SABTU , 16 DESEMBER 2017

Generasi Pilihan

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Selasa , 25 Juli 2017 11:25
Generasi Pilihan

Prof Dr Darussalam Syamsuddin. MAg

Anak adalah generasimu, patut engkau beri rumah untuk raganya, tapi bukan untuk jiwanya. Ungkapan seperti ini sering kita temukan saat membicarakan tentang anak dalam berbagai perspektif. Baik sebagai orang tua biologis (ayah dan ibu kandung), atau pun sebagai orang tua ideologis (guru atau dosen) yang terlibat langsung dalam dalam proses belajar mengajar di lembaga pendidikan.

Setiap generasi menghadapi tantangan yang berbeda, karena waktu dan zaman juga berbeda. Semua orang tua mengharapkan anak-anaknya sukses, meskipun cara dan bentuk kesuksesan yang diraih sang anak setelah dewasa tidak mesti persis sama dengan kesuksesan yang diraih orang tuanya. Bahkan tidak sedikit di antara anak yang lebih sukses dibanding dengan kesuksesan yang dicapai orang tuanya.

Dulu, kesuksesan seorang pelajar dinilai berdasarkan perolehan prestasi belajar dalam bentuk nilai atau rangking. Kini, kesuksesan tidak hanya berhenti pada penilaian dan prestasi belajar saja, tetapi apakah dia memiliki kemampuan untuk menembus jenjang pendidikan tidak hanya yang ada di dalam negeri, melainkan pada pendidikan yang tersedia di luar negeri.

Menjadi sebuah pertanyaan mendasar apakah prestasi akademik yang dicapai oleh anak-anak kita berbanding lurus dengan pembinaan moral mereka melalui pendidikan karakter ?. Hal ini masih membutuhkan pembuktian akan kebenarannya.

Perjalanan berikut praktik hidup yang dilakukan Nabi Muhammad SAW membawa pesan bahwa suatu ketika nabi berkata bahwa “Generasi yang terbaik adalah generasi yang sezaman dengan aku, kemudian generasi sesudahnya dan sesudahnya”. Kalau demikian, apakah kita yang hidup saat ini yang tidak hidup sezaman dengan nabi, tidak bergaul dengannya dan tidak mendengarkan langsung sabda-sabdanya, apakah termasuk generasi yang paling buruk?.

Ajaran Islam menuntun bahwa meskipun kita tidak hidup sezaman dengan nabi, namun boleh jadi kita termasuk generasi yang dirindukan oleh nabi karena suatu ketika nabi berpesan “sesungguhnya aku sangat rindu untuk berjumpa dengan saudara-saudaraku”. Para sahabat yang mendengar ucapan nabi ini kemudian berkata: ya Rasulullah, bukankah kami adalah saudaramu?.

Nabi pun berkata: “Kalian memang sahabat-sahabatku, namun yang kumaksud dengan saudara-saudaraku adalah mereka yang hidup tidak sezaman denganku, tidak bergaul denganku tapi mereka tetap percaya terhadap apa-apa yang telah kusampaikan melalui sunnahku”.

[NEXT-RASUL]

Jadi yang dirindukan nabi adalah kita semua, yang hidup tidak sezaman dengan nabi tapi tetap percaya terhadap apa yang diajarkan. Karena Islam tidak berkembang kearah represif (lebih buruk), namun Islam berkembang ke arah progresif (lebih baik). Semakin hari semakin baik, semakin hari semakin cerdas, semakin hari berkembang ke arah yang positif.

Demikian pula bukti sejarah bahwa meskipun hidup sezaman dengan nabi, namun masih ditemukan orang yang tawaf tanpa busana. Tapi kini bagaimana pun bobroknya moral kita sekarang ini karena kita tidak hidup sezaman dengan nabi, tapi tidak pernah ada orang yang tawaf dalam keadaan telanjang (tanpa busana).

Hal ini membuktikan bahwa islam berkembang ke arah progresif (ke arah yang lebih baik). Demikian penting untuk meninggalkan generasi pilihan, karena nabi memesankan bahwa apabila meninggal anak cucu Adam, maka putus semua amalnya selain tiga hal.

Pertama, sedekah yang ia belanjakan. Kedua, ilmu yang diamalkan. Ketiga, anak saleh yang mendoakan.

Karena itu harta yang di bawah mati adalah harta yang disedekahkan, ilmu yang d bawah mati adalah ilmu yang diamalkan, anak yang di bawah mati adalah anak yang disalehkan. Generasi pilihan adalah generasi yang menjadi investasi akhirat bagi orang tuanya, dan menjadi pewaris para nabi dan rasul karena akhlaknya. (*)


div>