RABU , 19 DESEMBER 2018

Egaliter dan Beretika

Reporter:

rakyat-admin

Editor:

Selasa , 26 April 2016 10:44
Egaliter dan Beretika

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

DAPAT dipastikan bahwa para sejarawan tidak ada kata sepakat tentang kapan peristiwa isra’ mi’raj terjadi. Masing-masing berpendapat sesuai kapasitas keilmuan yang mereka miliki.

Akan halnya dengan umat Islam, seringkali mempertanyakan bagaimana isra’ mi’raj terjadi. Sebenarnya yang lebih wajar dipertanyakan adalah bukan bagaimana isra’ mi’raj terjadi, melainkan mengapa isra’ mi’raj terjadi.

Para agamawan pun memberi jawaban berbeda antara satu dengan yang lain. Di antaranya bahwa isra’ mi’raj terjadi untuk menerima perintah Tuhan berupa salat.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Alquran : “Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan laksanakan pula salat subuh. Sungguh salat subuh itu disaksikan oleh para malaikat”. (QS. Al-Isra’/17: 78).

Azyumardi Azra menyatakan bahwa isra’ mi’raj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah, selain hijrah dan haji wada’. Jika perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah pada tahun 662 Masehi menjadi permulaan perjalanan kaum muslimin, perjalanan haji wada’ merupakan tanda penguasaan kaum muslimin atas kota Mekah, dan isra’ mi’raj menjadi puncak perjalanan seorang hamba menuju sang pencipta (al-Khalik).

Karena itu, salat merupakan media untuk mencapai kesalehan spiritual dalam hubungannya dengan Allah. Selain itu, salat juga menjadi sarana untuk mewujudkan keseimbangan tatanan masyarakat yang egaliter dan beretika.

[NEXT-RASUL]

Karena salat yang dilakukan secara khusyu’ akan mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan perbuatan mungkar. Dalam berbagai riwayat Nabi berpesan bahwa: “Ada dua orang umatku yang sama-sama ruku dan sama-sama sujud, tapi perbedaan salat keduanya ibarat bumi dan langit”.

Tersebutlah bahwa di akhirat nanti semua pelaku salat akan menyerahkan pahala salatnya kepada Allah. Namun ada diantaranya pahala salatnya itu digulung oleh Allah ibarat menggulung pakaian kusam lalu dihempaskan ke wajahnya, kemudian Allah berkata: Aku tidak butuh salat orang-orang yang dengan salatnya itu tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar.

Dalam Alquran Allah berfirman: “Mahasuci Allah yang memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari masjidilharam ke masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat”. (QS. Al-Isra’/17: 1).

Allah memperjalankan hamba-Nya, Allah tidak menggunakan kata Nabi-Nya karena tidak semua orang bisa menjadi nabi, atau ulama karena tidak semua orang bisa menjadi ulama, atau orang kaya karena tidak semua orang bisa jadi kaya.

Hal ini mengandung maksud bahwa Allah membuka kesempatan yang sama kepada seluruh manusia untuk bisa mencapai derajat kemuliaan. Karena seluruh manusia sama-sama bisa menjadi hamba Allah.

Karakteristik Islam tidak menjadikan kemuliaan dimonopoli bagi golongan tertentu. Karenanya tidak ada alasan bagi siapa pun untuk membanggakan diri karena nasab, ilmu, harta, kedudukan, pengaruh atau banyaknya pengikut. Karena Allah tidak menilai kemuliaan berdasarkan  semua itu.

[NEXT-RASUL]

Tidak ada alasan bagi siapa saja untuk membanggakan diri karena ilmu dan harta, karena ilmu dan harta adalah merupakan tanggungjawab yang harus ditunaikan. Tapi hendaknya setiap orang bersyukur ketika semua itu membuatnya menjadi hamba Allah yang sebenarnya.

Dalam kondisi yang paling mulia Rasulullah disebut dengan sapaan hamba-Nya, bukan dengan sebutan Rasul-Nya, Nabi-Nya, Kekasih-Nya, atau dengan menyebut namanya Muhammad saw saja.

Karena ternyata seorang manusia berada dalam kondisi yang paling mulia  ketika merealisasikan dirinya sebagai hamba Allah, saat itulah Allah pun ridha kepadanya.

Semoga salat merupakan mi’raj bagi setiap pelakunya, sehingga dapat mewujudkan lingkungan masyarakat yang egaliter, harmonis, beradab dan santun. (*)


div>