SELASA , 18 SEPTEMBER 2018

Gengsi Ketua Parpol, Tolak jadi Ban Serep

Reporter:

Editor:

faisalpalapa

Senin , 12 Juni 2017 12:35
Gengsi Ketua Parpol, Tolak jadi Ban Serep

int

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COMPemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Makassar tahun 2018 mendatang bakal diramaikan sejumlah pendatang baru.

Namun yang cukup mencuri perhatian adalah Ketua Golkar Makassar, Farouk M betta dan Ketua NasDem Makassar, Andi Rachmatika Dewi. Berstatus sebagai pucuk pimpinan di parpol masing-masing, wajar jika nama keduanya dikedepankan sebagai penantang kuat petahana, Moh Ramdhan “Danny” Pomanto.

Hanya saja beberapa pihak mulai memaketkan keduanya sebagai wakil saja atau kosong dua. Misalnya saja nama Aru–sapaan akrab Farouk M betta yang dikaitkan bakal menjadi kosong dua Danny, atau Cicu–sapaan akrab Andi Rachmatika Dewi yang belum lama ini mulai dipaketkan sebagai pendamping Rusdin Abdullah.

Hanya saja keduanya buru-buru menegaskan tetap akan menjadi kosong satu, sambil menunggu putusan partai masing-masing.
Saat dikonfirmasi, Cicu menegaskan jika dirinya melakukan sosialisasi untuk maju di Pilwalkot mendatang hanya pada posisi calon wali kota atau 01. Apalagi kata dia, pengurus NasDem maupun masyarakat mendorong agar dirinya maju sebagai calon wali kota, bukan wakil wali kota. “Dukungan untuk saya pada posisi 01, bukan wakil,” ujarnya, Minggu (11/6).

“Partai punya mekanisme tersendiri, kalau bicara paket, kita belum sampai disitu. Kita mencukupkan dukunga partai dulu,” tambahnya.

Saat ini, Cicu juga sudah mendaftar di lima parpol untuk dijadikan sebagai kenderaan menuju panggung Pilwalkot Makassar. Adapun partai tersebut antara lain, Partai Gerindra, PDIP, PAN, PBB, PKPI.

[NEXT-RASUL]

Beraninya Cicu untuk maju menjadi 01 Makassar karena telah mendapat support dari eks Wali Kota Makassar, Ilham Arif Sirajuddin.

Olehnya itu, Cicu kini gencar melakukan sosialisasi dan turun langsung menemui masyarakat untuk memperkenalkan dirinya sebagai bakal calon Wali Kota Makassar. “Keluarga pasti menjadi yang terdepan dalam memberikan support, termasuk Pak IAS,” kata Cicu.

Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) DPD Partai NasDem Makassar, Mario David menilai jika sosok Cicu sudah teruji di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi.

“Kemudian di partai politik, ia adalah sosok yang tidak di ragukan lagi, kecerdasan Cicu adalah kecerdasan yang sudah teruji,” ujar Mario.

“Seharusnya masyarakat Kota Makassar memberikan support kepada sosok perempuan yang siap bertarung. Saya juga mengharapkan kerjasama partai politik agar semakin menambah kemenangan,” jelas legislator DPRD Makassar tersebut.

Lebih jauh ia mengatakan, NasDem Makassar mengantongi 5 kursi di legislatif dan ini modal besar membangun koalisi dengan partai lain.

“Namun jika ada calon yang ingin melamar Cicu sebagai wakil dan dia bukan dari partai politik yang tidak memiliki kursi di legislatif, jangan coba-coba tawari Cicu sebagai wakil,” tegasnya.

Aru sendiri menyebutkan, untuk bargaining position, dirinya menyerahkan sepenuhnya kepada partai. “Kalau posisi itu urusan partai yang tentukan, kita hanya sosialisasi,” ujarnya.

[NEXT-RASUL]

Ia menambahkan, dirinya maju sebagai calon wali kota karena telah mendapat dukungan dan dorongan dari pengurus DPD I Sulsel dan DPP. Golkar saat ini memiliki 8 kursi di DPRD Kota Makassar. Dengan jumlah tersebut bukan hal mustahil jika mengusung kader sendiri. Oleh sebab itu, Ketua DPRD Kota Makassar ini berpendapat saat ini dirinya ditugaskan untuk bersosialisasi. “Soal paket, nanti DPP yang putuskan,” tegasnya. (*)

Pakar Politik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Andi Luhur Prianto menilai, sejauh ini Aru dan Cicu yang merupakan ketua partai lebih layak maju di posisi 01. Pasalnya, kata Luhur, kerja-kerja yang dilakukan tentunya untuk mencapai posisi wali kota dan bukan wakil wali kota.

“Sebagai pimpinan partai politik besar, idealnya memang Pak Aru dan Ibu Cicu siap tanding di posisi 01. Saya kira model-model sosialisasi sejauh ini di posisi itu,” ungkapnya.

Namun, Luhur tidak menampik bahwa, meskipun saat ini antara Aru maupun Cicu yang gencar melakukan sosialisasi sebagai bakal calon Wali Kota Makassar, tidak menutup kemungkinan nantinya akan berbelok ke posisi wakil untuk mencari aman dan kemenangan pastinya.

“Tetapi di politik, tidak sekadar gengsi dan prestise yang jadi modal bertarung. Ada juga aspek pragmatis dan realistis. Saya kira pada akhirnya nanti, setelah di ujung seluruh usaha bersosialisasi untuk 01, bisa jadi posisi 02 lebih menjanjikan kemenangan,” jelas Luhur.

Lebih jauh, Luhur menjelaskan, situasi perpolitikan jelang Pilwalkot Makassar yang kurang lebih setahun lagi masih terkesan dinamis. Sehingga, kata Luhur, pada akhirnya nanti kandidat yang berada dipuncak adalah yang mampu membangun komunikasi yang baik dengan elit partai.

“Dan yang terpenting, bahwa masing-masing pihak berusaha keras menaikkan aspek popularitas, elektabilitasnya sambil membangun hubungan baik dengan elit partai,” tuturnya.

Terpisah, Konsultan Politik Jaringan Suara Indonesia (JSI) Nursandy menuturkan, maju di Pilwalkot Makassar dengan posisi sebagai ketua partai politik memang sangat menjanjikan. Namun, hal itu bukan menjadi satu-satunya nilai tambah untuk menjuarai kontestasi demokrasi lima tahunan itu.

[NEXT-RASUL]

“Posisi sebagai ketua parpol sangatlah strategis dan punya kans besar maju dalam kontestasi politik namun tidak semua ketua parpol bisa mencalonkan diri,” ungkap Nursandy.

Nursandy menjelaskan, sebagai seorang kandidat di Pilwalkot dengan latar belakang politisi harus mengesampingkan egonya sebagai pemegang jabatan di partai. Sehingga, posisi tawar tidak lagi harus dikait-kaitkan dengan gengsi.

“Kandidat yang berlatar belakang sebagai ketua parpol harus mengesampingkan persoalan gengsi dalam menatap Pilwalkot,” tuturnya.

Bahkan, kata dia, seorang kandidat harus cerdas melihat situasi dan kondisi perpolitikan jelang Pilwalkot. Jangan sampai demi mencapai target posisi 01 banyak hal yang harus di korbankan dan pada akhirnya hanya berujung pada kekecewaan.

“Sebaiknya melakukan hitungan politik yang matang, jangan memaksakan kehendak untuk maju sebagai 01 jika popularitas dan elektabilitasnya rendah,” pungkas Nursandy. (E)


div>