SENIN , 10 DESEMBER 2018

Edukasi Vaksinasi Campak dan Rubella, Ini Penjelasan dr Bob Wahyudin

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Kamis , 02 Agustus 2018 20:00
Edukasi Vaksinasi Campak dan Rubella, Ini Penjelasan dr Bob Wahyudin

dr Bob Wahyudin (ist)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Campak dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan demam, ruam, batuk, pilek, dan mata merah serta berair. Campak juga kerap menyebabkan komplikasi serius seperti infeksi telinga, diare, pneumonia, kerusakan otak, dan kematian.

Sementara rubella atau campak Jerman merupakan infeksi virus yang menyebabkan demam, sakit tenggorokan, ruam, sakit kepala, mata merah dan mata gatal. Rubella kerap terjadi pada anak-anak dan remaja. Kendati ringan, virus ini bisa memberi dampak buruk pada ibu hamil yang tertular, yakni menyebabkan keguguran, bayi terlahir mati, atau bahkan cacat lahir serius pada bayi seperti kebutaan dan tuli.

Banyak orang tua khawatir soal vaksin Campak dan Rubella. Kekhawatiran itu muncul dari beragam faktor, mulai dari informasi yang media sosial soal label halal vaksin tersebut, hingga khawatir anak usai vaksin akan menjadi autis.

Kata dr Bob Wahyudin, bukan hanya itu, bahkan para orang tua khawatir efek samping dari vaksin itu sendiri. Informasi itu keliru. Sebab vaksin itu sifatnya pencegahan.

Hampir semua vaksin, efek samping vaksin campak sangat kecil. Paling hanya nyeri di area suntikan. Dan secara umum tidak ada. “Biasanya hanya ada ruam merah di area suntikan tetapi itu tidak berbahaya,” katanya, Kamis (2/8).

Menurut dokter Bob, pemberian vaksin ini sangat disarankan. Apalagi, hampir seluruh dokter di Indonesia menyarankan dan sepakat vaksin ini.

“Vaksin Campak dan Rubella yang dipakai pemerintah saat ini produksi India (SSI – Serum Institute of India) dan vaksin tersebut tidak haram. Biofarma memang sedang menyiapkan produk vaksin lokal buatan sendiri, tapi belum selesai uji kelayakan atau uji klinis. Dan tidak seperti jamu-jamuan tradisional yang bisa langsung dijual begitu jadi, produksi vaksin sangat ketat, butuh uji kelayakan sampai beberapa lapis untuk bisa dilepas dipasaran,” katanya. (*)


div>