MINGGU , 21 OKTOBER 2018

Ford, Panasonic dan Toshiba

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Jumat , 12 Februari 2016 12:00
Ford, Panasonic dan Toshiba

Armin Mustamin Toputiri

Selama sepekan, 8–13 Februai 2016 yang lalu, Toyota Motor Corp menghentikan sementara aktifitas produksi di seluruh pabriknya di Jepang. Keputusan diambil produsen mobil terlaris di dunia itu (di 2015 rata-rata terjual 1 unit mobil Toyota tiap 3 detik) diakibatkan oleh meledaknya pabrik baja, Aichi Steel, yang menjadi pemasok utama bahan baku digunakan memproduksi suku cadang, mesin, transmisi hingga sasis mobil berlogo kepala kijang itu.

Kabar buruk tentang industri otomotif, tidak hanya tersiar dari negeri matahari terbit, tetapi juga di Indonesia. Produsen otomotif asal Amerika Serikat, Ford Motor Company mengambil sikap untuk menarik perusahaannya di Indonesia. Bahkan juga di negeri Sakura, Jepang. Lea Kartika Indra, Direktur Komunikasi Manajemen Ford di Indonesia, memberi berdalih bahwa hengkangnya mereka karena operasi bisnis di kedua negara itutidak lagi memiliki prospek.

Berdasar data disampaikan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gakaindo), menunjukkan jika penjualan mobil Ford di Indonesia memang tiap tahun terus tergerus. Di tahun 2015 lalu, penjualan mobil merek Ford hanya sebanyak 4,986 unit. Menurun 58,4 % dari capaian 2014, yaitu sebanyak 1.0008 unit. Lea Kartika tidak menampik data Gakaindo itu, bahkan membenarkan data itu sebagai alasan utama mereka keluar dari Indonesia.

Tapi pada perkembangan terakhir, tidak hanya Ford Motor Company yang mengambil sikap keluar dari Indonesia, belakangan diketahui bahwa sejak April 2016 nanti, dua perusahaan raksasa di bidang elektronik asal Jepang, Panasonic dan Toshiba, juga menegaskan sikapnya untuk segera hengkang dari Indonesia. Pabrik kedua perusahaan itu, melakukan sikap yang sama dengan produsen mobil Ford, menghentikan usaha dan operasinya di Indonesia.

Penutupan pabrik kedua perusahaan itu, diakibatkan melemahnya daya beli masyarakat di Indonesia diakibatkan persaingan pasar yang sudah sangat beragam. Ditambah persaingan produksi elektronik dari Negara lain yang ikut mendominasi pangsa pasar Indonesia. Imbas besar dilahirkan yang sulit mereka ingkari, penjualan poduk keduanya turun secara drastis. Terlebih lagi karena pelemahan ekonomi dunia mempengaruhi investasi sektor manufaktur.

Jika hengkangnya sejumlah perusahaan internasional itu dari tanah air karena dalih akibat daya beli masyarakat menurun, tentu saja akan ikut berdampak pada tidak akan tercapainya target pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dipatok 5,3 % dalam APBN 2016. Padahal sisi lain, pemerintah telah mengeluarkan serangkaian paket kebijakan ekonomi yang diharapkan dapat  memberi keleluasaan dan keringanan terhadap berkembangnya investasi nasional.

Memang sangat anomali. Lain yang diharapkan, tapi sebaliknya terjadi. Bahkan risiko paling berat dihadapi negara ke depan, karena hengkangnya sejumlah perusahaan itu, menyimpan beban terhadap adanya puluhribu penganggur yang diakibatkan pemutusan hubungan kerja sejumlah perusahaan internasional itu. Terhadap kenyataan pelit itu, Menteri Perdagangan, Thomas Lembong, hanya bias berucap. “Hengkangnya para investor itu, patut kita sesalkan”. (*)


Tag
div>