MINGGU , 19 AGUSTUS 2018

Figur Non Parpol “Ancam” Kader Partai

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Senin , 18 April 2016 10:34
Figur Non Parpol “Ancam” Kader Partai

int

MAKASSAR,RAKYATSULSEL.COM – Pemilihan Gubernur Sulsel yang dijadwalkan akan berlangsung pada 2018 masih terbilang cukup jauh. Namun sejumlah figur, baik itu kader partai politik (parpol) dan non parpol yang berniat untuk ikut bertarung dalam helatan politik tersebut telah melakukan pencitraan dan sosialisasi, ke masyarakat dan parpol.

Menariknya, para kandidat dari non partai malah lebih gencar melakukan komunikasi politik pada beberapa partai. Bahkan, ada juga yang telah membentuk tim hingga ketingkat 24 kabupaten/kota di Sulsel.

Adapun mereka antara lain, DR. Ir.Abdul Rivai Ras, MM, MS, MSi dari kalangan militer, Drs. Burhanuddin Andi, S.H., M.H dari kalangan Polri, dan Bupati kabupaten Bantaeng, Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M.Agr yang mewakili kalangan birokrat.

Disebut paling intens melakukan pencitraan dan sosialisasi serta komunikasi kepada parpol, Abdul Rivai Ras mengatakan, parpol belum bisa menjamin akan mendorong kadernya maju pada Pilgub mendatang. Namun, harus melalui mekanisme dan syarat yang telah ditetapkan partai seperti hasil survei dan lain-lain.

“Parpol kan tidak serta merta langsung mengusung kadernya untuk diusung pada Pilgub nanti, pasti ada mekanisme yang dilalui, makanya celah itu yang akan saya gunakan untuk diusung nantinya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, ketika nantinya akan diusung oleh partai maka akan berkomitmen untuk partai tersebut. Ia menilai, hal tersebut merupakan bentuk investasinya dan akan menunjukan bahwa dirinya siap bekerja untuk partai dan rakyat. “Ketika ada partai yang mengusung saya maka saya akan membuktikan bahwa saya siap bekerja untuk rakyat dan partai yang telah mengusung saya, dan saya akan berkomitmen dengan hal tersebut,” jelasnya.

[NEXT-RASUL]

Diketahui, Abdul Rivai Ras telah melakukan komunikasi dengan berbagai parpol, antara lain Partai Demokrat, Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), dan Partai Nasional Demokrat (NasDem).

“Paling tidak selama saya jalan melakukan sosialisasi, saya juga telah melakukan komunikasi dengan beberapa Parpol seperti, Demokrat, NasDem, Hanura, PAN, PKS, dan Gerindra,” ungkap Rivai, Minggu (17/4).

Sementara itu, Tim Keluarga Nurdin Abdullah, Karaeng Joni mengatakan Nurdin Abdullah kini intens melakukan komunikasi dengan beberapa partai seperti Demokrat, NasDem, PPP, PKS, dan PDIP. Namun, ia mengaku masih hanya masih sebatas komunikasi belum menggalang dukungan.

“Pak Nurdin memang telah intens melakukan komunikasi dengan beberapa parpol tapi itu hanya sebatas komunikasi saja, belum mengarah pada permintaan dukungan,” ujarnya.

Ia menambahkan, arah komunikasi yang dibangun Nurdin Abdullah masih sebatas silaturahmi. Menurutnya, hal tersebut masih dalam tahap wajar sebagai calon yang akan maju pada Pilgub mendatang. “Yah komunikasi yang dilakukan Pak Nurdin masih dalam tahap yang wajar lah,” ucapnya.

Lain halnya dengan Burhanuddin Andi yang ditemui pada sela-sela acara Fit And Proper Test bakal calon kepala daerah DPP PDIP di Makassar, mengatakan kedatangannya pada acara tersebut hanya untuk bertemu dengan Bambang Dwi Hartono yang merupakan teman lamanya. Selain itu, kata dia, pertemuan tersebut untuk mempertebal keakraban.

