KAMIS , 15 NOVEMBER 2018

Gagal Ekspor, Limbah Nikel Kini Ancam Kesehatan Masyarakat Kabupaten Bantaeng

Reporter:

Jejeth Aprianto

Editor:

Iskanto

Senin , 03 September 2018 12:31
Gagal Ekspor, Limbah Nikel Kini Ancam Kesehatan Masyarakat Kabupaten Bantaeng

Buangan peleburan biji nikel (Slag)  yang ditimbun pada dermaga pelabuhan Smalter PT. Huadi yang ada di Desa Papan Loe Kecamatan Pa'jukukang.

BANTAENG, RAKYATSULSEL.COM – Setelah kegagalan ekspor nikel oleh PT Huadi Nickel-Alloy Indonesia pada 5 Mei 2018 seperti dikatakan oleh Bupati Bantaeng dua periode Nurdin Abdullah beberapa waktu yang lalu.

Kini buangan peleburan biji nikel (Slag)  yang ditimbun pada dermaga pelabuhan Smalter PT. Huadi yang ada di Desa Papan Loe Kecamatan Pa’jukukang sudah mulai turun ke laut. Hal ini tentunya secara perlahan tapi pasti akan berdampak buruk pada ekosistem laut yang ada di perairan Bantaeng.

Mengingat Slag tersebut mengandung racun dan zat kimia yang tentunya sangat berbahaya bagi kesehatan. Bahkan Slag juga termasuk dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dan harusnya dapat menjadi perhatian khusus bagi pemilik Smelter dan Pemerintah Kabupaten.

Pengurus Pusat Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM)  Sulsel, Yudha Jaya mengatakan pemerintah harus cepat tanggap dalam menangani hal tersebut. Terlebih lagi ancamannya adalah nyawa masyarakat.

” ini harus cepat ditanggapi oleh pemerintah Bantaeng jangan sampai berdampak negatif ke masyarakat dan ekosistem laut. jika musim hujan slag mudah mencair dan di musim kemarau slag yang tergolong limbah ini mudah menjadi debu,” jelas dia, Senin (3/9). (*)


div>