SELASA , 23 OKTOBER 2018

Gila, Sulsel Bakal Panen Raya HIV!

Reporter:

Editor:

hur

Kamis , 10 September 2015 17:05

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Apabila tidak ada penanganan serius terhadap kasus HIV/AIDS, Sulsel diprediksi akan menghadapi perkembangan penyakit penyakit mematikan itu.

Hal itu diungkapkan Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sulawesi Selatan (Sulsel) Saleh Rajab press confrence terkait Pertemuan Nasional (Pernas) AIDS ke-5 yang akan digelar di Makassar, Kamis (10/9).

“Tanpa kepedulian dan pencegahan, tunggu waktunya kita panen raya HIV,” ujar Saleh Rajab.

Dia memaparkan, Sulsel menempati posisi ke sembilan jumlah Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) terbanyak di Indonesia. Saleh lalu menyebutkan data per Juni 2015 di mana terjadi meningkat ODHA hingga 9.871 orang yang sebelumnya berjumlah 9.030 orang pada akhir 2014.

“Meningkat 841 orang, di mana 70-80 persen di antaranya adalah transmisi seksual. Namun, saya yakin tidak semua orang Makassar,” paparnya.

Ironisnya, banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya terjangkit HIV/AIDS. Misalnya, kata Saleh, banyak ibu-ibu yang baru menyadari dirinya terkena HIV/AIDS setelah melakukan pemeriksaan kandungan ke dokter. “Banyak ibu yang tidak menyadari dirinya positif HIV. Itu semua bisa jadi dari suaminya. Tanpa sadar juga dia akan menularkannya ke orang lain, termasuk anaknya,” kata Saleh.

Menurut Saleh Rajab, ada empat pintu penularan HIV, yaitu transmisi seksual, tranfusi darah darurat, jarum auntik, serta dari ibu ke anak.

Sementara itu, Sekretaris KPA Nasional Kemal Siregar mengungkapkan bahwa yang menjadi perhatian pada Pernas nanti adalah kasus Lelaki Seks Lelaki (LSL) yang semakin meningkat. “Belum ada tanda-tanda persentase LSL tertahan. Malah, saat ini meningkat dari 6 persen menjadi 12 persen,” paparnya.

Ia pun memaparkan salah satu populasi kunci yang mengalami tanda-tanda penurunan adalah napza suntik. Saleh Rajab menjelaskan, kasus HIV/AIDS baru meningkat pesat pada tahun 2000-an di mana penyebarannya melalui jarum suntik.

Untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS, Saleh Rajab mengatakan, KPA berupaya menjalankan program pengurangan napza suntik yang dituangkan dalam Permenkokesra pada tahun 2007. Hasilnya, HIV mulai tertahan di kalangan pengguna bersama jarum suntik.

Selanjutnya, kata dia, mengantisipasi perilaku seks yang mulai meningkat, Indonesia mencanangkan program penanganan transmisi seksual pada 2009.


Tag
  • hiv/aids
  •  
    div>