Selasa, 25 Juli 2017

Gara-gara Pilkada Orang Batal Nikah

Jumat , 19 Mei 2017 10:54
Ilustrasi.(*)
Ilustrasi.(*)

RAKYATSULSEL.COM – Kendati Pilkada DKI Jakarta telah selesai dan menghasilkan siapa pasangan yang terpilih, namun pesta demokrasi itu menyisakan persoalan yang harus segera dibenahi oleh elemen masyarakat dan pemerintah. Sebab efek dari konstesasi itu berimbas ke daerah dan ke wilayah privat.

Sebab di pilkada ibu kota isu suku agama ras dan antargolongan (SARA) “digoreng” begitu renyah dan berulang-ulang. Hal itu berdampak pada cara pandang masyarakat.

“Pilkada ini saling memaki dalam kampanye. Apalagi kasus penistaan agama yang menjerat Ahok sebagai terdakwa penistaan agama,” kata Anggota Fraksi PPP DPR Ahmad Baidowi di sela-sela diskusi yang digelar Perhimpunan Mahasiswa Jakarta, di Hotel Mega Menteng, Jakarta, Kamis (18/5).

Lebih lanjut Baidowi mengatakan, di Pilkada Jakarta banyak bertebaran berita bohong (hoax). Semua itu sangat mempengaruhi masyarakat. “Berita Hoax masuk ke ruang-ruang privat tanpa mengklarifikasi, dan bahkan informasi yang masuk kurang valid,” ucap Baidawi.

Diakuinya, Jakarta sebagai barometer Indonesia bukan hanya berimbas di Jakarta saja, tapi juga sampai ke seluruh pelosok nasional. “Gara-gara Pilkada Jakarta ada orang yang mau nikah batal hanya karena beda pilihan, dan juga suasananya juga berimbas ke Madura,” ungkapnya.

Legislator asal Madura ini menyayangkan, belum ada Undang-Undang yang mengatur masalah hoax, dan masih tataran peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU). “Sudahlah lupakan issu Sara dan Hoax. Mar kita sonsong Indonesia kedepan yang lebih baik,” pungkas mantan wartawan itu.

Senada dengan itu, Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Sahat Martin Sinurat menyebut, berdasar hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menyebut, budaya literasi masyarakat Indonesia pada 2012 terburuk kedua dari 65 negara yang diteliti di dunia.

Indonesia menempati urutan ke 64 dari 65 negara tersebut. Sementara Vietnam justru menempati urutan ke-20 besar. “Jadi kalau masyarakat termakan hoax ya akibat budaya literasi yang sangat rendah. Masyarakat menerima hoax tanpa melihat refrensi dari berita tersebut,” ucapnya.

Ketua Umum BM PAN Ahmad Johan menyayangkan, isu SARA mencuat di Pilkada Jakarta, akibatnya sangat mengganggu kebhinekaan dalam pesta pemilihan gubernur Jakarta. “Sesungguhnya tidak ada persoalan kebhinekaan. Soal NKRI sudah final dan semua anak bangsa dari Sabang sampai Meraoke enggak pernah mempersoalkan tentang hal itu,” ujarnya.