MINGGU , 18 FEBRUARI 2018

Dukungan NA-ASS Mulai Rontok

Reporter:

Suryadi Maswatu

Editor:

asharabdullah

Sabtu , 03 Februari 2018 12:00
Dukungan NA-ASS Mulai Rontok

Karikatur (Doc. RakyatSulsel)

* Pentolan Partai Pendukung Hingga Keluarga Beralih
* Pakar Bilang Efek Inkonsistensi NA

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Jelang penetapan kandidat dan pengundian nomor urut kontestan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulsel 2018, sejumlah pentolan tim dan elit parpol pengusung Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (NA-ASS) justru menunjukkan ketidakkompakan.

Selain sebagian timnya beralih mendukung kandidat lain, seperti sekretaris tim di Luwu Utara yang memilih merapat ke IYL-Cakka, juga sebagian relawannya mengarahkan dukungan ke Agus-TBL, seperti komunitas Satria.

Begitu juga beberapa elit parpol pengusungnya terang-terangan memilih ke kandidat lain. Seperti pentolan PKS Tamsil Linrung mendekat ke NH-Aziz. Elit PAN, sebagian pamer Salam Punggawa atau salam yang diidentikkan untuk IYL-Cakka.

Bukan hanya itu, sejumlah keluarga dekat NA secara vulgar memberi dukungan ke IYL-Cakka. Diantaranya sepupu NA, Karaeng Joni yang sebelumnya menjadi pentolan tim akar rumput NA.

Ada juga Karaeng Saso yang memilih menjadi tim rumah kita IYL-Cakka di Bantaeng. Begitu juga, beberapa kerabat dekat lain Bupati Bantaeng itu, justru lebih respek ke IYL-Cakka. Termasuk sejumlah warga Bantaeng.

Karaeng Saso diberbagai kesempatan, menegaskan alasannya kenapa harus meninggalkan NA-ASS. Salah satu penyebabnya, ia butuh pemimpin yang komitmennya bisa dipegang. Bukan justru lain di mulut, lain perbuatan.

“Jangan karena tawaran atau apapun namanya, baru kita menggadaikan komitmen kita. Termasuk dalam mengganti pasangan. Itu salah satu alasannya, kenapa saya harus mengalihkan dukungan,” terang Karaeng Joni.

Bukan hanya Karaeng Joni, kerabat dekat NA, Karaeng Saso juga berkomitmen untuk all out memenangkan IYL-Cakka. Alasannya, Sulsel butuh pemimpin yang tidak piawai berbohong demi pencitraan semata.

“Saya tahu kondisi yang sesungguhnya di Bantaeng. Jadi saya tidak bisa menelan mentah-mentah kalau ada yang bilang berhasil dimana-mana, tapi kenyataannya tidak demikian di Bantaeng,” tegas Saso, pemilik dan pembina “perkampungan” bahasa Jepang di Bantaeng.

Untuk diketahui, sejumlah pengurus dan kader Gerindra juga sudah “cabut” dari barisan NA-ASS. Jelang pendaftaran, partai ini menarik dukungannya, dan mengalihkan ke Agus-TBL.

Partai Gerindra, bahkan sudah meminta kepada NA-ASS, dan menginstruksikan kepada pengurus dan kadernya untuk menurunkan atribut NA-ASS yang masih memuat logo Gerindra dan foto Prabowo Subianto.

Pakar politik dari Universitas Islam Negeri Alauddin (UIN) Makassar, Syahrir Kariem menilai, hal ini terjadi karena tidak adanya partai yang ideologis yang membuat banyaknya fenomena politisi yang tidak konsisten mengikuti titah partai.

“Saya lihat Parpol sudah bergeser fungsinya, dari instrumen demokrasi ke instrumen transaksional. Sehingga ini juga yang membuat banyak kader yang keluar dari kebijakan partainya,” kata Syahrier, Jumat (2/2) kemarin.

Adapun penyebabnya bisa jadi lantaran inkonsistensi Bupati Bantaeng itu. Termasuk kepercayaan masyarakat terhadap NA mulai terkikis.

Apalagi, pasca NA meninggalkan Tanribali Lamo, dan berpaling ke ASS, tidak sedikit pendukung NA yang kecewa lalu mengalihkan dukung ke kandidat lain.

Syahrir tak menampik pengalihan dukungan itu terjadi karena sikap NA dianggap tidak konsisten dengan keputusannya sejak awal. “Jadi wajar kemudian jika banyak pendukung dan relawan meninggalkan NA-ASS,” pungkasnya.

Pakar politik lain dari UIN Alaudin Makassar, Syaifuddin Jurdi berpendapat, sebagian pendukung NA-ASS masih setia pada kandidat Prof Andalang. “Namun, pendukung NA yang merupakan gerbong TBL kini mengalihkan dukungannya ke AAN-TBL, begitupun yang lain. Karena TBL membawa gerbong massa untuk NA, mungkin jauh lebih kuat pengaruh TBL dibandingkan ASS,” ujarnya.

Lebih lanjut, akademisi UIN Alaudin ini menjelaskan, partai pendukung memang tidak maksimal memberikan dukungannya, bahkan sejak awal partai penopang NA-ASS telah retak. “Penyebab utama yakni kecepatan dan penetrasi pasangan lain yang lebih kuat dalam mempengaruhi tokoh berpengaruh,” katanya.

Menanggapi sebagian tim yang dibiarkan beralih dukungan ke kandidat lain. Bakal calon Gubernur Suslel, Nurdin Abdullah tak mau mengomentari. Ia sangat meyakini tim dan relawan bersma pendukung NA-ASS masih tetap kompak di barisanNA. “Sampai saat ini kami masih bersama,” singkatnya. (*)


div>