MINGGU , 23 SEPTEMBER 2018

Eksekusi Mati Jadi Catatan Buruk di Masa Pemerintahan Jokowi

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Senin , 19 Januari 2015 10:50

JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM – Tidak hanya dikecam oleh sejumlah negara, di dalam negeri pun eksekusi mati terhadap enam terpidana kasus narkoba juga menuai kritikan keras dari pihak-pihak yang selama ini menolak diterapkannya hukuman mati. Seperti dari Setara Institute.

Ketua Setara Institute, Hendardi mengatakan keputusan pemerintah mengeksekusi mati terpidana kasus narkoba merupakan catatan buruk pemajuan HAM, khususnya hak hidup warga.

“Dan ini merupakan catatan HAM di awal masa pemerintahan Jokowi-JK,” kata dia kepada redaksi, Minggu (18/1).

Hendardi menyatakan persetujuannya kalau narkoba menjadi musuh bersama, termasuk seluruh umat manusia. Namun tegasnya, kunci pemberantasannya adalah akuntabilitas kinerja aparat penegak hukum dan penghukuman yang tegas, membuat jera dan manusiawi.

“Perlu dicatat, betapapun jahatnya pelaku kasus narkoba tetap tidak menegasikan hak hidup si pelaku. Berapapun terpidana mati dieksekusi, kalau aparat tidak serius memberantas, seperti disparitas perlakuan, buruknya manajemen LP, dan lain-lain maka narkoba tetap akan jadi ancaman. Kami mendukung pemberantasan narkoba, tapi tidak dengan mandat negara untuk mencabut nyawa warganya dan warga negara lain,” tegas Hendardi.

Seperi diwartakan, eksekusi terhadap enam terpidana mati kasus narkoba yang terdiri atas empat laki-laki dan dua perempuan telah dilaksanakan secara serempak di dua lokasi berbeda pada Minggu dinihari (18/1) kemarin. Lima terpidana mati yang terdiri atas Namaona Denis (48) warga negara Malawi, Marco Archer Cardoso Mareira (53) warga negara Brasil, Daniel Enemua (38) warga negara Nigeria, Ang Kim Soei (62) warga negara Belanda, dan Rani Andriani atau Melisa Aprilia (38) warga negara Indonesia dieksekusi di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Sementara eksekusi terhadap satu terpidana mati atas nama Tran Thi Bich Hanh (37) warga negara Vietnam dilaksanakan di Boyolali, Jawa Tengah.

Reaksi terhadap rencana eksekusi mati itu pun berdatangan, terutama dari Presiden Brazil Dilma Rousseff. Sebelum warganya yakni Marco Archer Cardoso Mareira (53) dicabut nyawanya oleh juru tembak, dia sudah meminta kepada Presiden Jokowi untuk tidak mengeksekusi mati Marco. Bahkan setelah eksekusi dilakukan Dilma mengancam akan memutuskan hubungan bilateral Indonesia dengan Brasil.

Sementara Menteri Luar Negeri Belanda, Bert Koenders mengatakan eksekusi warganegara Belanda Ang Kiem Soe (52) adalah sebuah tindakan yang mengabaikan kemanusiaan. (rmol)


Tag
  • hukuman mati
  •  
    div>