SENIN , 22 OKTOBER 2018

Eks Manager Keuangan Abu Tours Resmi Tersangka, Siapa Menyusul?

Reporter:

Ramlan Makkaratang - Irsal

Editor:

asharabdullah

Sabtu , 21 April 2018 09:00
Eks Manager Keuangan Abu Tours Resmi Tersangka, Siapa Menyusul?

Kantor Abu Tours. (ist)

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Kepolisian Daerah (Polda) Sulsel menetapkan tersangka baru dalam kasus dugaan penipuan, penggelapan dan pencucian uang Biro Perjalanan Haji dan Umrah PT Abu Tours.

Kali ini, penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sulsel menetapkan mantan Manager Keuangan PT Abu Tours berinisial MKS (40).

Penetapan tersangka baru tersebut disampaikan oleh Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Dicky Sondani, Jumat (20/4). “Penetapan mantan Manager Keuangan PT Abu Tours berinisial MKS (40) setelah dilakukan gelar perkara,” ujar Dicky Sondani.

Dicky menjelaskan, berdasarkan alat bukti yang dikumpulkan, tersangka diduga kuat telah melakukan tindak pidana penggelapan dan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

“Berdasarkan alat bukti yang ada, tersangka diduga turut serta melakukan tindak pidana penggelapan dalam jabatan. Subsider penggelapan dan pencucian uang terkait permasalahan PT Abu Tours yang mengakibatkan kerugian 960.601 calon jemaah berdasarkan data manifes dan total kerugian mencapai Rp 1,4 triliun,” ungkapnya.

Lebih jauh Dicky mengatakan, tersangka MKS berperan dan menjabat selaku manajer keuangan PT Abu Tours sejak tahun 2016. Ia bertugas mengendalikan lalu lintas keuangan dari dan ke rekening penampungan PT Abu Tours, melalui sistem transaksi online.

Modus yang dilakukan tersangka kata Dicky, berdasarkan alat bukti, tersangka telah mendistribusikan sebagian dana dari rekening penampungan, yang berasal dari dana jemaah untuk kepentingan pribadinya. “Termasuk ditemukan aliran dana dari rekening penampungan PT Abu Tours ke rekening tersangka,” bebernya.

Dicky menegaskan, akibat perbuatannya, MKS dijerat pasal 374 subs 372 jo pasal 55, pasal 56 ayat (1) KUHP dan atau pasal 3, pasal 5 Undang-undang TPPU. Dengan ancaman pidana penjara 5 tahun, denda Rp 1 miliar. “Saat ini tersangka telah kita tahan selama 20 hari, di sel tahanan Mapolda Sulsel,” tandasnya.

Dicky juga tidak menampik jika kemungkinan akan ada tersangka baru dalam kasus tersebut. Hanya saja, ia belum dapat memastikan waktu tersebut. “Kami tetapkan dia dulu, besok lusa nanti ada tersangka baru lagi, saya belum bisa jawab sekarang karena kami terus lakukan penyelidikan,” katanya.

Saat ditanyakan perihal status istri dari tersangka Hamzah Mamba, Dicky menyebutkan jika saat ini istri dari bos Abu Tours tersebut masih akan terus mengikuti tahap penyidikan.

“Isrtinya masih sebagai saksi, sudah memenuhi panggilan pertama dan menjalani pemeriksaan yang ke 5,” terangnya.

Sebelumnya dalam kasus travel Abu Tours tim penyidik Ditres Krimsus Polda sulsel menetapkan Abu Hamza Mamba, Chief Executive Officer (CEO) sebagai tersangka.

Selain itu, Polda merilis jumlah barang sitaan dalam kasus Abu Tours. Pada saat itu dinyatakan aset yang telah disita ditaksir telah mencapai Rp150 miliar. Aset tidak bergerak yang telah disita berjumlah pada saat itu sebanyak 21 aset. Terdiri dari penyitaan yang dilakukan di Kota Makassar 17, Jakarta 2 dan Depok 2.

Sementara itu aset bergerak yang telah disita berjumlah 34 unit. Diantaranya penyitaan yang dilakukan di Kota Makassar 16 R4 dan 4 R2, Jakarta 13 R4 dan Palembang 1 R4.

Sementara penyitaan aset elektronik berjumlah 33 unit. Dimana penyitaan di Kota Makassar dilakukan terhadap 24 komputer dan 3 laptop, Jaksel 2 komputer dan 4 kamera.

Tim penyidik juga telah melakukan penyitaan BB berupa uang di Kota makassar sebanyak Rp11.250 Riyal, 140 USD, 2.492.000 IDR. Sementara penyitaan di Depok sebanyaj 43 Riyal, 7 Ringgit, 1 Dinar, 1 USD, 62 SGD.

Bahkan yang terbaru, Tim penyidik kembali melakukan penyitaan aset milik bos Abu Tours berupa rumah yang berada di perumahan Kartika Resident no 8b dan 7b kelutahan Cinere, Kecamatan Cinere Kota Depok.

Terpisah, pengacara Abu Tours, Eri Edi Satrio menyayangkan sikap Polda Sulsel terkait penangkapan kliennya.

“Penangkapan terhadap klien saya (MKS) itu juga kita pertanyakan. Kenapa harus ditangkap, selama ini kan koperatif, harusnya dipanggil saja seperti biasa, masalah ada peningkatan menjadi tersangka status itu hal yang lain ya, kalau ditangkap itu kan terkesan tidak baik. Jadi kita juga sampaikan itu, kenapa tidak dipanggil saja, datang, kalau nanti ada peningkatan status ya karena ini proses hukum, kan mereka yamg punya kewenangan. Kinerja yang seperti ini yang kita masih pertanyakan,” katanya.

Selain itu, Eri juga mengungkapkan tersangka MKS telah memenuhi pemanggilan dan diperiksa sabanyak tiga kali. Bahkan dirinya tidak menampik jika setiap pemanggilan kliennya itu tak pernah mangkir.

“Pemeriksaan MKS 3 kali hadir semua, klien-klien kita itu hadir semuanya, jadi mulai dari Hamzah Mamba, istrinya juga hadir. Jadi kalau pemberitaan dia kabur itu tidak benar. Istrinya itu sudah 5 kali diperiksa,” katanya.

Eri juga mengatakan, kasus Abu Tours ini hanyalah sebuah kesalahan manajemen di dalam perusahaan.

“Setelah kita masuk dalam Abu Tours kita lihat itu ada kesalahan manajemen yang dilakukan, jadi tata kelola perusahaannya tidak baik, itulah sumber ini menjadi masalah. Karena apa, disitu memang ada tertulis manager seperti tadi ada manager keuangan. Itu dia berbuatnya seperti berdagang di warung padahal inikan perusahaan yang besar dengan mengumpulkan dana yang besar harusnya dikelola dengan cara yang baik,” terangnya.

Ia juga menambahkan, dalam kasus ini juga tidak ada indikasi penggelapan dana yang digunakan dengan keperluan pribadi.

“Kalau dilihat penggunaan dananya itu tidak ada yang digunakan untuk pribadi. Saya kan mengikuti pemeriksaannya. Jadi uang memang masuk ke rekening dia tapi dia gunakan untuk kebutuhan dia harus pesan hotel, keperluan jemaah dan itu perintah selalu dari bosnya karena bosnya yang tahu, bosnya yang menjalankan bisnis ini. Penggunaan dananya itu selalu ada perintah dari bosnya tapi selalu untuk keperluan jemaah,” pungkasnya. (*)


div>