JUMAT , 16 NOVEMBER 2018

Giliran LSI Unggulkan IYL – Cakka

Reporter:

Suryadi Maswatu

Editor:

asharabdullah

Senin , 04 Juni 2018 13:10
Giliran LSI Unggulkan IYL – Cakka

Dok. RakyatSulsel

– NH-Aziz dan NA-ASS Bersaing Ketat

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.COM – Setelah empat lembaga survei nasional merilis temuan risetnya yang mengunggulkan Ichsan Yasin Limpo-Andi Mudzakkar (IYL-Cakka) di Pilgub Sulsel selama sembilan bulan terakhir, kini giliran Citra Publik Indonesia – Lingkaran Survei Indonesia (CPI – LSI Network) yang menempatkan usungan koalisi rakyat tersebut di posisi puncak.

LSI yang dikenal salah satu “raja” survei di Indonesia yang kredibiltas dan objektivitasnya tak perlu diragukan, menempatkan IYL-Cakka di posisi teratas. Elektabilitas atau tingkat keterpilihannya mencapai 28,6 persen. Disusul Nurdin Halid – Aziz Qahhar Mudzakkar (NH-Aziz) 24,4 persen, Nurdin Abdullah-Andi Sudirman Sulaiman (NA-ASS) 23,7 persen. Sedangkan di posisi terakhir, Agus Arifin Nu’mang-Tanribali Lamo, 9,3 persen. Sisanya, menyatakan tidak tahu, tidak menjawab/rahasia.

“Ini temuan survei CPI-LSI Network yang pengambilan dan pengolahan datanya dilakukan di April 2018 dengan melibatkan 700 responden,” kata Peneliti CPI-LSI Network, Fitri Hari, saat memaparkan hasil survei lembaganya di Makassar, Minggu (3/6) kemarin.

Fitri mengurai, berdasar potret prilaku pemilih jelang pencoblosan, posisi IYL-Cakka unggul melebihi batas marjin of error dalam survei kurang lebih 3,8 persen. Sedangkan NH-Aziz dan NA-ASS yang berada di posisi kedua dan ketiga, bersaing ketat dan selisihnya di bawah 1 persen.

Meski demikian, temuan survei lembaganya tersebut sekaligus menggambarkan jika pertarungan di Pilgub Sulsel hingga akhir bakal berjalan ketat. Penentu kemenangan adalah mereka yang mampu memaksimalkan “swing voter” atau pemilih yang belum menentukan pilihan.

Selanjutnya, mengoptimalkan partisipasi di basis pemilih, serta mampu meyakinkan publik untuk melanjutkan pembangunan Sulsel dan “success story” Syahrul Yasin Limpo. Pasalnya, dari riset yang menggunakan metode multistage random sampling, lembaganya juga mengukur seberapa besar kinerja Syahrul selama 10 tahun menjadi gubernur.

“Selain meneliti elektabilitas masing-masing pasangan, survei ini juga mengukur kinerja Syahrul Yasin Limpo dan Pemprov Sulsel selama 10 tahun kepemimpin Syahrul. Hasilnya, mayoritas pemilih merasa puas dengan kinerja SYL, yakni 79,3 persen, dan puas kinerja Pemprov 76,7 persen,” papar Fitri kepada wartawan.

Kunci penting di fase sisa kampanye dan masa tenang, lanjutnya, black campaign tak lagi begitu efektif, namun kejutan memungkinkan lahir dari tim paslon yang bisa meramu tingginya persepsi publik terhadap SYL atau Pemprov Sulsel.

SYL effeck memang patut dinantikan. Setelah tidak aktif sebagai gubernur, SYL memilih bergabung bersama partai NasDem. Sepak terjang SYL terutana di kontestasi Pilgub, masih sangat dinantikan jelang pencoblosan yang tinggal menghitung hari.

Hal lain yang berpengaruh kuat, terang Fitri Hari, adalah konsolidasi dan menjaga partisipasi pemilih di zona basis. Gowa, Bone, Luwu dan Bantaeng menjadi area signifikan dalam hal ini.

Gowa hampir diyakini menjadi basis utama IYL. Setelah Makassar, Gowa merupakan kabupaten kedua setelah Bone yang memiliki jumlah pemilih terbanyak. Demikian halnya bagi Nurdin Abdullah dengan Kabupaten Bantaeng sebagai basis suara terdepan. Hampir pasti, NA berjuang all out meraih suara terbanyak di Bantaeng, meski jumlah pemilih di daerah ini terbilang kecil.

Bone patut diasumsikan sebagai zona basis suara oleh tiga figur terbaik Bone yang tampil sebagai calon gubernur dan wakil gubernur. Antara lain Nurdin Halid sebagai Cagub, serta Andi Sudirman Sulaiman dan Tanribali Lamo masing-masing sebagai cawagub.

Menurut Fiti Hari, zona basis menjadi penting bagi paslon yang pengaruh signifikan dalam penentuan peraih suara terbanyak Pilgub.

“Siapa yang optimal, maka peluang memenangkan pertarungan akan semakin besar. Partisipasi di zona basis harus dijaga,” imbuh Fitri.

Sebelum LSI, empat lembaga survei nasional lainnya juga sudah mempublish temuan risetnya yang masing-masing mengunggulkan IYL-Cakka. Seperti Poltracking, Sinergi Data Indonesia, Indo Survei Strategi, dan Jaringan Suara Indonesia (JSI).

Di samping itu, sempat beredar “bocoran” survei SMRC. Di data yang belum terkonfirmasi dari pihak SMRC mengenai kebenarannya, lagi-lagi IYL-Cakka berada di posisi pertama. Disusul NA-ASS, NH-Aziz, dan Agus-TBL.

Khusus JSI yang merilis temuannya risetnya untuk medio Mei 2018, tingkat keterpilihan IYL-Cakka hampir sama dengan temuan LSI. Namun jika mengacu pada periode survei, LSI di April dan JSI di Mei, maka terjadi kenaikan trend elektabilitas untuk pasangan IYL-Cakka sekira 1 persen selama sebulan. Begitu pun untuk posisi kedua, selisihnya dengan IYL-Cakka di atas batas marjin of error. (*)


div>