JUMAT , 20 JULI 2018

DUMBA’-DUMBA’

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Sabtu , 27 Februari 2016 18:57
DUMBA’-DUMBA’

Haidar Majid

Dalam suatu perjalanan ke luar kota beberapa waktu yang lalu, Saya dan Jusly Yany terlibat pembicaraan ‘serius’ tentang dunia perfilman. Saya yang awam, banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada “Yus” (sapaan akrab Jusly Yany), tentang bagaimana sebuah film dibuat atau diproduksi, bagaimana sebuah film bisa ‘booming’, sampai kepada apa bedanya film nasional kita dengan film Hollywood.

Yus yang terlibat dalam pembuatan Film Bombe, Sumiati dan Dumba’-Dumba’, menjawab pertanyaan-pertanyaan saya dengan semangat yang berapi-api. Yus mungkin ingin menunjukkan kepada saya, betapa dia mencintai dunia sinema dan betapa dia ‘dekat’ dengan dunia itu. “Sir, tidak mudah membuat sebuah film”, katanya. Film itu butuh imajinasi dan modal yang kuat, tambahnya.

Yus mengambil contoh Film Eat, Pray, Love yang dibintangi oleh Julia Robert, film saduran dari sebuah novel dengan judul yang sama, karya Elizabeth Gilbert. Yus menggambarkan kepada saya, bagaimana sang sutradara Ryan Murphy sangat detail dalam mencari lokasi yang sesuai dengan thema cerita film itu. Konon menurut Yus, sebelum sang sutradara menentukan New York, Napoli, Pataudi dan Bali sebagai lokasi syuting, terlebih dahulu sang sutradara melakukan survey, tanpa melakukan sedikitpun aktivitas apa-apa, hanya melihat-melihat saja, sambil mencocokkan keserasian tempat dengan substansi cerita.

Itulah mungkin yang dimaksud oleh Yus, bahwa film itu butuh imajinasi dan modal yang kuat. Bisa dibayangkan berapa biaya yang harus dirogoh untuk menghasilkan sebuah film Eat Pray Love dengan mengambil pemeran utama sekelas Julia Roberts dan lokasi syuting di empat negara berbeda. “Sir, setiap kali melakukan syuting di empat negara itu, seluruh kru dan equipment diikutkan,” kata Yus.

Yus secara tidak langsung menyadarkan kepada saya bahwa pantas kiranya film-film Hollywood itu bisa “box office”, membuat penonton berdecak kagum dan tak henti-hentinya diperbincangkan. Padahal tidak jarang ide ceritanya sangat sederhana, tetapi karena ditunjang oleh imajinasi ‘liar’, biaya yang tidak tanggung-tanggung dan kemampuan memuaskan ‘ekspektasi’ penonton, jadilah Hollywood sebagai referensi kelas wahid untuk dunia sinema.

Jika seperti itu kriteria untuk bisa menghasilkan film yang berkualitas, maka bisa dipastikan, kita tidak akan pernah bisa bersanding dengan film-film Hollywood. Kita tidak cukup punya ‘nyali’ untuk memproduksi sebuah film yang bisa berkompetisi di level internasional. Jangankan untuk hal seperti itu; membuat film yang bisa mengajak penonton domestik mencintai dan mau menonton film kita saja, susahnya minta ampun; kata saya kepada Yus. Dengan enteng Yus menjawab, “oh tidak sir. Ini soal komitmen”.

Sebagai contoh India. Di India, film-film dari ‘luar’ tidak leluasa masuk, diseleksi ketat dan semua film luar yang akan ditayangkan, harus di “dubbing” terlebih dahulu. Ada dua efek yang ditimbulkan oleh dubbing tersebut, selain menjaga eksistensi bahasa India itu sendiri, juga bisa menghidupkan production house yang ada disana. Begitu komitmen dan cara mereka memperlakukan film-film import, sebagai upaya proteksi terhadap film nasional yang selama ini tumbuh subur, bahkan telah menembus tembok kokoh yang bernama Hollywood. Seperti itu Yus menjelaskan kepada saya, apa arti komitmen.

Komitmen yang lain tentu saja semua itu diatur dalam ‘regulasi’, yakni memberi ruang yang seluas-luasnya kepada sineas untuk mengekspresikan ide-ide dan gagasan-gagasan mereka di layar-layar lebar. Bisa dibayangkan, bagaimana badan sensor film India di tahun 2010 saja memberikan sertifikat lulus sensor kepada 927 film. Wow, sebuah angka yang sangat fantastis jika dibandingkan dengan kita yang jarang menembus angka 100 judul film. Artinya, teknologi dan kemampuan finansial seyogyanya tidak menjadi kendala potensial dalam menyuburkan karya-karya anak bangsa untuk bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Itulah yang tak henti-hentinya membuat saya kagum kepada Bung Rere, Jusly Yany dan rekan-rekan Art 2 Tonic lainnya, yang tak pernah ‘pasrah’ dan ‘takluk’ pada keadaan. Mereka begitu bersemangat membuat film-film konten lokal Makassar, di tengah pusaran kompetisi pajangan film-film kelas dunia di dinding-dinding bioskop.

Saya bisa memahami, mengapa mereka begitu concern terhadap pilihan “Makassar” sebagai ide cerita. Selain karena Makassar memang menyimpan banyak kisah; mereka juga ingin membuktikan bahwa yang namanya film berkwalitas itu tidak musti di back up oleh biaya yang tak berlimit dan tidak harus bertabur ‘bintang’ atau dengan kata lain, Bung Rere ingin mengatakan, “ayo kita ciptakan bintang dari kisah Makassar dan oleh orang Makassar”.

Setahu saya, ada tiga film yang telah “dilayarlebarkan” oleh Bung Rere Cs. Pertama Bombe, kedua Sumiati dan ketiga Dumba’-dumba’. Ketiganya digali dari cerita lokal Makassar dan diperankan oleh orang-orang Makassar. Ini membuktikan, betapa besar komitmen Bung Rere Cs pada ikhtiar ‘memperkenalkan’ Makassar di pentas nasional, bahkan internasional; sekaligus berkontribusi langsung pada upaya menumbuh suburkan produksi film nasional agar bisa terus produktif dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Tentu langkah-langkah seperti itu pasti tak mudah, banyak tantangan apalagi rintangan. Bukan saja di soal “pembiayaan”, tetapi bagaimana menjaga original cerita, bagaimana memberi ruang seluas-luasnya kepada “calon artis” khas Makassar untuk bisa berkiprah dan bagaimana publik khususnya mereka yang bermukim di Kota Makassar, bisa “jatuh hati” kepada produksi film mereka. Membayangkannya saja sungguh tak mudah, apalagi mengaplikasikannya.

Tetapi saya selalu percaya, orang-orang kreatif itu adalah mereka yang selalu optimis menatap dunia, selalu punya banyak ikhtiar untuk mempertahankan eksistensi dan tak mudah berkata tidak. Orang kreatif itu selalu mengasah adrenalin mereka untuk terus berkarya, selalu menghadirkan “DUMBA’-DUMBA'” di bathinya, karena mereka yakin, setelah DUMBA’-DUMBA’ akan hadir kepastian dan keniscayaan. (*)


Tag
div>