SABTU , 22 SEPTEMBER 2018

Eks Pimpinan KPK Endus Sabotase di Pilkada DKI

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Senin , 17 April 2017 10:54
Eks Pimpinan KPK Endus Sabotase di Pilkada DKI

Bambang Widjojanto (tengah) dan Adnan Pandu Praja (dua dari kanan) di posko pemenangan Anies-Sandi (DESYNTA NURAINI/JAWA POS)

RAKYATSULSEL.COM – Mantan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Bambang Widjojanto mengendus adanya sabotse dalam putaran kedua Pilkada DKI Jakarta. Itu lantaran ditemukannya dugaan pembagian sembako yang dilakukan tim pemenangan Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat.

“Sabotase terhadap proses pemilu terjadi begtiu masif. Kualitas demokrasi melalui pemilu kita dipertaruhkan,” ujarnya saat menggelar konferensi pers di posko pemenangan Anies-Sandi, Cicurug, Menteng, Jakarta, Minggu (16/4).

Kata juru bicara sekaligus dewan pakar Anies-Sandi itu, politik uang dengan membagi-bagi sembako adalah akar dari korupsi. Jika tidak dicegah sejak awal, sama saja Pilkada DKI menulis sejarah pemerintahan masa depan yang berpotensial korup. “Kalau sudah terstruktur, sempurna kegelapan itu,” katanya.

Dia menjelaskan, tak hanya upaya money politik, ada pula teror yang dilakukan ketika beberapa masyarakat berupaya melaporkannya.”Orang-orang  yang laporkan pada kita justru diancam. Ini mengerikan sekali dalam situasi saat ini,” tuturnya.

Pria dengan yang akrab disapa BW itu menilai ada indikasi pembiaran terhadap laporan kecurangan pilkada itu. Menurutnya, jika Sentra Gakkumdu tak juga memprosesnya, dugaan pembiaran itu menjadi dibenarkan.

Lalu, publik pun akan semakin hilang kepercayaannya terhadap penegakkan hukum. “Ini persoalan kualitas demokrasi. Kalau pemerintahan yang terlibat dan penegakkan hukum yang tidak fairness, trust publik akan merosot,” jelasnya.

Rekannya, Adnan Pandu Praja mengatakan, money politik bertentangan dengan semangat Presiden Joko Widodo dalam pembangunan karakter. Bahkan bertentangan dengan Basuki Tjahaja Purnama sendiri yang mengklaim dirinya bebas korupsi.

“Apa reaksi beliau (Ahok) kalau proses pemilihannya dengan cara seperti ini?” tanya dia.

 

Dia pun meminta kepada masyarakat yang terlanjut menerima sembako tersebut memilih sesuai hati nurani. “Pada saat mencoblos, coblos sesuai hati nurani. Beras, mi, terlalu murah untuk demokrasi. Saya percaya masyarakat Jakarta punya idealisme bangun Jakarta yang bersih,” pungkas Pandu.


div>