SABTU , 16 DESEMBER 2017

Empat Tokoh Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

Reporter:

Editor:

Lukman

Kamis , 09 November 2017 17:54
Empat Tokoh Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

Presiden Joko Widodo saat menyerahkan plakat tanda gelar pahlawan untuk empat tokoh dalam rangka peringatan Hari Pahlawan 2017 di Istana Negara Jakarta, Kamis (9/11).

JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM – Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional untuk empat tokoh dalam rangka peringatan Hari Pahlawan 2017 di Istana Negara Jakarta, Kamis (9/11).

Keempat tokoh tersebut adalah (Alm) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dari Nusa Tenggara Barat (NTB), (Alm) Laksamana Malahayati (Aceh), (Alm) Sultan Mahmud Riayat Syah (Kepri), dan (Alm) Prof. Lafran Pane (DIY).

Penyerahan plakat tanda gelar pahlawan diserahkan Presiden kepada para ahli waris sesuai dengan Petunjuk Presiden kepada Ketua Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan berkenaan dengan hasil sidang III pada 19 Oktober 2017 yang dituangkan ke dalam Surat Keputusan Presiden Nomor 115/TK/2017 tentang Penganugerahan Pahlawan Nasional.

SK Presiden tersebut menetapkan menganugerahan Gelar Pahlawan Nasional kepada empat nama tersebut sebagai penghargaan dan penghormatan yang tinggi atas jasa-jasanya yang luar biasa yang semasa hidupnya telah memimpin. Selain itu, melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dengan tindakan lain untuk mencapai, merebut, memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Alm Muhammad Zainuddin adalah seorang ulama karismatik dari Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang juga pendiri Nahdlatul Wathan. Nahdlatul Wathan merupakan organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Lombok.

Muhammad Zainuddin berhasil mengubah masyarakat NTB dari keyakinan semula bermayoritas animisme, dinamisme menuju masyarakat yang Islami.

Sedangkan Malahayati atau Keumalahayati adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Keumalahayati merupakan wanita pertama di dunia yang pernah menjadi seorang laksamana. Pada tahun 1585-1604, Malahayati menjabat sebagai Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.

Kemudian, Sultan Mahmud Riayat Syah adalah tokoh Kepulauan Riau yang dikenal sebagai sosok yang gigih mengusir Belanda. Dia merupakan raja ke delapan dan terakhir dari Kesultanan Melaka. Sultan Mahmud dipilih jadi raja menggantikan ayahnya, Sultan Alauddin Riayad Syah I.

Lafran Pane merupakan pendiri Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pada 1 Desember 1986, Lafran Pane diangkat menjadi guru besar dalam mata kuliah Ilmu Tata Negara. Semasa hidupnya, pria kelahiran Padang Sidempuan, 5 Februari 1992 ini berhasil menerbitkan 12 karya tulis. Di antaranya ‘Keadaan dan Kemungkinan Kebudayaan Islam di Indonesia’, ‘Kewenangan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)’, dan ‘Kedudukan Dekret Presiden’.

Hadir dalam acara penganugerahan ini Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamananan (Menko Polhukam) Wiranto, Kepala Bappenas Sofyan Djalil.

Tampak juga Ketua DPD RI Oesman Sapta Oedang, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Assiddiqie, dan Mahfud MD. (jpnn)


div>