SABTU , 26 MEI 2018

Golkar Berharap Sikap Brasil dan Belanda Hanya Reaksi Sesaat

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Senin , 19 Januari 2015 09:23

JAKARTA, RAKYATSULSEL.COM – Pemerintah Brasil dan Belanda memiliki hak untuk menarik duta besarnya di Indonesia atas ketidaksetujuannya terhadap eksekusi hukuman mati terpidana narkoba terhadap warga negara mereka.

Ketua DPP Partai Golkar Tantowi Yahya mengatakan, upaya yang telah dilakukan oleh Presiden Dilma Rousseff dan Raja Willem Alexander yang juga telah berkomunikasi dengan Presiden Jokowi merupakan upaya yang sungguh-sungguh untuk melindungi warga negaranya.

“Saya menilai hal tersebut merupakan hal yang wajar. Kalau kemudian pelaksanan hukuman mati telah berimpilkasi terhadap ditariknya duta besar mereka di Indonesia, hal tersebut merupakan hak mereka,” ujar pengurus Golkar kubu Aburizal Bakrie ini, Minggu (18/1).

Tapi kedua kepala negara tersebut, sambung anggota DPR ini, juga harus menghargai bahwa pelaksanaan hukuman mati tersebut merupakan bentuk penegakan hukum yang berlangsung di Indonesia. Kata dia, akibat narkoba sedikitnya 40 orang meninggal setiap harinya di Indonesia.

“Saya kira hukuman mati untuk para pengedar narkoba tidak hanya di Indonesia, tapi juga berlaku di China, Singapura, Vietnam, Malaysia, dan negara-negara lainnya,” imbuhnya.

Terakhir, Tantowi berharap sikap kedua negara tersebut hanya merupakan reaksi sesaat. Kalau pun nantinya, penarikan tersebut berdampak terhadap hubungan diplomasi kedua negara, itu artinya pemerintahan Jokowi harus mengintensifkan komunikasi dalam kerangka menjelaskan pelaksanaan hukuman mati merupakan bagian dari penegakan hukum.

Seperi diwartakan, eksekusi terhadap enam terpidana mati kasus narkoba yang terdiri atas empat laki-laki dan dua perempuan telah dilaksanakan secara serempak di dua lokasi berbeda pada Minggu dinihari (18/1) kemarin. Lima terpidana mati yang terdiri atas Namaona Denis (48) warga negara Malawi, Marco Archer Cardoso Mareira (53) warga negara Brasil, Daniel Enemua (38) warga negara Nigeria, Ang Kim Soei (62) warga negara Belanda, dan Rani Andriani atau Melisa Aprilia (38) warga negara Indonesia dieksekusi di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Sementara eksekusi terhadap satu terpidana mati atas nama Tran Thi Bich Hanh (37) warga negara Vietnam dilaksanakan di Boyolali, Jawa Tengah.

Reaksi terhadap rencana eksekusi mati itu pun berdatangan, terutama dari Presiden Brasil Dilma Rousseff. Sebelum warganya yakni Marco Archer Cardoso Mareira (53) dicabut nyawanya oleh juru tembak, dia sudah meminta kepada Presiden Jokowi untuk tidak mengeksekusi mati Marco. Bahkan setelah eksekusi dilakukan Dilma mengancam akan memutuskan hubungan bilateral Indonesia dengan Brasil.

Sementara Menteri Luar Negeri Belanda, Bert Koenders mengatakan eksekusi warganegara Belanda Ang Kiem Soe (52) adalah sebuah tindakan yang mengabaikan kemanusiaan. (rmol)


Tag
  • hukuman mati
  •  
    div>