SELASA , 20 NOVEMBER 2018

Gawat, Smelter Bantaeng Beroperasi Warga Sekitar di Rugikan

Reporter:

Jejeth Aprianto

Editor:

Iskanto

Kamis , 06 September 2018 18:01
Gawat, Smelter Bantaeng Beroperasi Warga Sekitar di Rugikan

Buangan peleburan biji nikel (Slag)  yang ditimbun pada dermaga pelabuhan Smalter PT. Huadi yang ada di Desa Papan Loe Kecamatan Pa'jukukang.

BANTAENG, RAKYATSULSEL.COM – Salah satu rumah warga di Desa Papan Loe, Kecamatan Pa’jukukang mengalami kerusakan (Retak) yang diakibatkan oleh getaran dari perusahaan nikel (Smelter) PT. Huadi Nikel – Alloy Indonesia.

Labbang (43) yang jarak rumahnya sekitar 1 kilometer dari PT. Huadi mengatakan sejak Smlter beroperasi beberapa bulan terakhir rumahnya terasa bergetar bahkan jendela juga bergetar dan berakibat pada retaknya dinding rumahnya.

Rumah warga yang retak akibat Smelter Bantaeng Beroperasi.

Sekum PB – HPMB, Abd. Talib yang menemui Labbang mengatakan bahwa kejadian tersebut harus cepat di tanggapi pihak PT. Huadi dan pemerintah kabupaten Bantaeng.

“Karena jangan sampai berakibat yang lebih fatal apalagi di sekitar perusahaan smelter tersebut dihuni ratusan warga yang tentunya kita semua tidak menginginkan sesuatu hal yang tidak kita inginkan bersama,” kata dia, Kamis (6/9).

Keretakan juga dialami beberapa bangunan rumah permanen yang berada disekitar Smelter PT. Huadi.

Salain getaran, kini buangan peleburan biji nikel (Slag) yang ditimbun pada dermaga pelabuhan Smalter PT. Huadi yang ada di Desa Papan Loe Kecamatan Pa’jukukang sudah mulai turun ke laut. Tentunya secara perlahan tapi pasti akan berdampak buruk pada ekosistem laut yang ada di perairan Bantaeng.

Mengingat Slag tersebut mengandung racun dan zat kimia tentu sangat berbahaya bagi kesehatan karena mengandung racun, bahkan Slag juga termasuk dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dan harusnya dapat menjadi perhatian khusus bagi pemilik Smelter dan Pemerintah Kabupaten.

Pengurus Pusat Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) Sulsel, Yudha Jaya mengatakan pemerintah harus cepat tanggap dalam menangani hal tersebut. Terlebih lagi ancamannya adalah nyawa masyarakat.

“Ini harus cepat ditanggapi oleh pemerintah Bantaeng jangan sampai berdampak negatif ke masyarakat dan ekosistem laut. jika musim hujan slag mudah mencair dan di musim kemarau slag yang tergolong limbah ini mudah menjadi debu,” jelas dia. (*)


div>