KAMIS , 22 NOVEMBER 2018

Esensi Kemerdekaan

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 15 Agustus 2017 10:11
Esensi Kemerdekaan

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

Dahulu perjuangan dan pergerakan bangsa Indonesia untuk lepas dari cengkeraman kolonialisme bersifat sporadis dan kesukuan. Karenanya, dengan mudah setiap pergerakan menuju kemerdekaan dipatahkan oleh kolonial. Ketika Belanda datang di Nusantara ini, pernah muncul puluhan kerajaan kecil, memiliki naluri saling berebut dan menghancurkan. Hal ini sangat dipahami oleh Belanda untuk diadu, sehingga dengan demikian Belanda dapat bertahan hingga ratusan tahun. Sementara kerajaan-kerajaan kecil itu hanya bisa bertahan puluhan tahun saja.

Naluri dan kecenderungan destruktif seperti ini harus diakhiri, agar bangsa Indonesia bisa tegak dan terhormat. Perbedaan partai politik, suku, agama dan golongan, demikian pula dengan pilkada seharusnya tidak dapat dijadikan alasan untuk memecah-belah persatuan. Orientasi partai politik boleh berbeda, pilihan kandidat dalam pilkada tidak tunggal, namun persatuan dan saling menghargai harus senantiasa dijunjung tinggi sebagai bangsa yang beradab.

Sebagai warga negara Indonesia, patut untuk merenungkan makna dan esensi kemerdekaan yang telah diproklamirkan oleh pendiri bangsa ini 72 tahun yang lalu. Pantaskah kita dengan lantang teriak merdeka kalau ekonomi masyarakat kita masih tergantung kepada
negara lain, kalau masyarakat kita masih lebih tertarik menjadi tenaga kerja di negara lain, kalau warga masyarakat di semua lapisan dan negara kita masih menjadi lahan subur peredaran narkotika dan obat-obat terlarang? Secara pisik boleh jadi kita sudah merdeka, namun secara subtansial pada dasarnya kita belum merdeka. Karena esensi kemerdekaan adalah lepas dari segala ketergantungan yang bersumber dari luar diri kita.

Kemerdekaan yang telah diproklamirkan oleh para pendiri bangsa ini diperoleh, bukan sebagai hadiah atau belas kasihan dari kolonial. Melainkan dengan pengorbanan yang tidak kecil, bahkan tidak terhitung para pejuang dan syuhada yang gugur sebagai Kusuma Bangsa. Mestinya, diisi dengan prestasi kerja di segala bidang melalui kerja bersama. Kini saatnya kita mengubah makna kerja dengan cara setiap orang melakukan pekerjaan yang didukung oleh keahlian dan keterlibatan hati. Pekerjaan akan menjadi sangat membosankan, bahkan dapat berubah sebagai ruang tahanan jika tidak melibatkan hati dan keterampilan.

Jenis pekerjaan apa pun yang digeluti, mestinya bisa diubah sebagai aktualisasi diri yang menyenangkan. Sehingga, siapa pun akan bekerja maksimal dan profesional. Sebagai anugerah Tuhan, bukankah hidup ini harus dirayakan dengan kerja-kerja kreatif dan produktif? Suasana
kerja dapat diciptakan lebih nyaman dan menyenangkan dengan dukungan teknologi modern, tanpa harus mengurangi produktivitas dari setiap profesi yang kita geluti.

Setiap orang diciptakan memiliki kekurangan dan kelebihan. Tidak seorang pun diciptakan tanpa membutuhkan bantuan orang lain. Sehebat apa pun, ia pasti memiliki suatu kelemahan karena itulah ia membutuhkan sinergitas dengan orang lain, ada potensi kebaikan dan potensi keburukan yang bermukim pada diri setiap orang. Ketidaksempurnaan yang terdapat pada diri seseorang agar manusia saling membantu antara satu dengan yang lain, untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Tidak dapat dibayangkan sekiranya manusia diberikan kesempurnaan, sehingga setiap orang tidak lagi membutuhkan orang lain untuk bekerjasama menyelesaikan persoalan hidup masing-masing.

Mengisi kemerdekaan seharusnya semakin mengokohkan persatuan dengan cara menjadi pemimpin yang konsisten dan berlandaskan kejujuran untuk memimpin negara, dan mengatur pemerintahan. Harus ada yang menjadi ulama dan cendekiawan untuk menuntun umat agar menjadi orang yang berilmu pengetahuan. Harus ada yang menjadi wiraswastawan dan pekerja yang ulet untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Dari masing-masing peran yang dilakonkan, kehidupan akan menjadi indah melalui prinsip persatuan untuk mencapai kejayaan bersama. (*)


div>