MINGGU , 16 DESEMBER 2018

Evaluasi Diri

Reporter:

rakyat-admin

Editor:

Selasa , 20 Desember 2016 10:07
Evaluasi Diri

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

Perjalanan hidup siapa pun tidak terlepas dari suka-duka, senyum dan tangis, bahagia dan sengsara, datang silih berganti. Catatan kehidupan ibarat lembaran putih. Pilihan yang tersedia, Tuhan memberikan kebebasan untuk mengisinya dengan amal, sesuai dengan pilihan kita sendiri. Bagaimana mengukir dan mengurai catatan-catatan dalam lembaran itu dalam bentuk kebajikan.

Tidak ada orang yang bercita-cita ingin menjadi pemulung, penarik becak, tukang sapu, sopir angkot, kuli bangunan, pengemis, dan semacamnya. Dengar saja jawaban mereka ketika ditanya ingin jadi apa. Umumnya menjawab ingin jadi pengusaha sukses, artis terkenal, desainer ternama, insinyur, dokter, profesor, menteri, bahkan presiden. Tidak ada yang salah pada jawaban seperti itu, hanya perlu menyadari kapasitas kita.

Kesempatan untuk melakukan kebaikan yang bermanfaat bagi sesama tidak pernah tertutup. Apapun pekerjaan atau profesi yang digeluti. Seburam apapun lembaran kehidupan yang telah kita tempuh, masih tersedia lembaran putih di hari esok untuk memperbaiki catatan kelam di masa lalu. Orang bijak berpesan “belajarlah pada hari kemarin, jalani hidup hari ini, dan beri harapan untuk hari esok”.

Kebajikan yang kita kerjakan tidak ada yang sia-sia, juga tidak merugikan pelakunya, serta tidak akan membawa rasa kesal di hati. Sekecil apapun perbuatan baik, tidak ada yang luput dari catatan malaikat. Ketika melakukan suatu kebaikan kepada seseorang, kemudian orang tersebut justru menyikapi sebaliknya, ibarat ungkapan “air susu dibalas dengan air tuba”, kebaikan dibalas dengan keburukan. Jangan kecewa, itu berarti Tuhan tidak memilih orang tersebut menyalurkan kebaikan kepada kita, Tuhan akan memilih tangan-tangan lain untuk menyalurkan kebaikan pada saat kita butuhkan.

Dalam hal rezeki, Tuhan yang Maha Pemurah telah menyediakan seluruh kebutuhan manusia secara melimpah. Namun, bumi dan langit beserta isinya selalu saja dirasa kurang bagi mereka yang berjiwa tamak, rakus dan tidak mampu bersyukur. Aturan Tuhan sangat tepat dan tidak mungkin meleset. Ada rezeki yang diperuntukkan bagi orang yang menjemput, ada rezeki bagi yang menunggu. Ada rezeki untuk mereka yang rajin, ada untuk mereka yang malas. Ada rezeki bagi mereka yang bersyukur, ada juga untuk mereka yang mengeluh. Kita tinggal menjalani dengan kerja keras, bersyukur kemudian berbagi kepada sesama. Orang bijak berkata: Jangan berharap awan berwarna jingga, jika mentari tidak terbenam di ufuk Barat. Jangan bermimpi meraih kesuksesan tanpa usaha dan kerja keras.

Ada beberapa hal yang patut menjadi perhatian setiap orang dalam kehidupan yang dilaluinya sebagai bagian dari upaya evaluasi diri. Berapa pun usia seseorang, apa pun profesi atau pekerjaaan yang digeluti. Pertama, berkaitan dengan ibadah. Kalau dahulu kita termasuk orang yang tidak perduli terhadap pelaksanaan ibadah, maka seyogianya ada tekad dalam hati untuk tidak larut dalam setiap aktivitas yang dapat menjadi penghalang dalam melaksanakan ibadah. Kedua, aspek pekerjaan dan perolehan rezeki. Seiring dengan perjalanan waktu, kompetisi dalam semua sektor kehidupan tidak bisa dihindari. Meskipun demikian, maka tidaklah benar apabila dengan alasan seperti itu lalu kita menganut sikap yang tidak bisa lagi membedakan mana yang boleh dan mana yang terlarang. Ketiga, aspek kehidupan sosial. Agar kita tidak menjadi orang yang hanya mementingkan diri sendiri, tanpa adanya kepedulian terhadap sesama.

Bersyukur dan keinginan berbagi dengan sesama adalah dua hal yang seringkali membawa berkah diluar perhitungan dan matematika manusia. Tidak ada pertimbangan untung-rugi, melainkan keinginan untuk berbagi kasih sebagaimana Tuhan menabur kasih-Nya kepada makhluk dengan tidak memilih, kasih sayang tanpa syarat. Berbahagialah mereka yang senantiasa menyambung tali kasih terhadap sesama, pesan Tuhan dalam hadis Qudsi “Semua makhluk adalah keluarga-Ku, yang paling Aku cintai adalah mereka yang selalu membahagiakan sesamanya”. Dengan begitu, maka buku kehidupan akan selalu berakhir dengan cerita bahagia. (*)

 


div>