[NEXT-RASUL]

“Saya datang disini hanya untuk bertemu dengan teman lama saya Pak Bambang, selain karena lama baru bertemu saya juga ingin mempertebal keakraban kami,” ujarnya.

Ia menambahkan, masih belum berencana untuk melakukan deklarasi sebab hal tersebut bukan menjadi sebuah kewajiban untuk dilakukan. Bukan hanya itu, ia mengaku, saat ini tim yang jalan masih dari kalangan keluarga dan sahabat.

“Belum ada rencana, meskipun sebenarnya tidak melakukan deklarasi sebab masyarakat kan sudah tahu, dan yang tim yang jalan saat ini itu masih sekedar dari kalangan keluarga dan sahabat,” jelasnya.

Lanjut, Koordinator Staff Ahli POLRI ini mengatakan, dirinya belum memikirkan akan berpaket dengan kalangan politisi, birokrat, maupun pengusaha. Menurutnya, ia hanya akan berpaket dengan tokoh yang punya potensi untuk menang.

“Saya tidak mau terbelenggu oleh pasangan, karena kan ada delapan karakter kewilayahan yang perlu untuk dipikirkan, jika orang timur tentunya perlu mengambil orang barat, saya misalnya sebagai orang bugis tentu harus melakukan komunikasi dengan diluar itu,” terangnya.

Mantan Kapolda Sulselbar ini mengatakan ketika nantinya terpilih sebagai Gubernur Sulsel maka akan memimpin berdasarkan kearifan lokal. Ia menilai, kearifan lokal yang ada di Sulsel sudah mulai berkurang.

[NEXT-RASUL]

“Berdasarkan pengalaman saya sebagai Kapolda Sulselbar, kearifan lokal si pakalebbi, si pakatau, dan si pakainge’ itu sudah mulai berkurang, olehnya karena itu ketika terpilih menjadi Gubernur maka akan memimpin berdasarkan kearifan lokal tersebut,” jelasnya.

Terkait hal itu, ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PPP, Amir Uskara mengatakan belum ingin membicarakan tentang Pilgub Sulsel. Karena, kata dia, formatur DPP PPP sedang fokus melakukan pembenahan dan penyusunan struktur pengurus DPP PPP.

“Saya belum bisa membicarakan hal itu (Pilgub, red) karena saya sebagai formatur DPP PPP masih fokus untuk menyusun struktur pengurus DPP PPP,” ungkapnya.

Meski begitu, anggota Komisi X DPR RI ini mengaku telah beberapa bakal calon yang melakukan komunikasi dengan PPP. Tapi, belum ada yang intens melakukan komunikasi untuk meminta dukungan. “Kalau berbicara komunikasi memang sudah banyak, tapi belum ada yang sampai intens,” ujarnya.

Sementara Sekretaris DPD Hanura Sulsel, Waris Halid mengatakan belum ada bakal calon yang akan maju di Pilgub untuk melakukan komunikasi dengan DPD Hanura. Namun, ia menduga telah ada bakal calon yang melakukan komunikasi dengan pihak DPP Hanura.

“Kalau kita di DPD Hanura Sulsel sampai saat ini belum ada bakal calon yang akan maju di Pilgub untuk melakukan komunikasi, tapi bisa saja ada yang telah melakukan hal tersebut dengan pihak DPP,” ungkapnya.

[NEXT-RASUL]

Meski begitu, kata Waris, setiap bakal calon yang akan di usung oleh Hanura tetap harus melalui mekanisme yang pada partai. Ia mengaku, hal tersebut merupakan sebuah bentuk kewajiban bakal calon yang akan diusung oleh Hanura.

“Saya pikir meski ada bakal calon yang telah melakukan komunikasi dengan pihak DPP tapi tentu juga harus melalui mekanisme yang ada pada partai seperti melalui penjaringan dan Fit And Proper Test juga tentu saja hasil survei,” pungkasnya.

