN Viva Yoga Mauladi.

Viva mengatakan dalam Rakernas PAN bulan November 2011 telah memutuskan Ketua Umum PAN Hatta Rajasa sebagai Capres 2014-2019. Tidak ada calon alternatif, selain Hatta. Menurutnya, masalah siapa pendamping Hatta dalam Pilpres 2014 nanti akan diputuskan tergantung hasil pemilu legislatif. (RS11-jpnn-kcm/D)