Sabtu, 29 April 2017

- Jadikan Kartini Sosok Inspirasi Religius dan Segudang Prestasi

Erna Rasyid Taufan, Potret Raden Adjeng Kartini Masa Kini

Jumat , 21 April 2017 18:14
Penulis : RAHMANIAR
Editor   :
Hj Erna Rasyid Taufan
Hj Erna Rasyid Taufan
PAREPARE, RAKYATSULSEL- Raden Adjeng Kartini, sosok perempuan yang gigih memperjuangkan emansipasi perempuan pada masanya (1879-1904). Dia adalah sosok perempuan modern hasil didikan Barat yang terus mengedukasi bangsanya (khususnya perempuan pribumi) untuk keluar dari lubang gelap kebodohan menuju alam terang pencerahan.

Nampaknya, sosok Kartini hingga kini telah menjadi kiblat emansipasi evolusioner bagi banyak perempuan di Indoneisa dan dunia barat (Eropa), termasuk di Kota kelahiran Presiden ke-3 RI, Prof BJ Habibie. Perempuan yang telah dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional ini pun menjadi panutan dan inspirasi dalam gerakan kebebasan dan kepedulian sosial bagi perempuan Parepare, salah satunya, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Parepare, Hj Erna Rasyid Taufan.

Sosok srikandi yang satu ini tepat menjadi potret kepribadian Raden Adjeng Kartini. Dikenal sebagai sosok yang ramah dan santun, Istri Walikota Parepare ini pun mewakafkan dirinya untuk berdakwah, syiar Islam meski di tengah padatnya aktivitas sebagai istri orang nomor satu di Kota Parepare. Giat berdakwa tak hanya lintas lokal, tetapi ke daerah tetangga, hingga ke luar negeri, seperti Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Singapura, dan beberapa negara lainnya.

Kemiripan karakter antara kedua srikandi ini pun terlihat jelas, ketika Erna Rasyid Taufan menyiarkan Islam di Negara yang dijuluki Negeri Gajah Putih, Thailand. Di tengah ribuan mahasiswa di Kampus Pesantren Ma'had Al-Ba'zad Addinyah Kota Yala, Thailand Selatan beberapa waktu lalu. Manakala, Erna Taufan dan para rombongannya diintai puluhan bala tentara dan helikopter yang berputar-putar di atas kepala yang seakan-akan siap menerkam mangsanya.

Kendati demikian, hal tersebut justru tak membuat nyali Erna ciut, meskipun rektor universitas tersebut, Dr. Abdul Rasyid Abdullah juga sudah mulai tegang dan khawatir akan keselamatan tamunya.

"Suasana sudah mulai mencekam, rombongan saya terlihat tegang, namun senjata saya surah Al-Imran, Allah berfirman jika kamu sudah bertekad hendaklah engkau bertawakkal kepada Allah. Allah mencintai orang-orang yang tawakkal," cerita Ustadzah yang juga Ketua TP PKK Kota Parepare melalui akun whatsappnya.

Kala itu, selain mendapat pengawalan ketat dari bala tentara yang tidak diundang tersebut, Erna mengaku disorot jurnalis TV Thailand dari jarak kejauhan. "Rektornya bilang bukan dia yang mengundang dan sebelum ceramah kami sempat dicegah rombongan yang mengingatkan situasi yang mencekam seperti ini," lanjut Erna.

Berpegang pada surah Al-Imrah kata Erna, wanita yang pernah berprofesi sebagai Broadcaster ini justru makin menghidupkan suasana interaksi dengan ribuan mahasiswa ini.
"Saya hanya takut kepada Allah, saya berjuang di jalan Allah jadi kenapa harus takut. 15 menit saya di podium lalu saya turun di tengah-tengah santri, suasanya makin hidup dan interaktif dengan metode sambung ayat," tutur Ketua BKMT Kota Parepare ini.

Sementara itu, menelisik sejarah RA Kartini, pahlawan nasional ini pun pernah melakukan hal yang sama. Di tengah gempuran Belanda dan larangan menerjemahkan Al-qur’an, perempuan kelahiran Jepara, Jawa Tengah ini justru meminta kepada seorang ulama untuk menerjemahkan surah Al-Fatihah ke dalam bahasa Jawa.

“Bahkan buku dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang karena kekaguman beliau dalam salah satu ayat di surah Al-Baqorah mina dhulumati ilan nur. Dari kegelapan ke cahaya,” imbuhnya.

Tak hanya Kartini yang mendakwahkan ayat tersebut melalui tulisannya, Erna pun berhasil menulis sebuah buku dengan ketebalan 336 halaman. Di dalam buku tersebut, dia mengungkap rahasia tersembunyi di usia 40 tahun. Karya tulisnya ini mendapat apresiasi dari Presiden ketiga RI, Prof. BJ Habibie. BJ Habibie menilai Erna Taufan sebagai pendakwah yang konsisten menyebar syiar Islam, tak hanya lewat lisan, tetapi lewat tulisan dan bahkan busana yang dia kenakan. Dalam buku tersebut, Erna mengulas rahasia usia 40 tahun sebagai usia untuk meningkatkan kesadaran spiritual untuk persiapan pemberhentian terakhir ketika ketetapan Allah telah berlaku.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*