KAMIS , 13 DESEMBER 2018

Gema Unhas: Indonesia Semakin Terjual dan Menderita

Reporter:

Editor:

Azis Kuba

Kamis , 03 September 2015 20:23

MAKASSAR,RAKYATSULSEL.COM – Gerakan Mahasiswa (Gema) Pembebasan Komisariat Universitas Hasanuddin menggelar Aksi Damai Refleksi Kemerdekaan RI Agustus, Kamis (3/9). Tema aksi ini bertajuk “Tahun 2015, Indonesia Semakin terjual dan Menderita” yang digelar di Tugu Universitas Hasanuddin dan diteruskan ke depan pintu satu Unhas.

Gema komsat Unhas, menggelar aksi tersebut sebagai bagian dari kepedulian terhadap bangsa Indonesia.

Orasi Ikram Sutanto, pengurus Gema Unhas, mengatakan Kemerdekaan merupakan sebuah kata yang sakti dan memiliki makna yang sangat krusial dalam sebuah bangsa.

“Merdeka adalah terlepasnya dari segala bentuk penjajahan fisik maupun pemikiran, baik ekonomi, politik, sosial, hukum, dan pendidikan. tetapi kini faktanya penjajahan secara pemikiran dan non fisik sedang menimpa kita,” kata Ikram, dalam rilis Koordinator Jaringan Gema Pembebasan Komsat Unhas, Busrah Hisam.

Ikram juga menyebut sebagai bukti Indonesia semakin terjual, ialah dimana pemeritah masih memmpertahankan UU Migas, UU Kelistrikan, UU SDA,UU Penanaman Modal yang bertentangan dengan Konstitusi dan memberikan jalan bagi penjajah untuk merampok kekayaan alam Indonesia.

“Intinya Indonesia masuk dalam jurang penjajahan gaya baru, yakni Sistem Kapitaslime Demokrasi dengan kerangka Neoliberalisme dan neoimprealisme” ungkapnya.

Sementara Ketua Gema Pembebasan Komisariat Unhas, Fitriadi Idrus, usai aksi menuturkan pernyataan sikap Gema Pembebasan sebagai gerakan Mahasiswa yang berideologi Islam, menyerukan kepada masyarakat, civitas akademika, dan seluruh elemen masyarakat untuk meninggalkan sistem politik demokrasi dan menggantikan dengan sistem politik Islam.

“Sistem politik yang kami maksud adalah sistem pemerintahan Islam yaitu Khilafah Islamiyah yang melindungi seluruh umat muslim dan nonmuslim dari penjajahan gaya baru yang mementingkan kepentingan asing” tutur Adi, sapaannya.

“Aksi ini merupakan perang Intelektual bukan perang fisik,” tutupnya.

Aksi berakhir damai yang dimulai dari pukul 16.00-17.30, di depan tugu atau bundaran unhas dan long march ke depan pintu satu Unhas.


div>