SENIN , 15 OKTOBER 2018

Gamawan Fauzi Terima Uang Korupsi e-KTP, Nilainya Wow!

Reporter:

Editor:

dedi

Kamis , 09 Maret 2017 20:26
Gamawan Fauzi Terima Uang Korupsi e-KTP, Nilainya Wow!

int

JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM – Nama Mantan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi disebut memperoleh keuntungan hasil korupsi berjamaah dalam proyek pengadaan kartu tanda penduduk berbasis elektronik (e-KTP). Tak tanggung-tanggung, JPU KPK menyebut Gamawan menerima aliran dana sebesar USD 4,5 juta dan Rp 50 juta.

Uang itu hasil perbuatan dua mantan pejabat Ditjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri Irman dan Sugiharto. Hal itu tercantum dalam surat dakwaan JPU KPK atas Irman dan Sugiharto yang dibacakan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (9/3).

“Selain memperkaya diri sendiri, perbuatan para terdakwa juga memperkaya orang lain dan korporasi sebagai berikut: Gamawan Fauzi sejumlah USD 4,5 juta dan Rp 50 juta,” kata Jaksa Irene Putri saat membacakan surat dakwaan.

Gamawan disebutkan beberapa kali menerima uang dari pengusaha rekanan Kemendagri, Andi Agustinus alias Andi Narogong. Pada Maret 2011, Andi memberikan uang kepada Gamawan Fauzi melalui Afdal Noverman sebesar USD 2 juta. “Dengan maksud agar pelelangan pekerjaan penerapan KTP berbasis NIK secara Nasional tidak dibatalkan oleh Gamawan Fauzi,” papar Jaksa Irene.

Selanjutnya, pada 20 Juni 2011, panitia pengadaan menyampaikaan usulan penetapan pemenang pelaksana pekerjaan penerapan e-KTP tahun 2011-2012 dengan usulan pemenang yaitu Konsorsium Percetakan Negara Republik Indonesia (PNRI), Lead Konsorsium Perum Percetakan Negara RI dengan harga penawaran Rp 5,84 triliun.

Sementara pemenang cadangannya adalah Konsorsium Astragraphia, Lead Konsorsium PT Astra Graphia dengan harga penawaran Rp 5,95 triliun. “Bahwa untuk memperlancar proses penetapan pemenang lelang, pada pertengahan Juni 2011 Andi Narogong kembali memberikan uang kepada Gamawan Fauzi melalui saudaranya yakni Azmin Aulia sejumlah USD 2,5 juta,” papar Jaksa.

Beberapa hari kemudian, Gamawan menerima nota dinas dari ketua panitia pengadaan yang pada pokoknya mengusulkan Konsorsium PNRI sebagai pemenang lelang pekerjaan proyek e-KTP. Berdasarkan usulan itu, Gamawan menetapkan Konsorsium PNRI sebagai pemenang lelang dengan harga penawaran Rp 5,8 triliun.

Pengerjaan proyek e-KTP diduga terjadi penggelembungan harga (mark up) sehingga menyebabkan kerugian negara sebesar Rp 2,3 triliun.

Selain itu, Gamawan juga menerima uang sebesar Rp 50 juta dari Irman. Uang itu merupakan bagian dari uang yang diperoleh Irman dari Sugiharto dalam masa pekerjaan proyek e-KTP secara bertahap. Uang itu diberikan kepada Irman secara langsung maupun tidak langsung dari vendor melalui Suciati yang seluruhnya berjumlah Rp 1,37 miliar, USD 77.700, dan SGD 6.000. (Put/jpg)

 


div>