SENIN , 18 DESEMBER 2017

Duo Nurdin Saling Klaim Dukungan Istana

Reporter:

Iskanto

Editor:

asharabdullah

Sabtu , 04 November 2017 11:49
Duo Nurdin Saling Klaim Dukungan Istana

Karikatur (Doc. RakyatSulsel)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Bakal calon gubernur Sulsel, Nurdin Halid (NH) pada awal sosialisasi mengisyaratkan jika dirinya bagian dari kekuatan istana pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2018 mendatang. Bahkan, dalam beberapa programnya, NH mengklaim bagian dari program istana seperti gerakan membangun kampung.

Sementara itu, Nurdin Abdullah (NA) yang berpasangan dengan Andi Sudirman Sulaiman dipastikan mendapatkan PDIP sebagai pengusung utama. Hal itu juga mengindikasikan NA bagian dari istana, meski selama ini NA belum pernah mengklaim hal tersebut.

Terkait hal tersebut, Nurdin Halid menanggapi santai wacana tersebut. NH mengatakan dirinya sejak awal menyatakan maju di Pilgub Sulsel sudah meminta pendapat dan pandangan semua pihak.

Lanjut, dia mengatakan, tak kala penting adalah berkoordinasi meminta restu dari istana sebagai penghormatan untuk maju bertarung di Pilgub Sulsel 2018 mendatang.

“Artinya saya ini sudah mempertimbangkan jauh hari, sebelum maju berkoordinasi dan berkomunikasi dengan semua pihak. Tak kala penting pihak istana, saya sudah sampaikan dan mendapat respon positif sehingga saya maju,” kata Nurdin, Jumat (3/11).
Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar ini mengatakan dirinya juga sudah menyampaikan tekadnya maju kepada Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) perihal maju dan bertarung di Pilgub Sulsel.

Menurutnya, pada peringatan Hari Koperasi Nasional di Sulsel bulan Mei lalu, dihadapan presiden dirinya juga menyampaikan jika kelak akan menjadi pengganti SYL di Sulsel menjadi Gubernur.

Disisi lain, kata dia, disela kunjungan beberapa kali Wapres JK di Sulsel, NH juga sempat mengikuti kegiatan JK. Bahkan mendampingi dengan tujuan mengambil hati JK. “Tidak ada yang menghalangi, semua mendukung, begitu juga sama kandidat lain,” katanya

Meski demikian, NH enggan berkomentar mendapat dukungan dari istana. Yang pasti, kata dia, dirinya mendapat respon yang baik. “Menyampaikan keinginan baik pasti di respon dengan baik oleh istana, apalagi niat membangun daerah pasti di respon dengan baik,” pungkasnya.

Sementara itu, Juru Bicara (Jubir) NA, Bunyamin Arsyad mengatakan bahwa majunya NA di Pilgub Sulsel tidak ada kaitannya dengan politik istana. Bahkan, ia dengan tegas menyebutkan tidak ada campur tangan politik istana untuk pemenangan NA nantinya. “Tidak ada dukungan istana, ini kan Pilgub,” katanya.

Meakipun begitu, Bunyamin tidak menampik bahwa NA kerap melakukan komunikasi dengan istana. Tetapi, komunikasi yang dilakukan NA, kata dia, dalam kapasitas sebagai kepala daerah dua periode di Kabupaten Bantaeng.

“Tidak ada, Pak Nurdin kan sebagai bupati komunikasi dengan istana dalam kapasitas sebagai bupati bukan sebagai bakal calon,” jelasnya.

Saat ditanya terkait adanya kemungkinan dukungan istana ke NA karena PDIP telah merapat ke NA, Bunyamin enggan berspekulasi. Ia hanya menjelaskan bahwa, kepala negara (Presiden) tidak mungkin memberikan dukungannya kesalah satu kandidat termasuk NA.

“Jokowi kan tidak mungkin mendukung bakal calon, itu sangat beresiko ke Jokowi. Tidak bisa dikaitkan bahwa partai yang mendukung Nurdin Abdullah langsung dikaitkan dengan istana. Itu sangat beda, istana yah istana, Pilgub yah Pilgub,” terangnya.

Pakar Politik Universitas Hasanuddin (Unhas) Aswar Hasan mengatakan kedua kandidat yakni NH dan NA sama-sama memiliki peluang untuk meraih dukungan istana pada Pilgub mendatang. Menurutnya, dukungan tersebut nantinya tergantung bagaimana lobi politik yang dilakukan oleh kedua kandidat.

“Dua-duanya saya fikir berhak mengklaim mendapatkan dukungan dari istana, prakteknya dilapangan nanti itu yang menentukan siapa yang lebih di dukung. Karena keduanya kan berada dilingkaran koalisi. Nurdin Halid dengan golkarnya, NA dengan PDIP,” kata Aswar.

Meskipun begitu, Aswar menjelaskan salah satu faktor pendukung untuk mendapatkan dukungan istana yakni koalisi partai politik yang dibangun oleh kandidat. Ia menilai, hal tersebut sangat berpengaruh besar untuk pencapaian pemenangan kedepannya.

“Kalau dilihat dari partai pengusung, di Nurdin Abdullah itukan ada PKS, Gerindra, kedua partai inikan bukan anggota koalisi, dan ini akan menjadi pertanyaan apa pantas mendapat dukungan dari istana. Kalau Golkar kan jelas, juga NasDem yang merupakan anggota koalisi,” paparnya.

Sehingga, kata dia, dari segi identitas dan dukungan partai politik, NH lebih besar peluangnya ketimbang NA. Hal tersebut bukan tidak beralasan, tetapi memang dalam lingkaran koalisi yang dibangun NA ada partai politik yang menjadi lawan istana pada Pilpres lalu.

“Dari segi identitas dan dukungan partai, NH lebih berhak menyatakan diri berada dalam lingkaran istana. Kalau NA kan ada PKS, Gerindra yang sudah jelas adalah lawan dari istana,” pungkasnya. (*)


div>