SENIN , 19 NOVEMBER 2018

Generasi Millenial dan Masa Depan Pertanian Indonesia

Reporter:

Editor:

Ridwan Lallo

Kamis , 23 Agustus 2018 12:37
Generasi Millenial dan Masa Depan Pertanian Indonesia

int

Beberapa dekade terakhir issu regenerasi petani menjadi hangat, kenapa tidak sebahagian besar kaum muda yang saat ini lebih dikenal sebagai Generasi Millenial tidak tertarik atas sektor pertanian (pertanian, peternakan, perikanan dan perkebunan) karena dianggap sektor ini kurang prestisius dengan insentif kesejahteraan masih sangat rendah dibanding sektor lain.
Posisi Penting Generasi Millenial
Generasi Millenial atau biasa disebut generasi Y yang lahir periode 1980-an hingga 2.000 an. Generasi yang lahir dan hidup ditengah kecanggihan teknologi komunikasi dan informasi. Generasi ini menjadi penting bagi sektor pertanian karena Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan potensi sumber daya yang sangat besar, baik SDA maupun SDM.
Data BPS 2013 menyebutkan 61% petani Indonesia telah berumur 45 tahun, berarti saat ini 2018 petani-petani tersebut sudah berumur 50-an tahun. Sehingga 15 tahun kedepan (tahun 2033) mereka sudah berumur 65 tahun yang artinya telah masuk kategori tenaga kerja kurang produktif. Sehingga diharapkan generasi Millennials bisa melanjutkan tongkat estapet pekerja pangan ini, sebab jika tidak hal ini akan menjadi ancaman nyata bagi ketersediaan pangan Indonesia dan dunia sebab tanpa petani tidak akan ada makanan, no farmer no food.
Bagaimana agar Generasi Millennials tertarik disektor Pertanian?
Generasi millennials lebih tertarik pekerjaan dikota-kota besar dengan orientasi gaya hidup yang metropolis, setiap saat smart-phone dalam genggaman, hidup dipedesaan apalagi bertani secara konvensinal sepertinya sangat tidak menarik bagi mereka.
Tentu ini menjadi tantangan yang berat, karena pertanian kita saat ini secara umum masih konvensional, walaupun sebahagian kecil sudah ada yang bermetamorfosis menjadi petani modern yang menerapkan kecanggihan teknologi dengan tingkat produktivitas lahan menjadi tinggi, berbeda dengan pertanian konvensional.
Pertanian konvensional pada umumnya dikelolah oleh para petani berusia tua dengan pendidikan masih sangat rendah, penerapan paket budidaya masih belum maksimal sehingga produktivitas lahan masih rendah, jalur rantai distribusi pemasaran yang sangat panjang, sebahagian besar petani hanya menjual komoditi tanpa ada pengembangan industri pengolahan untuk memberikan keuntungan tambahan.
Pemerintah, lembaga pendidikan, praktisi, pemerhati pertanian & stakeholder lain harus terus mendorong agar pengelolaan Pertanian harus lebih creatif dengan inovasi teknologi yang mensejahterakan.
Intervensi pemerintah sangat diperlukan untuk membangun iklim yang dapat mendorong terbentuknya Petani Millennials. Pedesaan harus didekatkan dengan internet, akses infrastruktur harus dibuka selebar-lebarnya, mendorong peluang pasar komoditi dan turunannya yang menguntungkan dan dukungan atas regulasi yang bisa menumbuhkan iklim investasi disektor pedesaan. Pemerintah harus hadir disini, petani tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri.
Kesejahteraan Petani Menjadi Kata Kunci
Menurut hemat saya, ancama krisis petani akibat rendahnya minat kaum Millennials atas sektor Pertanian bisa diatasi dengan menjadikan “Investasi Pedesaan” jauh lebih produktif mensejahterakan, penguatan SDM dengan penerapan inovasi teknologi Pertanian yang modern, pemanfaatan teknologi informasi dan membuka akses pasar selebar-lebarnya, bukan hanya pasar lokal tetapi nasional bahkan pasar internasional. Colek Satoimo Sulawesi, ayoo Tanam Talas Jepang.
Jika bertani bisa membuat seseorang menjadi jauh lebih sejahtera saya kira dengan sendirinya profesi ini bisa dibanggakan seperti petani dinegara-negara maju, menjadikan Petani & Pertanian tidak lagi identik dengan kemiskinan dan keterbelakangan.
Jika iklim ini sudah terbentuk, optimisme atas kaum millennials kembali ke desa membangun perekonomian dari pinggir akan terwujud. Para sarjana dan kaum muda terdidik akan menjadikan pertanian sebagai jalan hidup, bukan menggeluti sektor ini karena keterpaksaan.
Terakhir, untuk memaksimalkan potensi sumber daya untuk kemajuan kawasan pedesaan maka diperlukan pelibatan para pelaku ekonomi disektor ini dengan menjadikan “collaboration multistakeholder” sebagai model pembangunan pedesaan untuk kesejahteraan petani dan kejayaan Indonesia.
Saat Petani menemukan arah dan kita menemukan cara, maka Mari saling Menguatkan, Membesarkan dan Mendoakan !
Jika mau hidup sejahtera, jangan ragu untuk bertani. Bertani itu Keren!. (*)
Oleh: Bahtiar Manadjeng
Sekertaris Umum PISPI (Persatuan Sarjana Pertanian Indonesia)
BPW Sulawesi Selatan Periode 2018-2023.

div>