SENIN , 23 JULI 2018

Figur Pilkada

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Rabu , 03 Februari 2016 12:00
Figur Pilkada

int

Sistem demokrasi memberikan ruang bagi setiap warga negara untuk ambil bagian dari proses politik, termasuk untuk Pilkada, baik Gubernur maupun Bupati/Walikota. Pemilihan Kepala Daearah gelobang kedua secara serentak akan dilaksanakan pada Pebruari 2017, dan di Sulawesi Selatan hanya ada satu kabupaten yang menyelenggarakannya yaitu Kabupaten Takalar.

Untuk gelombang ketiga Pikada serentak akan dilaksanakan pada Tahun 2018. Di Sulawesi Selatan akan diikuti oleh 8 Kabupaten/Kota dan Pilgub.

Sekalipun pelaksanaan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Sulawesi Selatan masih dua tahun lagi, tapi sejumlah figur sudah mulai bermunculan dan masuk dalam bursa calon gubernur Sulawesi Selatan. Antara lain Wakil gubernur sekarang Agus Arifin Nu’mang, Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah, Mantan Bupati Enrekang La Tinro La Tunrung, Mantan Bupati Luwu Utara Luthfi A Mutty, dan mantan Bupati Gowa Ichsan Yasin Limpo serta politikus Akbar Faisal serta pengusaha Erwin Aksa.

Pertarungan memperebutkan Sulsel 01 tidaklah mudah. Sebab kendaraan partai tidak bisa diremehkan. Sekalipun ada figure yang memasyarakat, tapi tidak ada kendaraan, maka dapat dipastikan sang calon akan tersingkir.

Bagaima dengan calon independent? Nampaknya solusi tersebut bias ditempuh oleh kandidat yang tidak ingin dikecewaka oleh Partai.Tapi syarat dukungan tidaklah mudah seperti Sulawesi Selatan yang penduduknya diatas 6 juta jiwa maka dukungan harus 7,5 persen dari jumlah penduduk sebagaimana yang ditegaskan pada pasal 41 UU Nomor 8 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Walikota Menjadi Undang-Undang.

Namun setelah pasal tersebut digugat di Mahkamah Konstitusi (MK), maka 7,5 persen jumlah penduduk diganti dengan 7,5 persen dari daftar pemilih tetap (DPT).

Fenomena naiknya perseorangan di Pilkada Sulsel telah ditorehkan pada Pilkada Kabupaten Gowa. Sehingga bukan tidak mungkin calon independent akan bisa berbicara banyak. Apalagi waktu untuk mengkampanyekan calon begitu panjang yaitu selama kurang lebih 5 bulan.

Biaya politik pencalonan melalui jalur perseorangan relatif lebih murah dibanding pencalonan menggunakan jalur partai. Jika dalam dukungan pada perseorangan tidak dibarengi dengan pemberian amplop bagi masyarakat yang memberikan dukungan.  Dengan semakin murahnya ongkos politik dalam proses pencalonan ini akan sedikit banyak menekan timbulnya korupsi dalam pemerintahan nantinya.

Wacana figur yang menghiasi media belakangan ini, bukanlah jaminan akan pasti menjadi calon Gubernur yang akan ditetapkan oleh KPU nantinya. Konstalasi akan berubah seiring dengan masuknya tahapan Pilkada, mulai dari penjaringan baka calon oleh Partai Politik dan tentunya loby dari kandidat itu sendiri. Sembari mendengarkan masuakan dari lembaga survey akan peluang kandidat yang akan diusung Partai Politik.

Geo politik juga menjadi prasyarat untuk dapat memenangkan pertarungan Pilgub 2018. Sehingga sang calon Gubernur haruslah pandai-pandai mencari pendamping untuk dapat meraup suara sebnyak mungkin. (*)


Tag
div>