SABTU , 17 NOVEMBER 2018

Golkar dan Patarai Amir

Reporter:

Editor:

rakyat-admin

Rabu , 01 Maret 2017 09:50
Golkar dan Patarai Amir

int

Satu Dasawarsa lalu, Patarai hijrah dari dunia enterpreneur (kontraktor) ke dunia politik. Ia menutup pembukuannya sebagai pengusaha. Dunia bisnis perlahan-lahan ia tinggalkan. Dan memulai dunia barunya, politikus.

Modal utama Partarai berpolitik, adalah kemauan kuat turun tangan mewarnai Maros. Ia masuk ke Partai Golkar dan menjadi darah segar di Golkar.

Sejak 2009, usai ia dilantik sebagai Anggota DPRD Maros Periode 2009 – 2014, Patarai Amir.menjadi salah satu bintang di Parlemen Maros. Ia kerap bersuara lantang. Usianya ketika itu masih belia, 35 tahun. Duduk di Komisi II dan menjabat Ketua Fraksi Golkar sudah cukup.bagi Patarai Amir bicara lantang mewakili rakyat.

Dia sohib saya di DPRD — sudah satu dasawarsa kami berkenalan, bekerjasama dalam kebaikan. Sekalipun beda warna politik, kami sama-sama menganut ideologi nasionalis-religius.

Pernah suatu hari, pada Tahun 2014, saya bersama Patarai Amir bertandang ke Baitullah, melaksanakan Umroh bersama keluarga.

Di Tanah Haram, saya melihat sohib saya ini begitu khusyu beribadah. Di bawah Pancoran Emas Ka’bah, ia berdoa, dan memuja kebesaran Allah dengan suara bergetar. Air matanya pun menetes. Wajahnya bercahaya. Pada saat itulah energi spiritual itu hadir dan membimbing nasibnya.

Saya ingin cerita, soal Sohib saya ini. Di balik cerita ini, banyak hikmah di dalamnya: sebagai kawan, politisi dan juga sebagai pejabat daerah alias legislator. Inilah rona-rona hidup keseharian kami. Merawat persahabatan, berpolitik secara elegan dan melaksanakan amanah konstitusi sebagai wakil rakyat.

Keberuntungan Patarai Amir tidak datang begitu saja. PERTAMA, Ia JUJUR dalam segala hal. Ingat, tidak mudah menilai orang itu jujur, tapi selama ini, saya berkawan dekat dengan Patarai, terasa bagi saya dia jujur.

KEDUA, dia sahabat yang BERTANGGUNGJAWAB. Saya pernah satu ruangan di Komisi II dan saya menjabat Wakil Ketua Komisi II — Ketua Komisinya H.A. Husain Rasul. Patarai Amir yang sering kami sapa Andi Aso, sering mengingatkan agenda penting yang mesti dikerjakan di komisi. Bahkan ia tekun mengerjakan tugas-tugas komisi dengan baik.

KETIGA, dia seorang yang PEDULI. Jika ada kawan yang susah, dia selalu menawarkan diri membantu. Tak hanya dalam materi, jiwa preman juga melekat padanya. Jiwa preman ini dia manaje menjadi solidaritas. Jika kita diusik orang, ia tak segan membela — sekalipun harus adu jotos melawan para bandit.

Tiga karakter (Jujur, bertanggungjawab dan Peduli) yang melekat pada diri Patarai Amir, ini sudah bersyarat menjadi seorang pemimpin politik.

Dalam catatan ini, saya tak punya pretensi politik. Sekadar sebagai pengamat dan sahabat yang tak bisa menahan diri cuap-cuap. Tiga point Kepribadian Patarai Amir di atas mengantarkannya menjadi Ketua DPD II Golkar Maros Periode 2016 – 2021, dalam Musda Golkar Maros, pekan lalu.

Mengapa Patarai Amir ?

Tak elok saya koment soal irama politik Partai Golkar. Tapi soal Patarai, tak apa saya komen. Kini dia layak dikomen, karena ia sudah memenangkan pertarungan politik secara elegan. Artinya, diusung arus bawah, dan disetujui arus kuat di atas. Aklamasi.

Sahabat saya, Husain Rasul dan Rusdi Rasyid, yang semula juga menjadi calon, legowo membuka jalan menghadirkan Patarai Amir sebagai pemimpinnya. Keputusan yang tepat.

Salam cipika cipiki masih terasa hangat, tepuk tangan riuh pun bergema di Arena Musda. Patarai dengan gagah perkasa, mengibarkan panji Golkar.

Seperti itu saya saksikan di status facebook, path dan live streaming yang dibagikan melalui sosmed. Saya melihat pertarungan yang penuh kedewasaan dan bijak menyikapi perbedaan sikap. Husain Rasul alias Puang Cuceng pun tak merasa kalah. Karena selama bertahun-tahun dia berhasil membuka ruang kepada Patarai Amir sebagai kader politik yang memang kapabel menjadi pemegang tongkat estafet.

Nah. Patarai Amir, memang sedang menjemput keberuntungannya. Sejak pulang Umroh bersama Tahun 2014, di wajahnya sudah nampak aura keberuntungan. Bulan April 2014, usai penghitungan suara di TPS, Patarai Amir menjemput saya di rumah bersama Husain Rasul. “Kita ke warkop ngopi, Mas Bro!” Ajaknya.

Kami ke warkop, ngopi dan ngobrol hal-hal yang membuat kami rileks dan tertawa lepas. Kami kami kembali dilantik periode kedua sebagai anggota DPRD Maros Periode 2014 – 2019.

Setelah dilantik, saya pindah ke Komisi III. Sohib saya di Fraksi Demokrat Amirullah Nur AI ke Komisi II bersama Patarai Amir. Tiba-tiba Patarai berbisik, agar saya bertarung menjadi Ketua Komisi III. “Mas Bro, ente maju!” Katanya.

Usai rapat, saya jabat tangannya. “Bismillah! Kita kerja!”

Alhamdulillah. Seperti saya duduki kursi Ketua komisi III pada Tahun 2014 – 2015 dengan cara elegan: Aklamasi!.

Begitulah. Sejak saling mengenal, bersahabat selama satu dasawarsa, hubungan kami belum pernah terciderai. Baik dalam politik maupun di DPRD.

Memang, banyak saya berbeda haluan dengan garis politik Patarai. Termasuk pernah alot berpolemik di media ketika Pilgub, lalu — masing-masing membela jagoan partai — tapi kami menunjukkan, beda garis politik tak membuat kami ogah ngopi bersama. Di situlah keindahan dalam berpolitik. (*)


div>