SENIN , 18 DESEMBER 2017

Fashar ‘Seng Ada’ Lawan

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Kamis , 12 Januari 2017 11:17
Fashar ‘Seng Ada’ Lawan

Bakal Calon Bupati Bone Incumbent Andi Fashar Padjalangi

Dinamika Pilkada Bone masih adem anyem saja. Nyaris tak ada figur yang berani tampil menantang incumbent Andi Fashar Padjalangi.

Penulis : Sofyan Basri

Jelang Pilkada Bone 2018 mendatang, suhu politik tidak sepanas daerah lain di Sulsel. Padahal pada Pilkada Bone 2013 sebelumnya diikuti oleh enam pasangan calon.

Sejauh ini hanya incumbent Andi Fashar Padjalangi yang memastikan diri maju di Pilkada Bone. Belum ada figur yang berani tampil secara terang-terangan untuk menantang incumbent pada pesta demokrasi lima tahun tersebut di Bone.

Selain itu, Andi Fashar juga dianggap mengukir banyak prestasi, baik di tingkat provinsi maupun di tingkat nasional. Banyak penghargaan telah diraih, seperti penghargaan Aditya Karya Mahatayoda, Pembina Karang Taruna Terbaik 2016, dan berbagai penghargaan lainnya.

Terkait hal itu, Manajer Konsultasi Celebes Research Centre (CRC), Saiful Bahri mengatakan belum ada data mengenai Pilkada Bone. Namun, Saiful menilai Fashar sudah punya perangkat lebih baik dari penantang.

“Kalau secara data terbaru soal respon masyarakat terhadap Pak Fashar itu belum kita punya, tapi jika secara kinerja dalam pemerintahan itu baik maka akan berdampak pada tingkat elektabilitasnya, bahkan itu bisa mencapai 60 persen,” kata Saiful, Rabu (11/1).

[NEXT-RASUL]

Selain itu, kata Saiful, incumbent akan lebih diuntungkan secara politik dibandingkan dengan penantangnya. Pasalnya, kata dia, incumbent akan bergerak lebih awal daripada penantang yang akan maju.

“Secara politik Pak Fashar itu akan diuntungkan untuk kembali maju dan bertarung pada Pilkada, yakni akan lebih awal bergerak dalam melakukan sosialisasi,” jelasnya.

Keuntungan lain dari seorang incumbent, kata dia, adalah interaksi politik yang lebih intens dengan masyarakat dibandingkan dengan calon lainnya. Modal tersebut akan menjadi pembeda apalagi ketika itu direspon oleh masyarakat.

“Karena kan menjadi kapala daerah pasti akan mengikuti banyak kegiatan sosial yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, saya kira ini akan mudah dikonsolidasikan agar tampilannya kegiatan sosial tapi ada intrik sosialisasi bagi incumbent,” terangnya.

Bukan hanya itu, Saiful mengatakan keuntungan kedua yang dimiliki oleh seorang incumbent adalah mampu mengkonsolidasikan instrumen politik yang ada di daerah. Salah satunya, kata dia adalah dengan menggerakkan kekuatan politik Aparat Sipil Negara (ASN) di lingkungan pemerintah daerah.

“Incumbent juga akan diuntungkan oleh keadaan politik. Artinya incumbent lebih mudah mengkonsultasikannya instrumen politik mulai dari kekuatan politik birokrasi, perangkat desa, hingga komunitas,” ungkapnya.

[NEXT-RASUL]

Oleh karena itu, kata Saiful, untuk menyaingi incumbent pada Pilkada itu mesti bekerja ekstra. “Kalau mau menyaingi incumbent itu mesti bekerka keras. Para kompetitor itu mesti berlari dalam mengkonsolidasikan infrastruktur politiknya,” ujarnya.

Meski demikian, setiap daerah sangat mungkin incumbent ditumbangkan. Dengan catatan, menginvestasikan sosial politik jauh hari sebelum Pilkada. “Biasanya tokoh yang hadir pada Pilkada sebelumnya itu punya peluang, atau tokoh baru yang sudah memiliki jaringan sosial kuat,” ungkapnya.

Saiful menyebutkan, ada empat aspek yang mesti dipenuhi bakal calon yang akan maju pada Pilkada. “Ada empat aspek yang mesti dipenuhi mulai dari figur, konsep yang bagus, tim yang bagus dan kekuatan finansial. Kalau ini sudah ada maka bukan tidak mungkin incumbent akan keok,” pungkasnya.

Sementara Pakar Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Luhur Prianto mengatakan, hampir tiap daerah yang memiliki kepala daerah berprestasi akan sangat dominan kekuatannya ketika maju di Pilkada. Menurutnya, kalaupun ada penantangnya maka itu hanya legalitas saja.

“Ini adalah fakta yang terjadi saat di daerah yang akan menggelar Pilkada, jadi bagi kepala daerah yang berniat maju pada periode keduanya maka yang perlu dilakukan adalah bekerja dan berprestasi, itu saja,” kata Luhur.

Khusus di Pilkada Bone, Luhur menilai Fashar sulit ditumbangkan karena telah membawa perubahan bagi masyarakat Bone. “Saya melihat Pak Fashar itu berprestasi dan mampu menguasai politik karena tidak berlaku diskriminatif. Inilah yang membuat kecenderungannya kuat untuk kembali maju dan bertarung di Pilkada,” jelasnya.

[NEXT-RASUL]

Ia menambahkan, kalaupun ada figur baru yang menyatakan diri maju maka hal itu akan menjadi sulit. Pasalnya, kata dia, infrastruktur sosial budaya dan politik sudah dikuasai oleh incumbent.

“Saya pikir butuh kekuatan yang besar untuk melawan incumbent. Kalau pun ada penantangnya maka harus bekerja ekstra. Apalagi kalau dilihat dari sisi waktu untuk saat ini belum ada figur yang menyatakan diri menjadi penantang,” ungkapnya.

Meski demikian, Luhur menilai, politik itu sangat dinamis. “Bisa jadi ada lawan. Sehingga kekuatan incumbent dalam situasi yang normal akan bisa dikalahkan karena dalam politik kan ada biasanya ada hal yang menjadi pembeda,” pungkasnya. (D)


Tag
  • pilkada 2018
  •  
    div>