MINGGU , 21 OKTOBER 2018

Gema Pembebasan Demo Depan UINAM

Reporter:

Editor:

Azis Kuba

Senin , 07 September 2015 21:18

Penulis: Busrah Hisam Ardans (Divisi Humas Gema)

RAKYATSULSEL.COM – Gerakan Mahasiswa (Gema) Pembebasan Komisariat Universitas Islam Negeri Makassar, Senin (7/9/15) menggelar aksi refleksi Agustus 2015 dengan tema” Indonesia dijual dan bertambahnya penderitaan rakyat” di depan Gedung Training Center Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM) Jl. Sultan Alauddin Makassar,

Aksi damai tersebut dilakukan untuk melirik kembali makna kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Dalam Orasinya Ketua Gema Pembebasan Komisariat UINAM, Abdul Rifai mengungkapkan bahwa peringatan kemerdekaan bukan hanya sebagai seremonial dengan menyelenggarakan lomba-lomba seperti lari goni. Makan kerupuk sampai panjat pinang dilakukan, seolah itu adalah wujud dari kemerdekaan?, lanjutnya Ia menyebut makna dari kata merdeka adalah terlepasnya dari segala bentuk penjajahan fisik maupun pemikiran.

“Merdeka adalah berdaulat baik dari segi ekonomi, politik, sosial, hukum, pendidikan,” serunya.

Namun, tambah Rifai, fakta yang dapat kita lihat adalah berbeda. Dalam usia 70 tahun, negeri ini nyatanya belum merdeka, secara non-fisik, 2015 Indonesia semakin terjual terbukti masih dipertahankannya UU Migas, UU Kelistrikan, UU SDA, UU Penanaman Modal, yang memberikan jalan bagi penjajah untuk kembali merampok kekayaan alam Indonesia atas nama perdagangan bebas, investasi, pasar bebas, privatisasi dan hutang luar negeri.

“2015 ini, Indonesia juga semakin menderita, terbukti pemerintah berhasil mencetak orang miskin meroket jumlahnya, PHK besar- besaran terjadi, Harga premium dinaikkan atas nama Pertalite, Rupiah mencapai 14.096 per $, usulan dana aspirasi menjapai Rp 11,2 Triliun yang mana Rp12 Milyar khusus beli kasur, disaat yang sama Kekayaan alam seperti Freeport diberikan kepada Asing. Kemerdekaan dalam demokrasi hanya untuk kepentingan kapital dan pemilik modal; kemerdekaan untuk mengeksploitasi kekayaan demi kemakmuran kantong sendiri. Jadilah kemerdekaan hanya indah di sampul depan demokrasi dan angan-angan kosong hasil kamuflase para penjajah dan anteknya,” tutupnya.

Sementara itu, Koordinator Aksi Tarmidzi, mengatakan dengan dilakukannya Aksi ini, Gerakan Mahasiswa Pembebasan sebagai Gerakan Mahasiswa Intelektual dengan Islam sebagai Ideologi, merasa wajib untuk menyatakan perlawanan terhadap tirani demokrasi dan rezim pengusungnya, seraya menyeru dan mengajak seluruh elemen rakyat dan Mahasiswa untuk bersama-sama untuk Menolak Kemerdekaan Semu Ala Demokrasi- Sekuler.

“Kami mengajak seluruh elemen rakyat untuk melawan dan menggantikan sistem politik demokrasi dengan Ideologi Islam, sebuah sistem yang berasal dari Dzat yang Maha Agung, yaitu Sistem Politik Islam dalam bingkai Ketatanegaraan / pemerintahan Islam yaitu Khilafah Islamiyah,” tegasnya.


div>