KAMIS , 15 NOVEMBER 2018

FESyar 2017 Resmi Digelar

Reporter:

Editor:

asharabdullah

Jumat , 25 Agustus 2017 20:45
FESyar 2017 Resmi Digelar

Suasana pembukaan FESyar 2017.

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM –  Festival Ekonomi Syariah (FESyar) di kawasan Timur Indonesia tahun 2017 telah diselenggarakan di Mall Phinisi Point – The Rinra Hotel, Jl Metro Tanjung Bunga, Makassar, Jumat (25/8).

FESyar ini merupakan rangkaian dari menuju Indonesia Shari’a Economic Festival (ISEF) yang akan dilaksanakan di Surabaya, pada tanggal 8 hingga 11 November 2017 mendatang. Dalam rangka, mendorong pengembangan keuangan syariah dan kegiatan ekononi di sektor riil. Dengan melibatkan 18 provinsi di kawasan timur Indonesia, kemudian dilanjutkan oleh pelaksanaan FESyar di kota Bandung dan Medan.

Di FESyar 2017 mengusung tema, yakni mendorong pengembangan kegiatan kewirausahaan dan UMKM berbasis ekonomi syariah. Kegiatan ini dibagi menjadi dua bagian, Shari’a forum dan Shari’a Fair. Shari’a forum diadakan untuk mengangkat dan berdiskusi mengenai berbagai topik dan kajian pengembangan ekonomi syariah yang dilaksanakan hingga 11 Oktober 2017 mendatang. Sementara Shari’a Fair, berlangsung pada tanggal 25 sampai dengan 27 Agustus 2017.

Kepala Kpw Bank Indonesia provinsi SulSel, Bambang Kusmiarso mengatakan pelaksanaan Fesyar pertama di kawasan timur Indonesia menjadi sebuah momentum penting mengingat beberapa hal, yakni potensi pariwisata Islami yang masih belum tergali secara optimal di kawasan timur Indonesia.

“Potensi zakat dan wakaf di kawasan timur Indonesia cukup besar. Total penerimaan ZIS hanya di Sulsel selama tahun 2015 mencapai Rp80,3 miliar dengan komposisi Rp59,50 miliar berasal dari zakat fitrah diikuti Rp5,12 miliar dari zakat mal dan Rp15,70 miliar dari infaq,” ujar Bambang dalam sambutannya.

Menurutnya, terdapat potensi khusus yang dapat dikembangkan di Sulsel, memiliki 10.440 tanah wakaf dengan luas 1.029 juta m2 (23,35 persen dari tanah wakaf nasional) dan 53 persen di antaranya telah bersertifikat wakaf. “Jumlah santri Sulsel capai 66,217 orang, tersebar di 294 pondok pesantren (terbanyak ke dua di KTI dan ke sembilan nasional). Penduduk muslim Sulsel capai 7,2 juta orang atau setara 28,56 persen penduduk muslim di KTI,” urainya.

Bambang mengatakan, peningkatan peran ekonomi syariah dapat tergambar dari aset perbankan syariah. Porsi aset perbankan syariah di KTI pada Juli 2017 adalah 10,12 persen. “Diharapkan terus bertumbuh selaras dengan upaya kita bersama agar terus memajukan ekonomi syariah,” jelasnya.

[NEXT-RASUL]

Sementara itu, Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan kinerja ekonomi dan keuangan syariah dunia memperlihatkan pertumbuhan yang pesat. Tahun 2015 lalu, volume industri halal global mencapai USD 3,84 triliun. Diperkirakan meningkat capai USD 6,38 triliun tahun 2021.

“Meskipun Indonesia menduduki peringkat ke 10 sebagai player dalam industri keuangan syariah global, namun secara umum posisi Indonesia lebih merupakan pasar produk halal terbesar. Tahun 2015, volume pasar makanan halal, merupakan pasar utama produk halal domestik dan juga peringkat pertama dalam pasar global capai USD 160 miliar,” rincinya.

Sejalan dengan akan mulai diimplementasikannya UU No. 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal pada tahun 2019, kata dia kondisi tadi menunjukkan betapa kuatnya potensi Indonesia dalam pasar produk halal.

“Namun, potensi ini juga dapat mencerminkan ancaman jika ternyata produk halal tersebut tidak dapat dipenuhi secara domestik, sehingga berimplikasi terhadap besarnya impor yang akan menekan posisi neraca pembayaran Indonesia. Pada gilirannya, hal ini tentu akan mengancam kemandirian dan ketahanan perekonomian daerah maupun nasional,” imbuhnya.

Di sisi lain, Perry mengatakan studi world bank tahun 2016, memperlihatkan bahwa Indonesia termasuk salah satu negara yang harus memperhatikan masalah kesenjangan secara lebih baik lahi. “Tampak dari Gini rasio Indonesia yang masih cukup tinggi yaitu mencapai 0,393 pada Maret 2017. Kesenjangan antar lapisan masyarakat terlihat di berbagai wilayah Indonesia, seperti misalnya di provinsi Sulawesi Selatan ini dimana Gini rasio mencapai 0,407,” tukasnya.

Beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan antara lain seminar model pemberdayaan pesantren dengan narasumber yang berasal dari Pondok Pesantren As-Adiyah Sulawesi Selatan, Ponpes Shuffah Hizbullah Maluku dan Ponpes Al-Muhajirin Darussalam dari Sulawesi Tenggara.

Selain itu akan dilaksanakan talkshow pengembangan Islamic social finance dalam rangka mewujudkan masyarakat sejahtera, entrepreneur muda berbasis syariah, pengembangan industry halal, optimalisasi zakat dalam pengembangan ekonomi daerah, kurikulum pendidikan syariah dan blue print ekonomi syariah.

[NEXT-RASUL]

Dalam Shari’a Fair, tema yang dikhususkan adalah aspek-aspek ekonomi syariah yang berpotensi untuk dikembangkan, yaitu 5F: Finance (keuangan), Fashion, Food (kuliner), Funtrepreneur (wirausaha), dan Fundutainment (pendidikan dan hiburan). Shari’a Fair menampilkan rangkaian pameran produk-produk UMKM kreatif berbasis syariah yang juga disertai dengan talkshow, workshop, hiburan dan kuliner berbasis syariah. Dengan penyelenggaraan Shari’a Fair, masyarakat dapat berkenalan dan bersentuhan langsung dengan produk ekonomi dan keuangan syariah.


div>