Gara-gara Medsos, Banyak Pasutri di Makassar Pilih Cerai

ANGKA perceraian di Kota Makassar pada Januari-April 2016 mencapai 851 kasus. Media sosial (medsos) dituding pemicu utama.

Data Kementerian Agama Sulsel dan Pengadilan Agama Makassar menyebutkan, dari 851 kasus di Kota Makassar, 637 kasus di antaranya karena cerai gugat oleh pihak perempuan, sisanya cerai talak oleh pihak laki-laki.

Kepala Kanwil Kemenag Sulsel, Abdul Wahid Thahir membenarkan anggapan tersebut. Meski ia tidak menyebutkan tingkat persentase dampak medsos terhadap perceraian pasangan suami-istri (pasutri) di kota ini.

“Saya kira itu (medsos, red) juga salah satu penyebab perceraian. Kalau persentasenya saya tidak bisa pastikan. Ada bagian atau bidang yang khusus menjelaskan untuk soal ini,” beber Wahid.

Wahid mengingatkan kepada masyarakat agar lebih waspada terhadap orang-orang yang baru dikenal melalui medsos. Karena semakin banyak kenalan baru di medsos yang membuat tertarik sehingga bisa menimbulkan kecemburuan pasangan. Ujung-ujungnya berakhir gugatan perceraian di Pengadilan Agama.

“Saya kira inilah sehingga medsos bisa jadi penyebab perceraian. Semakin banyak kenalan baru bisa saja salah satunya membuat kita tertarik,” ujarnya.

Kepala Bidang Urusan Agama Islam (Urais) Kemenag Sulsel, Kaswad Sartono menambahkan, perkembangan teknologi khususnya di bidang informasi, sangat besar pengaruhnya terhadap tingkat perceraian. Media sosial yang semakin ramai lanjut dia, juga sering jadi ajang selingkuh.

Hal senada juga disampaikan mantan Pimpinan Pengadilan Agama Makassar, Harijah Damis. Saat masih bertugas di Makassar, kasus cerai gugat yang ditanganinya mendominasi. Penyebabnya kata dia, suami banyak yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KdRT), selingkuh, dan tidak ada tanggung jawab.

Dia membenarkan media sosial yang saat ini marak turut andil terpisahnya pasangan. Ada saja yang memanfaatkan medsos untuk berselingkuh.

“Sebelum bercerai, kami usahakan agar pasangan itu bisa rujuk. Namun, memang kebanyakan tidak bisa lagi dipersatukan. Cerai menjadi jalan terakhir,” kata perempuan yang kini bertugas di Pengadilan Agama Lamongan, Jawa Timur tersebut. (fo/rso)