Sementara itu, Pakar Politik Universitas Hasanuddin (Unhas), Adi Suryadi Culla menuturkan, pertarung di level tinggi seperti Pemilihan Gubernur ini memang sangat kesulitan jika kedua figur tersebut memilih calon independen, karena jika mereka ada di pilihan yang positif dengan memilih mengendarai suatu partai itu sangat bagus.

“Sangat sulit terpilih jika di pertarungan Pilgub mau bertarung dengan cara independen, itu sangat sulit untuk mendulang suara dengan maksimal, pasalnya jangkauan Sulsel ini sangat luas yang basisnya ke daerah-daerah pelosok. Kalau mau lebih berpeluang harus ada parpol,” tuturnya

Lanjut Adi, untuk diusung parpol itu sangat tidak mudah karena ada mekanisme yang mereka harus dilalui, seperti melalui survei dan lain sebagainya, itu tidak semudah dengan apa yang mereka inginkan begitu saja.

[NEXT-RASUL]

“Di parpol sebenarnya tantangannya tidak mudah, parpol itu ada mekanisme dalam merekrut figur, jadi itu tidak seperti mengikuti telunjuk jari saja, mereka harus berhadapan dengan proses seleksi yang akan dilakukan berdasarkan survei partai,” ujarnya.

Untuk mendapatkan suatu dukungan Partai tantangannya juga sangat berat, Kata Adi, karena harusnya juga berhadapan dengan figur internal partai yang bersangkutan, untuk mendapatkan dukungan partai mereka harus lalui itu semua, karena itu partai kemungkinan di dukungan itu harus ada prosedur mereka harus tempuh.

“Paling tidak mereka menengok partai-partai yang tidak mempunyai figur, jangan menengok parpol yang mempunyai elektabilitas yang tinggi seperti Golkar akan memunculkan figur-figur seperti Ichsan YL, Roem, Agus Arifin Nu’mang, di Gerindra ada La Tindro, Nasdem, Akbar Faisal dan Luthfi, jadi beberapa Partai yang sudah mempunyai figur yang itu agak kesulitan, kecuali dia mau memilih apakah mau kosong satu atau dua mereka harus bersepakat dengan itu agar bisa di usung oleh parpol-parpol itu,” ungkapnya.

Lebih jauh menurut Adi, peluang mereka untuk diusung oleh parpol tergantung dari elektabilitas kedua figur ini, dan dinamika internal partai yang mereka lobi. “Mereka ini bisa diusung oleh parpol seperti, jika ada parpol tidak mempunyai figur, kedua dinamika di parpol dan lobi-lobi mereka saat berkomunikasi politik yang lebih terbuka,” jelasnya.

Sementara itu, Koordinator JSI Kawasan Indonesia Timur, Irfan Jaya mengatakan, pada dasarnya tidak ada parpol yang tidak ada yang mau kalah usungannya di pilkada. Oleh karena itu, parpol biasanya memiliki dua parameter dalam mengusung kandidat. Yang pertama kekaderan. Parpol senantiasa mengutamakan kadernya untuk diusung di Pilkada. Lalu yang kedua adalah elektabilitas.

“Jikalau kader parpol tidak ada yang berpotensi menang, maka parpol akan melirik kandidat eksternal partai yang berpotensi menang. Oleh karena itu, meski Nurdin dan Rivai bukan kader parpol, namun bukan berarti tidak punya peluang diusung oleh parpol. Tugas mereka adalah meningkatkan elektabilitasnya sehingga bisa dipertimbangkan oleh parpol,” katanya.

[NEXT-RASUL]

Irfan menambahkan, peluang mereka sangat terbuka jika ingin diusung sepanjang bisa jauh lebih mengungguli elektabilitas kader parpol itu sendiri. “Apakah mereka bisa meraih dukungan maksimal? Tegantung kerja – kerja politik mereka dalam meraih simpati grassroots,” tutupnya.


div>